Dari Sudut Mungil Sebuah Pit Fotografer

actual style fotoMalam itu, salah satu malam dari 4 malam yang saya lalui di Indonesia Fashion Week 2014. Sebuah event yang saya tidak menyangka sebelumnya, saya ada di sini. Untuk menulis, untuk melakukan tugas jurnalistik. Sebelumnya, sejujurnya, saya sungguh tidak tertarik dengan dunia fesyen. Lebih tepatnya, saya memandangnya sebagai dunia glamour, intrik, dan segala hal yang saya tidak ingin terlibat di dalamnya. Karena sebelumnya, saya kerap mendengar hal yang tak menyenangkan dari kawan-kawan tentang wartawan lifestyle. Bukan hanya mendengar, saya pernah merasakannya betapa ‘kejam’ mereka.

Saya punya kawan, seorang pimred media perempuan dengan tiras yang sangat tinggi di Indonesia (saya tidak menyebut tertinggi, tapi media ini memang sangat kaya). Persahabatan kami unik. Dia yang sangat ‘stylish’, sementara saya adalah tipe yang tidak peduli dengan penampilan. Dia yang selalu meributkan saat berat badannya nambah satu ons, saya bahkan tak tahu berat badan saya berapa. Dia yang sibuk hunting diskon baju, sementara gaji saya (pada saat itu) habis untuk jalan-jalan dan beli buku.

Sampai suatu kali, kawan saya ini mengatakan dengan sedih sekali: Maaf ya Tik, bila sikap bawahanku judes sekali padamu. Mereka itu sadis sekali dalam menilai penampilan. Melihatmu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hahaha saya sungguh tertawa, saking chuek-nya mungkin, bahkan saya tidak pernah merasakan disadisi atau direndahkan. Saya sangat tidak peduli. Ini keuntungan atau kerugian ya? Saya rasa keuntungan, karena saya tidak perlu sakit hati. Hanya saja, hal ini sudah cukup menjadikan saya berjarak dengan dunia lifestyle.

Kemudian beberapa orang menjadi kawan saya, karena shocked sebenarnya. Mereka tidak mengira, bahwa saya yang ‘sangat tidak modis’ ini beberapa kali menjadi juara Sayembara Mengarang Femina. Femina?! Media lifestyle yang lombanya cukup bergengsi itu. Mereka bertanya-tanya, apa yang saya tahu tentang lifestyle?

Ah, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya suka menulis, dan saya perempuan. Itu jawaban saya. Bahkan saya menulis di Femina justru bukan menuliskan seperti pandangan umum, lifestyle yang glamour dan serba luar negeri. Saya menuliskan perjuangan seorang perempuan. Dan saya menang di sayembara itu. Di sisi lain, bukan bermaksud sombong, saya kerap menuliskan editorial untuk sebuah majalah lifestyle terkenal di dunia yang dilisensi di Indonesia. Menuliskannya pun dengan gratis karena saya tidak pernah mau dibayar untuk sekadar saran. Hemmm…ini karena kecintaan saya pada dunia menulis.

Sampai kemudian, di sinilah saya. Di ajang pagelaran busana terbesar di Indonesia. Dengan para ‘sosialita’ (padahal sosialita mestinya orang yang gemar melakukan kegiatan sosial, bukan berkumpul-kumpul sebagai prestis), para desainer, dan para pecinta mode yang tampil mencengangkan bagi saya. Hanya saja, kali ini saya melihatnya lain. Saya tidak melihat itu sebagai ajang pembantaian bagi orang yang tidak modis. Justru saya menemukan sisi perjuangan yang mengharukan di sini.

Runway dan Realita

Runway dan fashion show hanyalah bagian keglamouran sesaat. Tapi di balik itu, isinya adalah kerja keras mencapai mimpi. Perjuangan para desainer menghasilkan karyanya, tangan-tangan para pekerja, dan orang-orang di balik layar yang menggantungkan hidup dari selembar busana. Itu sungguh mengharukan bagi saya.

Di salah satu acara, saya ikut seminar Anne Avantie. Aha, ini seminar motivasi yang sebelumnya saya tidak pernah tertarik. Karena saya tidak pernah percaya, bahwa kesuksesan bisa di-copy dengan mudah dan sama persis.

Tapi bukan itu. Saya melihat Anne Avantie bercerita tentang perjalanan karirnya. Bukan ala motivator. Satu hal yang menjadikan mata saya menghangat. Saat ia memanggil salah satu asistennya. Seorang laki-laki cantik, lemah lembut, tapi tersimpan tekad yang begitu kuat. “Ia dibela-belain tidur di lapangan, memberikan desainnya untuk saya, nekad sekali. Kalau kamu tidak saya terima bagaimana? Ya harus diterima. Saya akan menunggu di sini sampai ibu menerima saya.” Akhirnya Ibu Anne menerima, bukan karena desainnya bagus, karena niatnya yang tak runtuh. Karena keahlian bisa diajarkan. Sampai di sini, saya tidak bisa membendung air mata saya.

Oke, kita melihat, bagaimana selembar busana bisa seharga rumah saya? Itu sinting. Itu hedonis. Tergantung kita melihatnya dari mana. Saya melihat realita, banyak orang kaya di Indonesia. Konglomerasi, setuju atau tidak adalah sebuah realita. Mereka bisa membeli busana itu. Tidakkah itu adil ketika desainer merancang busanannya dengan energinya, melibatkan tukang jahit dan tukan payet, lantas ia hargai dengan harga yang bisa dibeli oleh konglomerat ini? Terlebih lagi, jika busana mahal ini memang produk lokal. Di sinilah saatnya para konglomerat ini ‘berbagi’ hartanya. Tentu saja tidak gratis. Tidak dengan charity. Tapi lebih terhormat:  dengan membeli hasil kerja. Karena mestinya kita mengajarkan orang bukan untuk jadi peminta-minta. Kita mengajari mereka hidup dengan karya dan kerja.

Bandingkan jika seorang kaya membeli karya pelukis dengan harga ratusan juta. Apakah si kaya ini tidak disebut hedonis sebagaimana ia membeli selembar busana? Apa karena lukisan adalah barang ‘sastra’ sehingga tampak mulia saat membelinya. Saya melihat, selembar busana punya sejarah seni yang panjang. Sama dengan sepetak lukisan.

Permasalahan kemudian, jika orang menjadi konsumtif. Ia sebenarnya tidak mampu, tapi ingin tampil mahal. Lantas menghalalkan beragam cara untuk tampil ini. Itu lain soal. Bukan kesalahan dunia fesyen, tapi itu kembali ke sifat individu. Sifat manusia, yang dari kaum bawah pun ada.

Jurnalis Lifestyle

Jurnalis juga manusia, itu sederhananya. Jika ada jurnalis yang seperti bawahan kawan saya itu, tentu itu sifat manusia. Kejam tidaknya dunia lifestyle tergantung cara menyikapi. Jika tidak ikut larut dan lupa diri, saya rasa akan tetap baik-baik saja. Menjadi diri sendiri, dan tampil apa adanya.

Di pit fotografer, memang ada juga fotografer yang tengil dan layak dijitak dengan tripot saat mereka tidak tertib. Tidak mau mengantri, mengokupasi tempat yang sebelumnya sudah ditempati fotografer lain. Kelakuan tengil macam ini tetap ada.

Tapi selebihnya, beberapa menjadikan saya haru. Persahabatan dan kerja sama dari beberapa kawan yang saling menjaga, itu menjadikan saya menemukan dunia baru. Bahkan, ada seorang fotografer, Andy Harahap namanya. Ia menjadi ‘sahabat’ The Actual Style, saya menjulukinya demikian. Karena Andy banyak membantuk fotografer The Actual Style dalam bertugas. Andy rela mengejar Anna Avantie, mengelilingi JCC, demi mendapatkan foto dia dan Anne untuk dilaporkan ke ibunya. Ibunya nun jauh di sana, sangat menyukai desainer ini. Bagi saya, sungguh manis sekali saat anak laki-laki selalu mengingat ibunya.

Juga candaan yang menyegarkan saat iklan salah satu maskapai penerbangan menampilkan kemewahan layanan dan interior pesawat. “Waaaaaa….,” teriak mereka dengan kekaguman yang tak terbeli. Polos sekali.

Demikianlah, ini hanya cerita saya tentang dunia baru yang dikenalkan The Actual Style. Sebuah ‘rumah’ mungil yang kami bangun dengan persahabatan,  mimpi, dan cinta kami pada negeri ini. Kami rasa ada yang bisa kami kerjakan untuk mengabarkan karya desainer lokal, perajin tradisional, dan potensi yang masih lepas dan patah-patah. Semoga akan tetap begitu.

The Actual Style Team. Photo: Andy Harahap/dok. TheActualStyle
The Actual Style Team. Photo: Andy Harahap/dok. TheActualStyle
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s