Playing With The Parachute Seeds

Dandelion is  the wild flower that I love so much. I love its parachute seeds. The traveller seeds, a romantic way of seed dispersal. I keep the idea to take the pics of dandelion seeds for a long time. On Saturday evening, last January 25,  I did it with my daughter (in fact with my husband and my brothers, but they were more interested to … Continue reading Playing With The Parachute Seeds

UGD Suatu Sore…

“Ayo, Ibu berdoa. Biar panas cepat turun,” katanya memohon. Mau tidak mau, saya semakin trenyuh. Bahkan tanpa kamu minta, doaku selalu hadir di setiap tawa dan tangismu. “Ibu sudah berdoa belum? Kenapa tidak sembuh-sembuh?,” katanya sambil menunggu dokter datang. Bukan begitu cara kerja doa. Minggu pagi, ia mulai rewel. Tidak biasanya. Sampai kemudian, panasnya meningkat dengan cepat. Beberapa acara Minggu itu terpaksa dibatalkan. Tanpa pilek, … Continue reading UGD Suatu Sore…

Karena Hujan, Menghapus Jejak Duka Yang Tertinggal

Kemarin hujan turun dari semalam, hingga pagi tak berhenti. Ia mengeluh, aduhhh hujan lagi. Alam tampak sibuk, dan belum istirahat. Sepatu hitam kemarin belum kering. Mesti memakai sepatu pink cadangan, karena sepatu hitamnya hanya satu. Sedangkan seragam sekolah warnanya hitam. Ribet sekali memakai raincoat dan naik motor. 09.30 AM. Saya lupa! Karena terlalu asyik mengetik, lupa jika Jumat, pulangnya pukul 09.00. Meraih raincoat serampangan, langsung … Continue reading Karena Hujan, Menghapus Jejak Duka Yang Tertinggal

Kamu Cantik Hanya Karena Kamu Anak Ibu

“Sausan tidak mau sekolah, semua tidak ada yang teman. Hanya Hari Senin saja yang teman, lainnya tidak,” katanya. Itu awal dari ribetnya berangkat sekolah beberapa minggu lalu. Sampai kemudian tercetus,” Sausan mau putih. Sausan mau cantik biar ada yang teman di Hari Selasa-Sabtu.” Ternyata, ada satu anak yang lumayan besar fisiknya, berpengaruh dan yang jelas termakan iklan. Ia tidak putih (seperti tisu basah), tapi entah … Continue reading Kamu Cantik Hanya Karena Kamu Anak Ibu

Surat Kecil dari Sausan

January. 18. 2014. 06.00 AM Pyaaarr!!! Suara keras sekali di dapur yang membangunkan saya. Ayahnya lagi di depan rumah. Saya ke dapur, bocah kecil itu berdiri dengan ketakutan. Di lantai, beling berserakan. Karena bangun tidur yang baru sejam, kepala saya sungguh pening. Wajah yang tertekuk itu bikin bocah kecil itu semakin memucat. “Maaf Ibu, Sausan sudah hati-hati. Tapi gelasnya lepas. Dua-duanya,” katanya mau menangis. “Kenapa … Continue reading Surat Kecil dari Sausan

Gladiator

Sebuah pertemuan, di sebuah tanah lapang yang luas. Dipagari bukit dan hijau yang demikian gembira. Tapi sebuah pertemuan, adalah pertaruhan. Mata menatap mata. Taji beradu taji. Menjadi menang atau pecundang, nasibnya sama. Sesaat dipuja, lalu terkapar di pisau dapur. Tapi kami para gladiator. Tarian kematian dan darah adalah hidup kami. Semua dilahirkan untuk mati. Kami tak memilih mati sebagai pejantan di ranjang betina. Atau mati … Continue reading Gladiator

Tentang Kedai Kopi yang Menghadap Hujan

Sebelumnya, terlalu berlebihan bila saya bercerita soal ini. Sebuah karya yang entah bagaimana nasibnya. Tapi sebenarnya, nasib selanjutnya dari karya itu, bukan lagi tujuan utama. Saat berhasil menyelesaikannya, sudah cukup untuk mengalungkan medali ke diri saya sendiri J Soal menulis fiksi, menang di lomba atau dimuat di media mainstream bagi saya bukan tujuan utama. Walau kalau dimuat dan menang, ya tentu lebih senang. Apalagi dapat … Continue reading Tentang Kedai Kopi yang Menghadap Hujan

Kanvas Hijau yang Dilukis Waktu

Jikalau ingin membuat meja, kita membutuhkan kayu. Untuk mendapatkan kayu, kita butuh pohon. Untuk menumbuhkan pohon, kita butuh tanah. Sedangkan untuk membuat tanah, kita butuh Dia. Syair di atas berasal dari seni grafis karya Sunaryo yang terinspirasi dari nyanyian seorang anak kecil di Italia. Nada dengan bahasa asing yang awalnya tak dipahami, lantas dilahirkan kembali oleh Sunaryo menjadi tulisan. Puluhan tahun kemudian, Pak Naryo, demikian … Continue reading Kanvas Hijau yang Dilukis Waktu

Jejak Tanah

Yang masih tertinggal saat hujan baru saja pergi Meninggalkan jejak di kursi taman Berupa lumut yang sudah menghijau Tanpa sentuhan tanganku dan tanganmu Seperti kala itu Kita pernah di sini Bercerita tentang peta – peta perjalanan Ingin benar engkau temukan jawaban dari garis – garis usang legenda itu Bagaimana matamu bisa membiru sementara legam tanahmu Siapa dirimu, wahai sepasang mata yang memberiku tanda tanya Pada … Continue reading Jejak Tanah