Karena Hujan, Menghapus Jejak Duka Yang Tertinggal

sketch of the rain
sketch of the rain

Kemarin hujan turun dari semalam, hingga pagi tak berhenti. Ia mengeluh, aduhhh hujan lagi. Alam tampak sibuk, dan belum istirahat. Sepatu hitam kemarin belum kering. Mesti memakai sepatu pink cadangan, karena sepatu hitamnya hanya satu. Sedangkan seragam sekolah warnanya hitam. Ribet sekali memakai raincoat dan naik motor.

09.30 AM. Saya lupa! Karena terlalu asyik mengetik, lupa jika Jumat, pulangnya pukul 09.00. Meraih raincoat serampangan, langsung menembus hujan. Sampai di sekolah, anak yang yang masuk siang sudah datang. Saya mulai panik saat ia tidak ditemukan di tempat ia biasa menunggu. Hujan semakin deras. Pikiran buruk penculikan bocah mulai melintas.

Lalu saya melihat, ada anak-anak berlarian kencang menembus hujan. Sengaja melintasi kubangan air di halaman dan tengah dikejar penjaga sekolah. “Hey, jangan main hujan, nanti sakit !” teriak penjaga sekolah. Dan bocah itu, Sausan namanya.

Begitu melihat saya, wajahnya langsung berubah. Garuk-garuk kepala dan menunduk. “Maaf ibu, sepatunya basah lagi,” katanya. Bukan hanya itu, hari Jumat itu seragamnya putih. Dari Jilbab sampai celana, sudah penuh dengan bercak lumpur. Mba Cita pasti akan ngomel berat.

“Kamu lagi ngapain?” tanya saya
“Main petak umpet,” katanya. Lalu ditunjukkannya 4 atau 5 kawannya yang masih berlarian. Bahagia sekali mereka.
“Ibu marah? Maaf ya Bu.”
“Lhoh, marah kenapa?”
“Kan bajunya jadi basah dan kotor. Juga sepatunya.”
“Ibu nggak marah, karena ibu juga suka hujan.”
“Hah?!”
Lalu kami punya ide menyenangkan: hujan-hujanan. Raincoat yang tadi saya kenakan, saya pakai untuk membungkus tas agar buku-buku tidak rusak. Lalu, ia berdiri di depan, membentangkan tangan, dan kita menembus hujan. Ia bernyanyi, ia tertawa, sesekali membunyikan klakson sepeda motor, seakan semua mata tertuju padanya. Langit sedang bermurah hati, sibuk menebarkan jutaan convety kristal itu.
“Ibu, lewatnya muter saja, biar lama,” katanya. Kita pun muter komplek dua kali. Yang menarik perhatian Pak RT terpilih, dan berinisiatif meminjamkan mantel. Tapi kami bilang, kami tidak membutuhkannya. Pak RT mengerutkan dahi. Mungkin berpikir, ibu pejabat wakil ketua RT sekaligus merangkap ibu sekretaris RT ini punya kebiasaan yang tak layak.

Hujan, mendinginkan kepala kami, membasahi baju, dan sepatu. Tapi kita senang. Karena hujan, tanda alam begitu sibuk. Kenapa kita tidak ikut di dalamnya? Merasakan jatuhnya air, buliran anak-anak hujan yang berlarian. Jangan takut akan hujan. Karena bahagia bisa mengalahkan sakit, trust it!

Catatan:
Bila di Jakarta atau kota besar lainnya, sebaiknya tidak hujan-hujan saat hujan pertama. Karena hujan pertama airnya mengikat debu dan polutan di udara.
Jangan hujan-hujan bila kondisi badan tidak fit.
Setelah hujan-hujan, mandi dengan air hangat. Lalu olesi minyak kayu putih di kaki, punggung dan minum minuman hangat. Jahe atau jeruk nipis disarankan agar tidak pilek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s