Serbuk Senja

Angin senja datang mengetuk jendela rumahku. Cukup keras, meniup gorden dan menghamburkan daun jambu kering ke dalam rumah. Dengan langkah berat setengah terseret, kututup jendela itu. Ah, rupanya angin tak sendirian, ada awan yang menyertainya di kejauhan. Semoga kemarau kali ini segera berakhir, kemarau yang mengeriputkan daun – daun. Mengeriputikan usia.

Tiba – tiba mataku terpaku di jari manisku yang susah payah menarik kusen jendela yang mulai berkarat. Kilau cincin permata merah saga yang melingkar di sana itu memaksaku ingatanku, beranjak dari kursi malas dan hinggap di sebuah fragmen puluhan tahun silam. Senja, perempuan tua dan cincin merah saga ini.

Aku melihat perempuan tua itu menyeberangi gerimis senja. Perempuan yang sudah memasuki waktu senjanya. Ada helaian perak di rambutnya. Terkulai jatuh di pelipis yang juga bergaris. Tulang belakangnya kehilangan sedikit masa, tak kuat menegakkan tubuh. Jalannya pelan, telapak kakinya enggan bersua aspal. Kami tak saling kenal. Dia perempuan, dari sekian perempuan yang lalu lalang, yang begitu saja menyeberang di zebra cross depan toko kue tempatku berbelanja. Matanya tak lagi mampu menangkap laju kendaraan. Telinganya terlalu rapuh untuk mendengar murka klakson. Iba, maka aku menuntunnya. Jemari kami bertemu.

“Ah, kamu punya jari yang cantik, Nak,” katanya. Aku menunduk, tersipu. Kilauan cincin permata merah saga melingkari pesona. Dari keping hati di sudut lain, yang menyadari kecantikan jemariku. Yang sebentar lagi merengkuhku dalam perjanjian suci. Bersanding seperti senja melengkapi hari. Mungkin. Kuraih jemari keriputnya. Kami melangkahi garis hitam putih pelindung para penyeberang. Gigil yang kurasakan begitu dekat. Sangat dekat. Lekat.

Gigil itu melekat hingga ke seberang jalan saat punggungnya menjauh. Lalu aku beranjak melangkahi waktuku sendiri. Langkah muda yang cepat, lindap. Hanya terdengar gerimis itu. Samar, lalu semakin tebal. Sebutir air melompat dari alurnya, hinggap di jemariku. Di samping cincin permata merah saga yang kini juga bersua senja di akhir Ramadhan nan suci. Bersua dengan usia senjaku. Yang coba kugerakkan, terasa ngilu di sambungan tulang. Kata dokter, aku sudah terkena asam urat.

senja telah datang

lampu jalan telah menyala

akan kemana kaki kembara

di setiap stasiun dan peron

arah berhenti sejenak

nunggu malam gemintang datang

di manakah engkau

seperti sepucuk surat tanpa alamat

berkata tanpa bersua *

***

Kembali aku duduk, masih di dekat jendela yang mulai suram oleh awan. Terdengar senandung dari surau. Hari kemenangan begitu bumi ini memperingati akhir Ramadhan. Kemenangan pada apa ? tanyaku pelan. Hari terakhir ini ternyata aku batal puasa, karena tubuhku lemah entah kenapa. Ya tinggal hari terakhir, tapi aku tidak bisa menuntasinya. Tapi apakah kemenangan ditandai hanya sekadar jumlah. Karena bagiku, puasa tahun ini begitu berarti karena seakan melahirkanku kembali dari duka yang tanpa alamat. Sudahlah. Aku mencoba tersenyum, menatap deretan toples dan kue – kue lebaran yang bening. Mencoba menepis kesepian dengan janji kedatangan tempo hari.

“Saya akan pulang sehari menjelang Lebaran. Tunggu saya dengan toples kacang telur, seperti dulu,” katanya jauh di seberang lautan, beberapa minggu silam. Lebaran, benarkah engkau benar – benar pulang, lelaki kecilku?

***

Angin semakin kencang mengantarkan buliran gerimis meloncati bingkai jendela. Nakal sekali. Kututup tirai untuk menghalangi. Tak begitu rapat, karena aku masih ingin berharap akan sebuah kedatangan. Sembari menikmati gerimis di senja yang mulai berkarat. Ah, mungkin dengan secangkir teh.

Lima langkah dari jendela, kakiku terengah seperti melintasi lapangan bola. Kuletakkan cangkir blirik. Serbuk teh broken pekoe segar dari pabriknya. Tanpa gula. Air panas mengapungkan ke permukaan. Tidak hitam seperti teh celup. Tapi kenikmatannya nyata. Senyata senyum di bingkai itu. Seorang laki – laki muda yang sedang bersedekap dengan baju musim dingin. Bersandar di papan bertuliskan Universiteit Maastricht. Aku suka menatap matanya. Seperti menatap diriku. Rindu semakin mencekik.

Cangkir teh yang bergoyang di tangan kanan bergeser pelan. Sandal rumah menyapa petak demi petak ubin. Kubuka pintu gebyog dengan tangan kiri. Pyuh, angin lembut menyapa helaian rambutku. Beberapa berwarna perak. Denting gerimis semakin bening. Kuletakkan berat tubuhku di kursi rotan sembari menyeruput kehangatan teh. Pelan kuletakkan cangkir di meja kecil yang kemudian menopang kakiku yang selonjor. Gerimis tak berhenti, akankah kau datang bersamanya ?

Jarang sekali alam menjawab pertanyaan dengan serta merta. Kali ini berbeda. Sebuah VW melintas ditingkap gerimis itu. Lalu berbelok ke arah pintu pagar kayu yang tak pernah dikunci. Tiba – tiba Mrs Lemot, si kucing tua melesat keluar. Laju yang bukan sedang berburu. Kucing itu mengangkat ekor dan mengibaskannya. Ngeong girang, selamat datang.

Kaca mobil yang basah membuka pelan. Sosok tubuh berjingkat menepis basah, jelas sekali ia kalah. Tetesan air mengalir dari anak – anak rambut ketika ia meletakkan koper coklat yang mengukir air. Aku lupa masih bersama asam urat di tiap ruas sendi. Kuat sekali aku berdiri, memeluk hangat, menepis dingin cuaca. Lelakiku berdiri di pintu hatiku, pintu rumahku. Ya, kau lelakiku kini. Bocah kecil yang dulu berlari di tingkap gerimis, kini sudah menyediakan dada bidang tempat bersandar perempuan renta ini.

“Kamu kelihatan lebih kurus,” ucapku, antara rindu yang berwujud. Kami berjalan masih dalam pelukan. Kuraih kerudung yang tersampir di kursi lantas keselimutkan ke tubuhnya. Dulu aku selalu melakukannya usai ia bermain hujan dengan gedebog pisang. Kini ia menepisnya.

“Ibu, aku sudah biasa menghadapi salju,” katanya dengan tersipu. Sungguh waktu mengunyah usia tanpa terasa. Lupa kurasa, usiamu sudah akan berkepala tiga. Mata kami sama – sama tertumbuk ke satu frame kayu eboni. Foto keluarga. Ada aku, ayahmu dan kamu yang tubuhnya masih lurus, belum membentuk kurva. Kepalamu menggeleng dengan tawa berderai.

“Kusiapkan kopi kesukaanmu, sebentar lagi magrib,” kataku beranjak pelan. Ia mengangguk, wajahnya tak lepas dari frame demi frame yang tertempel di tembok. Mereka sudah lama sekali menghuni tembok itu. Berapa puluh takbir engkau lewatkan, sayangku ? Tentunya kini engkau tak lagi menyulut kembang api dan melemparkannya di pohon sawo depan rumah kita. Kembang api yang hanya aku belikan saat malam Lebaran tiba.

***

Di luar sana, maghrib berkumandang di susul takbir malam mengagungkan asma-Nya. Riuh gembira menjadikan rumah ini kembali punya nada. Irama air panas yang mengucur. Suaramu menanyakan berapa anak kucing di rumah ini sekarang. Denting sendok beradu dengan cangkir. Kau katakan sekarang musim tulip di Belanda. Aroma kopi kental mengajakmu duduk di meja itu. Meja tulis yang sudah bocel di sana sini, tempatmu dulu belajar sampai tertidur.

“Kopi arabika dari Kalosi, kupesan dari pamanmu minggu lalu, setelah kau menelepon mau pulang.”

Cairan hitam itu menyapa bibirmu. Matamu terpejam. Kau rasakan kopi yang sedikit asam, full body dan aromanya membawamu selalu ingin kembali ke tanah ini. Kukira.

“Terima kasih, Ibu selalu paling cantik sedunia,” katamu sembari mengangkat cangkir itu. Kucubit lengannya yang kenyal. Lelakiku sudah bermetamorfosa. Ia bercerita tentang salju, tentang tulip, tentang waktu yang lepas dari porosku. Kadang – kadang wajahmu serius, kadang – kadang tertawa. Keripik di toples pun turun pelan permukaannya. Jarum jam bergeser pelan. Langit masih dihuni gerimis. Bulan pun enggan datang.

Kembali kau seruput kopi yang mulai dingin. Lalu kau lepas sepatumu. Tanganmu melepas kaos kaki yang mulai kering sembari mengelus si Lemot, kucing kampung yang mulai rabun. Apapun darahnya, kelincahan kaki mudanya pernah menemanimu main basket di single ring samping rumah. Ring itu sudah rontok beberapa tahun lalu. Lantai semennya sekarang penuh dengan pot bunga melati. Berharap harum itu kembali menyapa. Harum yang sempat menjadikanku perempuan paling beruntung di muka bumi. Haruskah melati mengais wanginya ? Dari cermin yang memantulkan meja, kulihat wajahku mulai gerimis. Ada dingin yang mengalir pelan dan segera kutepis. Aku tidak ingin terganggu dengan kehadirannya kali ini. Biarkan hangat itu. Biarkan rindu itu. Tapi aku tahu takkan lama.

“Ibu, aku mau menikah di bulan Syawal,” katanya. Gerimis di wajahku pecah jadi hujan. Aku tidak ingin menangis. Tapi ada air mata di sana. Kupeluk erat tubuhnya. Ingin begitu, tanpa ada waktu. Tapi waktu itu ada dan berlari tanpa kenal lelah. Sudah waktunya kau menikah, aku tahu itu.

“Sudah saatnya sepatu basah diganti dengan sandal yang kering,” jawabku mengangkat sepatunya.

“Aku ingin menikah, Ibu,” katamu lagi, lebih tegas. Kuletakkan sandal kering dan hangat di kakinya. Aku tak ingin mendongak.

“Rambutnya panjang. Senang berkebun. Senang bunga melati, seperti ibu. Dia arsitek, bapak pasti senang.” Aku masih menunduk. Aku suka melati, itu dulu. Dulu sekali, ketika semuanya masih seperti impian sederhana gadis biasa. Yang tak mengenal cinta rumit dan berbelit.

“Bapak pasti senang. Dimana Bapak ?”

Aku menggigit bibir keras sekali. Luka. Rasanya asin sedikit amis. Aku tak ingin melihat wajahmu. Aku hanya berani menatap foto keluarga itu. Ada aku, ayahmu dan kamu yang tubuhnya masih lurus, belum membentuk kurva. Ayahmu yang masih ada di sana dengan bertangkai – tangkai melati yang berbunga hanya untukku. Tidak hati lain.

“Bapak tidak di rumah lagi,” kata sedih yang nyaris tak kukenali bahwa itu keluar dari tenggorokanku. “Sudah 6 bulan ini…” Sisa teh keteguk sekuat aku bisa. Sudah dingin, tak bisa hangat lagi. Kau gulung kemejamu ke arah siku dengan serampangan. Lalu kamu berdiri di antara bingkai itu, di antara pilar yang sudah lama rubuh.

“Enam bulan ? Tidak pernah Ibu cerita. Limburg terlalu jauh untuk mendengar masalah ini? Lewat telepon sekalipun”

Andai aku bisa, menelan kawat berduri utuh sembari menyampaikan cerita ini ke negeri seberang. Di mana kau berada. Aku ingin tulip di wajahmu selalu mekar tanpa luka. Aku ingin itu. Luka biar disimpan oleh Indonesia yang sudah piawai menyimpannya.

“Kami telah berpisah. Enam bulan yang lalu.”

Sebenarnya perpisahan itu sudah tiga puluh enam bulan. Ketika senja dan hari tak lagi saling melengkapi. Aku bukan lagi pemilik sah melati itu. Bahkan melati yang dulu kutanam sendiri.

“Lalu dimana Bapak tinggal ?”

“Bersama istrinya, sejak setahun lalu.” Rahang itu mengeras. Otot – otot di dahinya kentara sekali berebut untuk menghantam. Wajahnya menyala oleh rasa tak terima. Api. Dari mana datangnya ?

“Sudah waktunya. Bukankah semesta juga punya senja ?” kataku memanggil dingin. Yang kubasuh di wajahnya. Sudah cukup aku punya kau. Rahang itu kembali membentuk wajahnya yang lembut. Lututmu beradu dengan lantai. Tubuhmu jatuh di dekapku.

Di luar sana, gerimis mulai bosan merintik. Digantikan hujan semakin keras menyambar jendela. Kerai di luar terombang-ambing angin. Takbir samar terdengar, mencoba bertahan di deru hujan. Serbuk senja beterbangan, berkilauan bersaing dengan jubah malam. Bersaingkah ? Adakah pemenangnya ? Adakah yang kalah ? Bagiku, hidup bukan sekadar pertaruhan menang atau kalah. Tapi sebuah perjalanan ke dalam diriku dan diri-Nya. Pun ketika cincin merah saga ini masih kubiarkan memeluk jari manisku, saat  si pemberi sudah memeluk jari manis yang lain, aku tak merasa kalah. Justru aku merasa menang, hanya karena telah mencintainya di saat panas dan hujan. Tidak banyak yang punya kekuatan cinta seperti kegigihan serbuk senja untuk datang lagi dan datang lagi, walau hitam malam selalu menghapusnya.

(Titik Kartitiani)

Catatan : *penggalan bait puisi karya Dharmawan Handono WarihImage

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s