Kebun Ajaib Itu…

BarringtoniaAda beberapa tempat yang ingin saya kunjungi untuk sekadar merenung. Kalau yang jauh itu hutan (semalam saya mimpi motret asap mahameru, aneh juga), toko buku (saya suka melihat deretan buku – buku, membayangkan banyak sekali pemikiran berdiam di tiap kotaknya) dan kebun kebun ini, dua hari lalu.

Bertemu dengan pemiliknya yang langsung menawari saya satu sisir pisang untuk dihabiskan (buah ini selalu ada di meja tamu), beliau menanyakan mau meliput apa. “Saya ingin jalan – jalan di kebun Bapak, sudah lama saya tidak main,” kata saya. Begitulah, saya dibonceng sepeda motornya ke kebun itu. Sepanjang jalan beliau menanyakan ini itu, seperti biasa termasuk Mas Rahardi apakah masih belum berevolusi (dengan tidak punya HP- sekarang, 2011, Mas Rahardi sudah punya HP :). Saya katakan, Mas Rahardi sekarang evolusi sudah lebih jauh dibanding Bapak, sekarang beliau sudah punya Facebook dan always update. Nah loh?!

Sampai di kebun, ia menununjukkan proyek impiannya tentang kayu gaharu.

“Makhluk ini pembunuh mimpi, kamu harus foto ini,” katanya sembari membalik – balik tanaman yang meranggas. Begitu tersibak, sontak tenggorokan saya tersumbat dan lutut saya lemes. Ini efek kalau saya melihat benda meruntuhkan mental setelah pacet yaitu apapun yang kecil, berkerumun, banyak dan bergerak. Ratusan, kalau ditotal ribuan ulat di balik daun gaharu. Menebalkan mental dan menahan badan yang merinding abis, saya coba mengambil close up makhluk2 itu. Kalau bisa memilih, saya mending motret gigi harimau sumatera.

Ratusan pohon gaharu yang ditanam sejak tahun 1988 untuk percobaan inokulasi (menghasilkan getah gaharu yang mahal itu) di kebun itu habis sudah. Sekalipun belum pernah mendapatkan hasil dari ketekunan itu. Andai petani yang menanam ini, bagaimana mimpi tidak terbunuh dengan sadis.

“Kenapa tidak disemprot dengan insektisida, Pak ?”

“Kalau aku semprot ini kan banyak sekali. Bisa mati memang, tapi mikroba, serangga yang tak berdosa bisa mati juga.”

“Berdosa masuk neraka dong Pak”

“Hahahaha, kamu ada – ada saja. Hah, iya..masuk nerakanya serangga. Tapi sebenarnya berdosa itu kan yang bikin manusia. Ulat – ulat ini kan baik – baik saja, makan makanannya. Hanya makan daun gaharu dan mahkota dewa yang satu marga. Toh dia tidak makan roti unyil. Masalahnya karena populasinya terlalu banyak karena tidak ada yang mengendalikan, makanya jadi hama. Kalau disemprot dengan insektisida, akan semakin membunuh pengendalinya. Hah…kacau. Ini lihat, mulai ada parasitnya kan ?” katanya sembari menunjukkan seekor ulat yang sekarat ditumbuhi jamur. Alam memang akan memulihkan keseimbangan, walau itu baru seekor dari ribuan ulat yang menyerang.

Itu hanya salah satu kegagalan di kebun ini. Masih banyak cerita kegagalan yang mengiringi kesuksesannya, termasuk ketika saya mendokumentasikan pemusnahan ribuan silangan aglaonema yang gagal di bawah hujan. Ribuan jumlahnya, hanya satu dua yang bisa menghasilkan uang. Barangkali di luar sana hanya memberitakan, bahwa kebun ini pernah mencetak tanaman yang satu pot harganya 0,6 M.

Ketika di luar sana riuh memberitakan angka rupiah (termasuk saya), ketika naik. Orang pun berlomba berpaling padanya, berlomba ikut usaha buka toko tanaman, menjamur. Beliau tetap menyilang, tetap naik sepeda motor dengan tanaman di pundaknya. Ketika rubuh, ketika orang – orang mulai berpaling, beliau tak terpengaruh. Tetap menyilangkan, tetap memerhatikan setiap gerak daun, mikroba, jamur yang mendiami relung kebun itu.

Betapa bangganya beliau tunjukkan pada saya bahwa laporannya pengamatan tentang pemencaran biji talas oleh musang itu digunakan sebagai referensi ilmuwan dunia, P.C Boyle, J. Bogner dan S.J Mayo dalam buku The Genera of Araceae. Namanya pun hadir di banyak buku referensi tanaman yang dibikin oleh ilmuwan dunia. Termasuk  Orchids of Sumatra yang saya beli setelah menghitung rumit itu, yang tebalnya 3 x Orchids of Java.

“Lha, kamu beli toh, kenapa kamu tidak bawa ini saja,” katanya (huks, sesak napas).

Kebanggaan bisa berwujud banyak sekali, tapi darinya saya belajar tentang ketekunan yang seakan tanpa batas. Hasrat untuk terus menggali ilmu pengetahuan tanpa kenal lelah, tanpa kenal usia, tanpa tahu akan menghasilkan angka berapa nominal, tanpa tahu akan diberi satya lencana karya satya atau tidak. Andai saya bisa merawat spirit dalam diri ini untuk bisa sesubur spiritnya di kebun itu…

Saat Bunga itu Mekar Perlahan

Mendung sudah sedari tadi menyelimuti kebun itu. Petir menyalak di atas daun – daun palem. Saya tetap menunggu di bawah pohon yang tegak tanpa cabang. Saya menunggu katanya bunga Barringtonia dari Timika akan mekar sempurna menjelang senja.Hadiah untuk serangga malam.

“Nanti fotomu akan bagus,”katanya. Benar saja, ketika jarum jam di angka 6, bunga itu mekar dengan sempurna. Mahkotanya tegak seperti bintang. Puluhan frame saya ambil lalu pontang – panting menerobos duri salak menghindari hujan. Tiba – tiba beliau keluar dari semak – semak sembari memanggul pupuk kandang.

“Ke sini lihat sini, saya temukan buahnya. Kamu harus foto. Bagus sekali. Kasuari yang membawa buah – buah ini sampai menyebar. Sayang, kasuari tidak melakukan seleksi makanya keragaman bunganya tinggi…” ujarnya bersemangat. Yang terpikir dalam benak saya hanyalah mendapatkan foto itu tanpa kamera basah.

Berlomba dengan hujan, beliau bersikeras mengantar saya dengan sepeda motornya sampai terminal Baranangsiang. Melewati jalan sempit, gelap dan menanjak. Bismillahirrahmanirrahim.

“Wah, kamu berdoa ya”

“Iya Pak, mengingat Bapak habis jatuh dari motor, bukannya jalan ini jadi lebih seram”

“Ha haha ha, begitu ya” Sreet gubrak. Untung hanya spion dan roda depan.

September.20.2010

Gregori G. Hambali
Gregori G. Hambali
Advertisements

2 thoughts on “Kebun Ajaib Itu…

  1. Wah, jadi Mbak Titik ngeblog juga? aih selalu suka membaca tulisanmu, Mbak. Sentimentil dan membuat berpikir..
    Yah ketika orang lain mengelu-elukan sebuah sukses, di belakangnya tak terlihat beberapa kegagalan, kepahitan dan kepedihan hati untuk sampai di titik sukses itu..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s