Tentang Kedai Kopi yang Menghadap Hujan

Pandava,Epiwalk, Kuningan
Pandava,Epiwalk, Kuningan

Sebelumnya, terlalu berlebihan bila saya bercerita soal ini. Sebuah karya yang entah bagaimana nasibnya. Tapi sebenarnya, nasib selanjutnya dari karya itu, bukan lagi tujuan utama. Saat berhasil menyelesaikannya, sudah cukup untuk mengalungkan medali ke diri saya sendiri J

Soal menulis fiksi, menang di lomba atau dimuat di media mainstream bagi saya bukan tujuan utama. Walau kalau dimuat dan menang, ya tentu lebih senang. Apalagi dapat hadiah, sangat menyenangkan. Ikut lomba merupakan salah satu faktor yang bisa memotivasi (atau menekan ya?) agar bisa menyelesaikan draf. Beda kalau di kantor, deadline menjadi alasan kuat kenapa menjadi produktif (atau menyelesaikan, mau tidak mau).

Seperti saat menulis tentang cerita bersambung, Kedai Kopi yang Menghadap Hujan ini. Memang tujuannya untuk ikut lomba (walau lomba ini sudah diperpanjang, tetap saja mengumpulkannya di hari terakhir dan mesti penuh perjuangan mencapai kantor redaksi tempat pengumpulan, tanpa pakai jasa kurir). Hanya ide menulis soal kopi dalam bentuk fiksi sudah lama. ehem, tahun 2007, saya dan Mba Brilyantini-yang waktu itu masih jadi pimred Majalah SEKAR pernah berkolaborasi untuk membuat novel soal kopi. Kami sudah berkali-kali nongkrong di kedai kopi (dari yang skala internasional sampai kedai kopi pinggiran) demi mendapatkan ‘aura’ kopi. Bahkan pernah, saking kerasnya kopi itu, berdua bisa mual bareng di mobil, daaan buku itu belum pernah terwujud hingga kini.

Nah, saat menulis ini, total saya selesaikan dalam 2 hari 3 malam (dua malam terakhir tidur hanya sejam). Untuk ikut lomba ini sebenarnya saya sudah punya draf temanya soal pesilat dan bertanam padi tradisional. Saya sudah selesaikan, tinggal editing.  Ada satu lagi soal jamu, rempah-rempah Indonesia yang menawan. Tapi tiba-tiba, saya ingin menulis kopi. Ya kopi! Begitulah, mulai tanggal 18 Januari (saat usia saya berkurang satu), saya serius menulis.

Landreform dan Korupsi

Latte Art buatan Pak Hendarto, Java Ahwa, Jakarta
Latte Art buatan Pak Hendarto, Java Ahwa, Jakarta

Saya tidak tahu bagaimana alurnya, siapa tokohnya, pokoknya tentang kopi. Sehari pertama (17 Januari), saya hanya bengong dan senewen. Lalu saya ingat, ada kawan di Malang, wartawan senior di koran terkenal saat  pernah  rajin menulis ke saya (via email). Temanya macam-macam, dari mulai remeh temeh tidak penting sampai soal konservasi, politik, perusahaan media dll. Tulisan dia sangat bagus. Tanpa sengaja, saya belajar banyak soal jurnalisme sastrawi dari surat-surat itu.  Salah satu suratnya soal konflik petani yang ia datangi. Lokasi sebenarnya di Wlingi, Blitar, Jawa Timur.

Ia bercerita soal salah satu petani yang menjadi solidarity maker gerakan landreform dari 13 desa untuk mendapatkan kembali tanah yang ‘dikuasai’ perkebunan negara. Surat itu, deskripsi yang lengkap soal petani, dan kasusnya membuat mata saya menghangat (dan sial, si penulis ini memang piawai menulis). Karena ‘pemberontakan’ itu, si petani ini ‘dicap’ PKI. Era tahun 1974, saat petani ini berjuang, sebutan PKI sungguh menyulitkan. Tapi ia rela mendapatkan sebutan itu demi perjuangannya. Nah, kisah itulah yang saya angkat. Hanya, komoditinya petani teh saya ganti kopi. Lokasi di Wlingi, saya pindah ke Ijen. Karena di Wlingi tidak banyak petani kopi, apalagi kopi arabika.

Konflik kedua soal korupsi di petani kopi. Kebetulan, minggu lalu saya main ke rumah Pak Hendarto Setyobudi. Ia dan rumahnya ‘sangat kopi’. Kalau kawan saya tidak keburu mendapat telepon dari kantornya untuk balik, mungkin bisa sampai malam saya di sana. Itupun sudah 5 jam lebih ngobrol. Dari beliau, saya mendapatkan banyak cerita termasuk bagaiman kebunnya pernah bangkrut gara-gara korupsi. Ia juga bercerita peran pawang hujan dalam sistem budidaya kopi. Metafisika, tapi toh para kepala kebun melakukan.

Dua konflik itulah yang saya jadikan untuk membangun cerita. Nah, Saat menentukan tokohnya, itu juga tidak mudah. Ada beberapa karakter kuat di kepala saya, tapi merealisasikannya tak mudah. Saat membuat cerita, walau fiksi, tokohnya biasanya selalu ada. Walau tidak sama persis. Karena kalau 100% khayalan, biasanya saya gagal mendapatkan karakternya.

Saat mencari karakter inilah, saya ingat Pak Marco Kusumawijaya, ahli tata kota. Belum lama saya ketemu beliau untuk bikin profil. Kantornya, orangnya, dan pemikirannya menarik bagi saya. Profesi dia, saya angkat jadi salah satu tokoh. Cerita ini ada 3 tokoh utama: si arsitek yang meneliti soal athropology architecture, si pemuda bermata matahari (petani kopi), dan si perempuan pemilik kedai kopi Java Kaffee.  Nah, saat mencari nama, saya cukup pusing juga. Biasanya saya ‘bajak’ nama kawan-kawan saya untuk tokoh. Tapi kali ini, kok rasanya tidak ada yang cocok. Makanya saya mengikuti Iwan Simatupang, tokohnya tanpa nama. Hanya ‘dia’, ‘kamu’, dan ‘aku’.

Begitulah, cerita itu tersusun. Saya takjub, bisa 50 jam (hanya diselingi makan, sholat, dan sesekali membacakan dongeng untuk Sausan. Lebih lama setengah hari dibanding saat menulis Kejora Membunuh Cahaya. Bahkan hari terakhir, tidak mandi hehehe), saya tenggelam dengan cerita itu. Sabtu Minggu kemarin praktis saya lenyap dalam tumpukan buku referensi dan tidak beranjak dari kursi (terima kasih untuk Bapaknya Sausan yang sangat paham dengan apa yang saya lakukan. Hanya sesekali geleng-geleng kepala.  I love you, uhuk J).

Sket kedai kopi, maaf saya belum menemukan sumbernya.
Sket kedai kopi, maaf saya belum menemukan sumbernya.

Saya melukiskan kedai kopi dari gambar sket di internet yang menurut saya keren sekali (saya sering bermimpi, punya kedai kopi) dan pintu merahnya dari Java Glaze Cafe. Berdialog dengan si ‘kamu’- laki-laki bermata matahari itu membuat saya bisa benar-benar kasmaran, bahkan sempat menulis dengan mata menghangat. Segitunya?!

Nah, sampai draft itu selesai 50 halaman (menjadi lebih ternyata, dan saya harus memotong beberapa halaman), belum ada judulnya. Saya tuliskan judul mulai yang paling lebay sampai paling tidak masuk akal. Lalu saya menemukan Kedai Kopi yang Menghadap Hujan, itu sebenarnya judul cerpen (yang belum selesai) yang saya tulis di Selasar Sunaryo (the coffee shop that I love so much) saat saya ‘get lost’ di Bandung.

Begitulah, kemarin siang, di antara hujan yang mengguyur dan saya tidak berpayung, saya ke Rasuna untuk menyerahkan draft itu. Dengan gembira. Sudah lama tidak segembira ini. Istilahnya Mba Cok Sawitri, menulis dengan senyum dikulum. So, satu mimpi sudah selesai saya wujudkan. Perkara hasil, lupakan. draft

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Kedai Kopi yang Menghadap Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s