Kanvas Hijau yang Dilukis Waktu

1Jikalau ingin membuat meja, kita membutuhkan kayu. Untuk mendapatkan kayu, kita butuh pohon. Untuk menumbuhkan pohon, kita butuh tanah. Sedangkan untuk membuat tanah, kita butuh Dia.

Syair di atas berasal dari seni grafis karya Sunaryo yang terinspirasi dari nyanyian seorang anak kecil di Italia. Nada dengan bahasa asing yang awalnya tak dipahami, lantas dilahirkan kembali oleh Sunaryo menjadi tulisan. Puluhan tahun kemudian, Pak Naryo, demikian pelukis, pematung dan mantan dosen ini disapa, menyanyikannya kembali ketika kami mengunjungi kebun sekaligus studionya di kawasan Dago, Bandung. Saya tak bisa menirukan sebaik Pak Naryo, tapi bisa merasakan bahwa syair tersebut mengisyaratkan kedekatan pada Semesta. Syair yang bisa dinikmati di setiap sudut kebun itu. Kebun yang menjadi hibernaculum, ruang hibernasi. Berlindung dari lingkungan yang tak mendukung, memulihkan energi dan melepaskan kembali dalam bentuk karya – karyanya.

Taman yang Tumbuh Seperti Bambu

Lorong dengan instalasi batu itu menjadi gerbang masuk ke kebun seluas 1,5 hektar. Peletakan batu, koral dan stepping stone mengingatkan kita seperti taman zen. Sebuah kebersahajaan yang tak ingin memisahkan dari tatanan keaslian alam. Tangan manusia hanya menirunya, lengkap dengan materi dan desainnya.

Batu adalah unsur alam. Kalau kita masuk ke lorong itu, kita akan menemukan suasana alami yang jauh beda dengan suasana dari mana kita datang Selebihnya jajaran batang – batang bambu yang membawa kita ke rumah dan beranda yang terbuat dari bambu juga. Bagi masyarakat Sunda, bambu tak lepas dari kehidupan mereka. Dari mulai kelahiran tatkala memutus tali pusat, sunat, mencari air, membangun rumah hingga mengakhiri perjalanan di liang lahat selalu memakai bambu. Kisah tersebut menginspirasi kehadiran bambu di taman ini.  Sebagai simbol ketidaklepasan manusia dari pohon, dari alam. Sekaligus makna tanaman bambu yang lentur dan mudah dibentuk. Seperti taman ini, yang tak kaku karena rancangan. Taman yang tumbuh, seiring dengan perjalanan seni sang pemilik.

Pak Sunaryo
Pak Sunaryo

Di beranda itu, kami duduk di balok kayu yang dipahat sederhana menjadi tempat duduk yang nyaman. Di belakang kami, pohon ketapang sedang menggugurkan daunnya yang berwarna kemerahan. Berlatar suara gemericik air dari kolam kecil, Pak Naryo berbagi cerita tentang kebunnya. “Saya tidak merencanakan bahwa studio saya akan jadi seperti sekarang ini,” kenang Pak Naryo. Punya tanah di sini pun tidak direncanakan. Awalnya hanya karena ada tetangga yang ingin menjual tanah untuk biaya berobat ke Singapura. Lantas, semakin lama semakin luas, di mana tetangga kanan kiri pun turut menjual. Sampai akhirnya, terkumpulah 1,5 hektar.

“Suatu hari, teman saya punya meja kayu bagus. Menawarkan kepada saya, saya minat. Hanya saja, lama tidak saya ambil karena tak ada tempat. Di galeri (Selasar Sunaryo Art Space) jelas tidak cukup. Akhirnya saya bikin bangunan ini. Untuk meletakkan meja itu,” kata Pak Naryo menjelaskan bangunan bambu tempat kami mengobrol. Selain itu, alumni Marble Technology, Itali ini membutuhkan tempat yang tenang untuk melukis. Karena itu, tanah ini pun disulap menjadi studio melukis. Beberapa bangunan didirikan di sini, termasuk rumah panggung dengan atap limas khas pantura berdiri di seberangnya. Bangunan terakhir adalah kolam renang di bagian bawah. Karena Pak Naryo harus olah raga setelah 3 ring dipasang di saluran jantungnya. Begitulah, taman ini ‘tumbuh’ sesuai dengan perjalanan sang empunya.

Pernah Menjadi Peracang Taman

Barangkali, tak banyak yang tahu bahwa Pak Naryo dulu pernah menjadi perancang taman atau arsitek landskap. “Ceritanya waktu saya masih mahasiswa. Waktu itu masih era kabinet 100 menteri di mana salah satu menteri sedang membuat rumah. Arsiteknya teman saya. Saya ajukan konsep tentang taman yang mengambil inspirasi dari alam pedesaan. Wah, ternyata konsep saya disukai. Ya, jadilah saya mendesain taman besar,” kenangnya.

Taman yang diajukan kala itu bukan sekedar taman dengan banyak bunga. Konsep yang menghadirkan sekelumit masa kecil Pak Naryo di pedesaan Banyumas. Taman dengan petak – petak tanaman singkong. Setiap kali menyiram dan merawat, bukan hanya keindahan yang didapatkan tetapi juga makanan berupa singkong rebus yang terhidang dari kebun.

Setelah taman itu, Pak Naryo membuat taman lain. Hanya saja, panggilan hatinya tetap melukis dan menjadi pematung sesuai dengan pendidikan formalnya. Beberapa karya patungnya bisa ditemukan di taman ini sebagai artwork yang menawan. Selebihnya, adalah keseluruhan dari kebun yang bercerita tentang perjalanan karya Pak Naryo.

2Sebelum kebun ini, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) lebih dahulu berdiri. Sebuah ruang untuk mengekspresikan seni dalam berbagai media. Ragam karya yang dipamerkan di galeri yang tersedia, pertunjukan yang digelar di amphiteater, ilmu yang didapat melalui toko buku sampai obrolan hangat di Selasar Cafe. Semua itu terangkum dalam satu tempat di Selasar Sunaryo Art Space.

“Tahun 1993, rencananya saya ingin buka museum. Tahun 1995 bangunan itu selesai, tahun 1998 museum itu akan diresmikan. Tempat untuk memamerkan sesuatu yang bernilai. Hanya saja, saya melihat di depan mata, nilai manusia sama sekali tidak dihargai. Banyak sekali korban. Lalu untuk apa lukisan ?” kenang Sunaryo. Pembukaan galeri itu menjadi terkenal karena keseluruhannya terbungkus kain hitam. Bukan saja lambang duka, tapi lebih pada monumen kekecewaan pada negeri ini. Kata Pak Naryo, “Saya mengambil 15 bal kain hitam untuk membungkus semuanya, malam sebelum pembukaan. Saat saya menarik ikatan kain itu, bunyi kkreeekkkkk….seperti semuanya terlampiaskan.”

Bermuara ke DIA

3Pembukaan SSAS seakan menjadi titik nadir perjalanan seni Pak Naryo. Sejak itu, karyanya tak lagi berbicara tentang kritik terhadap penguasa, ketidakpuasan akan penindasan dan politik yang dirasa hanya itu – itu saja. Membuatnya kecewa sekaligus kebal. Walaupun hal itu tidak berarti lukisan dan seni lainnya tidak ada artinya bagi manusia, bagi warga Indonesia yang tengah dilanda krisis. Seni selalu menyertai kehidupan untuk membentuk sebuah bangsa yang lebih bagik. “Kita seharusnya bersukur, masih dianugerahi kelebihan yakni rasa. Bayangkan kalau manusia itu tidak punya rasa. Walaupun sosoknya gagah, tapi tidak akan bisa menjadi apa – apa.”

Masih mempertahankan rasa yang sudah mendarah daging itu, Sunaryo kembali menciptakan karya untuk negeri ini. “Karenanya saya kembali ke spiritualitas. Ketuhanan dan itu alam,” katanya. Spiritualitas terkadang menjadi sangat universal, sekaligus menjadi sesuatu yang sangat khusus dan privat. Hubungan antara alam, manusia dan pencipta-Nya.

Kelestarian alam menjadi impian dari wujud kebun ini. Cita-citanya adalah menanam 1000 pohon. “Walau saya tidak menghitung sampai 1000. Bahkan malah sudah lebih,” terangnya. Seribu pohon hanyalah kiasan untuk sebuat jumlah yang banyak. Semakin banyak pohon, semakin lama bumi ini memberi ruang hidup untuk manusia.

Sementara di sini Pak Naryo menanami tiap jengkal lereng kebunnya, di luar sana penebangan hutan terus berlangsung. Sudah menjadi cerita lama, bahwa pejuang lingkungan seperti David melawan Goliath. Lebih banyak yang merusak daripada yang tidak.

Mengomentari hal itu, Pak Naryo mengingat perjalanannya ke Denmark. Ketika menginap di rumah rekannya, Pak Naryo mau membantu mencuci piring. Setelah piring ditumpuk di tempat cuci piring, satu per satu deterjen dituangkan. Buru – buru distop oleh rekan tersebut. “Bayangkan, berapa banyak deterjen yang akan mengalir ke air buangan bila setiap piring itu ditetesi satu tetes deterjen ?” kata Pak Naryo menirukan ucapan kawannya itu. Lalu si warga Denmark itu memberi contoh cara mencuci yang lebih hemat. Satu tetes deterjen diusapkan ke tangan, lantas tangan itu yang akan mengusap satu demi satu piring yang akan dicuci. Hasilnya sama, deterjen lebih irit.

“Jadi yang ingin saya katakan kepada Anda, bagaimana jika kita tidak merasa menjadi pejuang lingkungan? Menjadi pejuang akan sangat terganggu jika ada orang lain yang merusak lingkungan. Bagi saya, ramah lingkungan itu ya hidup kita memang harus begitu. The way of life. Cara hidup,” terang Bapak dari 3 anak ini.

Menanam pohon, menghijaukan lahan, menjadikan lingkungan menjadi lebih baik bukanlah satu wujud perjuangan. Tetapi memang harus sudah menjadi kebutuhan, cara hidup manusia. Yang selalu tak lepas dari alam. “Saat kita duduk di sini. Ruangan ini terbuka, selalu berhubungan dengan udara di luar. Dengan alam. Itu membuat kita nyaman,” kata Pak Naryo sembari beranjak. Mengantar kami untuk mengelilingi kebunnya. Seperti perjalanan hidupnya, kebun ini tidak dirancang dengan khusus. Setiap elemennya tumbuh secara alami sesuai dengan kebutuhan. Seperti perjalanan seni Pak Naryo, dari waktu ke waktu.

Untuk menumbuhkan pohon, kita butuh tanah. Sedangkan untuk membuat tanah, kita butuh Dia. Ada banyak jalan untuk menuju spiritualitas. Termasuk bagaimana alam diciptakan, kesemuanya menuju satu muara. DIA.4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s