Potret Sungai di Sebuah Jendela

Senja di Kereta Yogyakarta-Jakarta, Oktober 2013
Senja di Kereta Yogyakarta-Jakarta, Oktober 2013

Aku suka datang ke kafe ini menjelang tengah malam. Lalu mencari tempat duduk paling ujung, dekat jendela yang menghadap ke tubuh sungai.

Dari sini, aku bisa melihat katedral dan masjid terbesar di kotaku berdampingan dengan damai. Dibelah sungai yang nampak berkilau memantulkan lampu merkuri yang tersisa satu dua. Malam memang lihai menyembunyikan keburukan menjadi keromantisan. Sungai yang bau menjadi lebih indah jika dilihat di malam hari. Permukaannya licin dan seksi. Continue reading “Potret Sungai di Sebuah Jendela”

Senja Dua Puluh Empat Karat

senjaAku masih suka melihat senja turun di luar sana. Hingga kini. Puluhan tahun berselang. Setelah senja terakhir yang kita lihat dahulu. Senja yang selalu kita saksikan dari bukit – bukit pasir di pabrik peleburan aspal, samping desa kita. Senja itu, katamu senja paling indah yang pernah kau saksikan. Cerobong asap, molen, truk – truk raksasa pengangkut pasir menyala terang. Continue reading “Senja Dua Puluh Empat Karat”