Berdialog dengan Kenangan dalam buku “Perempuan Berkepang Kenangan”

Sastra (dalam hal ini cerpen) tak harus dibebani sebagai muatan. Biarlah ia mempertahankan eksistensinya sebagai ruang antara, antara fakta dan fiksi. Mungkin seperti itu juga kenangan bekerja, entah terbuat dari apa. “Terbuat dari apakah kenangan?” demikian pertanyaan Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerita. Kenangan bisa jadi entitas yang utuh dan sangat personal. Bisa membentuk seseorang sekaligus bisa menghancurkan seseorang di masa kekiniannya. Bagi seorang penulis … Continue reading Berdialog dengan Kenangan dalam buku “Perempuan Berkepang Kenangan”

Tanah Tempat Tumbuh Legenda

Angkap, laki-laki berusia 49 tahun itu menceritakan legenda ikan kutukan Sungai Janiah bukan sebagai dongeng pengantar tidur. Ia ceritakan sebagaimana ia mengisahkan hidupnya, sebuah kenyataan di masa lalu. Kota ini dibangun oleh legenda dan juga benda purbakala, 102km sebelah selatan Kota Padang. Bahkan susah membedakan mana benda purbakala, mana yang hanya legenda. Beribukota di Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar dijuluki sebagai Kota Budaya bagi Sumatera … Continue reading Tanah Tempat Tumbuh Legenda

Sebuah Zaman di Secangkir Kopi (National Geographic Traveler, September 2016)

A cup of java, sebutan untuk kopi yang mendunia. Berawal dari tahun 1893, World’s Columbian Exhibition, Chicago,  di stan Java Village ketika pengunjung berseru “a cup of java” untuk kopi arabika yang ditanam di Jawa oleh Belanda. Saya mengunjungi tempat kopi jawa itu berasal, 2 abad kemudian. Dua cangkir kopi tubruk terhidang. Uap panas mengantarkan aroma buah dan bunga menjadi satu,  berbaur dengan aroma hujan … Continue reading Sebuah Zaman di Secangkir Kopi (National Geographic Traveler, September 2016)

Pejalan

Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Harusnya saya tidur awal malam ini. Hanya tiba-tiba sebuah pertanyaan itu terngiang. Sebuah pertanyaan biasa ketika saya sharing tentang … Continue reading Pejalan

Suatu Ketika tentang Kabut

Kita hanya duduk saja, dalam kesunyian musim Menunggu kabut yang menuai janji Ia datang mengendap tanpa derap Menyusup di celah bukit, Tubuh cemara yang menggigil oleh ketidaktahuan Bukankah ia kabut yang akrab? Ada apa di balik tubuh kabut? Kamu bertanya Kujawab, ada cahaya yang menautkan kita Bukankah setiap sel diciptakan untuk menjadi pemburu cahaya? Beradu langkah untuk mendapatkan yang paling terang Tapi tahukah, Sayang? Perburuan … Continue reading Suatu Ketika tentang Kabut

Duduk di Kim Teng

Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940) Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus ke sana. Tak jauh dari situ, Jl. Karet namanya, itu pecinan tua di Pekanbaru,” katanya. … Continue reading Duduk di Kim Teng

Balinese Indigenous Wisdom Against Food Paradox

by Titik Kartitiani Ngaben. Thousands of people came, hundreds of tonds of rice during the ceremony cooked, hundreds of pounds of fruits served, dozens of pigs, all food abundance is accompanied by readings this ceremony. Is there any wasted food?     For Balinese, ceremonies such as breathing. Starting to wake up and till to bed again, there’s always the ceremony. Some of them are … Continue reading Balinese Indigenous Wisdom Against Food Paradox

Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata … Continue reading Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

oleh Cok Sawitri Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya. Titik Kartitiani, nama ini jika ditulis dapat berbeda makna dengan ketika diucapkan. Begitu pula ketika membaca judul “Perempuan Menjahit Hujan”—kumpulan cerpen dengan isi 16 Cerpen, diterbitkan dengan … Continue reading Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

Nun jauh di pulau-pulau yang hanya menyisakan koordinat, matahari (sel surya) menjadi sumber energi untuk memberi nada dari radio dan televisi yang menyala. Untuk mengubah gulita menjadi cahaya di pulau yang mengapung di perairan Indonesia. Ketika mengunjungi pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia wilayah kerja Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerap kali kita terasa ada di luar NKRI. Hanya suar dan bendera merah … Continue reading Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)