Surat Kecil dari Sausan

January. 18. 2014. 06.00 AM
Pyaaarr!!! Suara keras sekali di dapur yang membangunkan saya. Ayahnya lagi di depan rumah. Saya ke dapur, bocah kecil itu berdiri dengan ketakutan. Di lantai, beling berserakan. Karena bangun tidur yang baru sejam, kepala saya sungguh pening. Wajah yang tertekuk itu bikin bocah kecil itu semakin memucat.
“Maaf Ibu, Sausan sudah hati-hati. Tapi gelasnya lepas. Dua-duanya,” katanya mau menangis.
“Kenapa mesti dua gelas. Satu saja kan cukup? Kalau dua gitu kan susah dipegang,” kata saya sambil mengambil sapu. Bukan soal pecah gelasnya, tapi soal beling yang berserakan itu bisa melukai. Saat saya nyapu, ia masih berdiri ketakutan. Campuran antara terkejut dan juga ngeri melihat pecahan kaca. Ia punya pengalaman buruk soal pecahan kaca dan juga setrika yang panas. Keduanya pernah melukainya.
“Sausan sudah hati-hati,” katanya mengulang.
“Lain kali gelasnya satu saja.”
“Dua, karena satunya buat ibu. Sausan pengin bikinin kopi buat Ibu,” katanya sambil menunduk. Lalu ia membuka kulkas. Ia mengeluarkan roti dengan lilin kecil-kecil. Semalam ia dan ayahnya membeli roti itu. Lalu membuat catatan di sesobek kertas ini:

???????????????????????????????

Sapu yang saya pegang jadi dingin. Mata saya menghangat. “Tapi sekarang sudah berantakan. Tidak jadi bikin kopi,” katanya sedih.
“Bisa saja. Kita ulangi lagi dong.” Saya ambilkan dua cangkir. “Bisa bikin lagi kan?”
“Bisa, tapi ibu balik ke kamar lagi ya. Jadi pura-puranya ibu tidak tahu,” katanya ceria.

Begitulah, saya balik ke kamar pura-pura tidur lagi. Lalu ia menyiapkan kopi (kopinya sebenarnya sudah ada di kulkas, tinggal menuang) dan segelas susu untuknya. Saat di bawa ke kamar, ia teriak: Ulang tahuuun! Saya pura-pura terkejut ala sinetron, dengan mata terbelalak, bibir menganga dan menahan napas  (padahal terkejut beneran, tapi sudah tadi). Ia menyalakan lilin dan ia tiup di depan saya (kok jadi dia yang meniup). Lalu ia memotong kue dan memakannya sendiri. 1/3 potong plus krim dan aksesorisnya dimakan dengan senang. Ia sudah memberikan kado terindah buat saya. Kado yang menyadarkan, begitu cepat ia tumbuh, pelukku sudah tak muat lagi. Tapi sampai kapan pun, ia tetap menjadi gadis kecil bagi saya. Gadis kecil yang lahir saat senja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s