Pohon Kersen di Depan Rumah Kakek Berbaju Hitam

Dear Sausan,
Kata ayah, kemarin sore kalian memetik buah kersen yang mulai banyak dengan ‘alat rahasia’ yang kalian bikin. Hemmm, ibu tidak mau tanya alatnya apa, biar tetap jadi rahasia (kadang-kadang punya rahasia itu asyik, kita seperti berpetualang, benar kan?). Ibu hanya mau bilang, terima kasih sudah menyisihkan sebagian hasil panen buat Ibu. Buah itu kecil, ranum, dan manis sepertimu.

Ibu punya cerita untukmu tentang buah kersen. Masih ingat dengan gadis kecil yang suka lewat di depan rumah berdinding bata itu? Ya, gadis kecil itu, saat pulang sekolah juga melewati rumah itu. Hanya, jika sudah siang, kembang telang sudah layu dan kembang sepatu mulai menguncup. Tapi ada satu bunga yang tetap segar hingga siang, bunga-bunga kersen.

Kersen (Muntingia calabura)
Kersen (Muntingia calabura)

Bunga itu warnanya putih, mungil, dan membuat kumbang serta lebah madu sibuk hingga siang. Mereka menghisap nektar di bunga itu, sekaligus membantu menjadikan bunga itu jadi buah. Buahnya, sama seperti yang kamu petik, manis dan merah. Si gadis kecil itu tergoda untuk memetiknya. Kebetulan, pohon itu belum begitu tinggi, ada beberapa buah yang bisa ia raih. Tidak perlu ‘alat rahasia’ itu. Hanya si gadis ragu, pohon itu ditanam pemiliknya. Beda dengan kembang telang yang tumbuh liar, jika kita mengambil buah yang ditanam orang, bukannya namanya mencuri? Mencuri itu jelek sekali bukan. Pada hari pertama, ia memutuskan untuk tidak mengambilnya.

Tapi hari selanjutnya, saat pulang sekolah, hujan turun saat ia melintasi rumah itu. Mau tidak mau, ia mencari tempat berteduh. Pohon kersen yang cabangnya mekar seperti payung itu bisa menahan gerimis. Sebenarnya ia suka hujan, dan senang berhujan-hujan. Tapi hari itu, ia membawa buku gambar yang tak muat di tasnya. Jika ia nekat berhujan-hujan, bukunya basah, dan tugasnya luntur.

Kembali, buah kersen itu sangat menggodanya. Apalagi ia sungguh lapar. Setelah ragu, ia pun melambaikan tangannya. Satu, dua, tiga, empat, dan entah berapa, ia berhasil meraih buah mungil itu dan melahapnya. Enak. Asyik. Tapi tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki tua, tinggi sepintu, mengenakan baju hitam-hitam, dan membawa parang berdiri begitu saja. Antara kaget dan takut karena mencuri, gadis kecil itu berlari menerobos hujan. Ia berlari sangat kencang, tentu saja, bukunya menjadi hancur. Ia sangat ketakutan.

Untuk beberapa hari, ia tidak berani lagi lewat depan rumah itu. Tapi lama-lama tidak enak juga melaewati jalan memutar.  Jalan depan rumah itulah yang paling dekat ke sekolahnya. Apalagi ia sangat merindukan kembang telang, bunga sepatu, dan apa yang ia lakukan di sana. Seminggu kemudian, ia beranikan lewat di sana. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, kembang telang mekar seakan tak pernah habis, dan halaman rumah itu usai disapu.

Tapi ada yang berbeda, di bawah pohon kersen kini ada meja kayu. Dan ada buah kersen yang baru saja dipetik, diletakkan di wadah batok kelapa. Aduh, ranum sekali. Tapi si gadis kecil itu tidak ingin mengambilnya, ia masih takut. Ia pun berlalu, menuju sekolah.

Sepanjang pelajaran di sekolah, ingatan akan buah kersen itu terus hadir di kepalanya. Bagaimana lembut dan manisnya saat di lidah. Harum buah yang masak pohon menerbitkan air liurnya. Nah, saat pulang sekolah, ternyata buah itu masih ada, di meja seperti tadi pagi. Ia hanya menelan air liurnya, lalu berlari sekencang-kencangnya.

Esok harinya, sungguh aneh, ada lagi buah kersen yang masih segar di wadah yang sama seperti kemarin. Jelas bukan buah yang kemarin, karena terlihat baru saja dipetik. Si gadis kecil itu penasaran, bagaimana bisa ada orang yang memetik buah seenak itu hanya untuk ditaruh saja. Apakah mungkin buah itu memang untuknya? Bagaimana jika buah itu perangkap untuk anak kecil. Setelah ia makan, pingsan, lalu dimasukkan ke karung, dan dibuat sup.

Gadis kecil itu tidak suka jika ada pertanyaan yang tak terjawab. Ia punya cara, mengambil dua buah, dimasukkan ke kantong lalu akan memakannya saat di sekolah. Saat banyak teman dan ada Bu Guru. Kalau ia pingsan,ada yang menolong. Begitulah, setelah ia memakan buah itu, sakit perut pun tidak, apalagi pingsan.

Nah, saat pulang sekolah, ia mengambil lagi buah di meja kayu itu. Setengah saja, lalu dimakan dengan riang sepanjang jalan. Berhari, berminggu, berbulan lamanya, selalu ada buah di meja kayu yang seakan-akan untuknya.

Sampai suatu pagi, rumah batu bata itu sibuk sekali. Ada tenda biru, dan orang-orang  yang memakai busana hitam.  Hari itu, si gadis kecil itu tidak memetik kembang telang karena terlalu banyak orang. Hari berikutnya, baru ia memetik kembang telang lagi. Tapi tidak ada buah kersen di meja kayu dan halaman itu tidak disapu. Begitu pula hari berikutnya dan berikutnya lagi. Daun kering menumpuk, halaman itu seakan tak tersentuh. Bahkan saat semak kembang sepatu semakin berantakan, tidak ada lagi yang memangkas.

Gadis kecil itu tidak tahu, bahwa kakek berbaju hitam yang membawa parang itulah yang selalu memetikkan buah kersen untuknya. Ia tinggal sendirian di rumah itu dan selalu merindukan cucu-cucunya yang ada di beda kota. Gadis kecil itu juga tidak tahu, bahwa pada suatu pagi saat rumah berdinding bata itu sibuk, kakek itu pergi untuk selamanya, kembali ke rumah abadinya.

Dear Sausan,
Soal kenapa ayah menanam pohon itu di depan rumah kita, karena kami sama-sama punya memori dengan buah kersen. Anak-anak yang lahir pada jaman ibu dan ayah, selalu senang memanjat pohon itu bersama teman-teman. Itu sangat menyenangkan. Makanya, ayah ingin membuat suasana menyenangkan itu untukmu. Di depan rumah kita. Tapi hati-hati dengan ulat bulu yang gemuk-gemuk, hitam kecoklatan, berambut tegak seperti selalu terkejut, juga suka pohon kersen, seperti kami.

Catatan:
Kersen (Muntingia calabura) berasal dari Amerika Latin, berupa pohon yang tingginya mencapai 12m. daunnya bisa dibikin minuman (seperti teh.) Di buahnya yang mungil itu terdapat ribuah biji, tersebar melalui burung, dan binatang yang memakannya. Bijinya tidak hancur di perut binatang, jadi tetap bisa tumbuh saat keluar bersama kotoran. Benihnya bisa berkecambah di tempat-tempat di mana banyak pohon lain susah tumbuh. Di celah tembok, pinggir selokan, rekahan batu, dan tentu saja di bawah pohonnya. Bila ingin banyak burung di rumah, tanamlah kersen. Buah ini disukai burung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s