Tentang Perempuan itu…

Fashion show Gabriel Lage
Fashion show Gabriel Lage

Hari Jumat, akhir Februari,

Tiba-tiba saya ingat tentang seorang perempuan. Perempuan biasa, dengan paras biasa-biasa saja. Paras yang biasa-biasa saja itu semakin tak terlihat dan bahkan menjadi aneh ketika ia hanya bisa mengenakan busana yang ala kadarnya. Bukan karena miskin, walau tidak bisa dibilang kaya. Hanya perempuan ini kebetulan punya orang tua yang sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Cara yang tidak bisa ia terima. Karena sebenarnya ia punya hati yang sangat lembut dan perasa. Tapi karena kekerasan yang dihadapi di keluarganya, menjadikan ia menampilkan sosok keras dan sangat tidak peduli. Bahkan terhadap dirinya sendiri.

Pada masa itu, jangankan untuk berpenampilan feminin dan cantik (versi umum), baju saja ia kerap mengenakan baju bekas dari saudara-saudaranya yang semuanya laki-laki. Ia tidak ingin tampil tomboy, tapi apa daya, busana yang ia punya mengesankan demikian. Ia menjadi penyendiri dan sangat pemalu.

Sampai kemudian hal tersial (yang kemudian ia anggap sebagai keberuntungan), ia jatuh cinta! Dengan seorang laki-laki yang super pendiam juga. Jatuh cinta yang unik. Karena ia bangga jika ia bisa bisa menyimpannya rapat-rapat dan tidak ketahuan. Ia cukup bahagia bila bisa menatap sepasang mata lelaki itu dari jauhan. Sesekali, dunia menjadi tertawa baginya jika ada senyum beberapa detik dari lelaki itu.

Suatu saat, waktu mempertemukan mereka. Menjadi sahabat yang sungguh absurd. Kedekatan mereka layaknya kekasih. Tapi tak terucap apapun dari mereka. Sampai kemudian, lelaki itu memperkenalkan perempuannya. Perempuan yang selalu diceritakan kepada perempuan tokoh kita. Dan tokoh kita, mendengarkannya dengan tekun. Sesekali memegang tangannya saat lelaki itu jatuh. Meyakinkan lelaki itu, bahwa dunia akan baik-baik saja. Dan selalu akan baik-baik saja.

Mungkin saya akan mengatakan, betapa bodoh perempuan itu. Betapa tidak masuk akalnya. Tapi mungkin, memang ada hati yang tercipta hanya untuk menyayangi. Hati yang teguh, yang bisa melakukan apa saja, membayangkan yang di luar bayangan terliarnya, tapi satu hal yang tak pernah berani ia bayangkan: kepemilikan.

Rasa itu, monolog itu, menghidupi hari-harinya. Berbulan, bertahun kemudian. Bahkan, ia sungguh setia dengan monolog itu, yang tidak tergoyahkan oleh sosok lain. Perjalanan waktu berpihak pada perempuan ini. Ia kemudian disayangi banyak orang bukan karena paras dan penampilannya. Tapi karena ketulusannya yang diam pada banyak orang. Ia menyimpan rahasia banyak kawannya. Bahkan teman yang hanya selintasan pun, bisa menceritakan kisah hidupnya padanya. Ia, seperti buku harian kosong, yang bisa ditulisi beragam kisah. Lalu si penulis merasa meninggalkan resahnya.

Tapi ia sendiri, menyimpan rapat semuanya. Cintanya yang diam menjadi energi tak terbayangkan bagi kaki mungilnya untuk melangkah. Ia melakukan banyak hal yang bahkan ia sendiri pun tak menyangka bisa melakukannya. Sampai kemudian, ada dunia yang memang menerimanya. Menerima dia apa adanya. Tekadnya, kreativitasnya, impiannya, menemukan semesta yang seakan diciptakan untuknya.

Berpuluh perjalanan matahari berselang, ia bermetamorfosa. Dari ulat buruk rupa, menjadi kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga. Kupu-kupu yang terbang seperti elang mengarungi langit. Bukan menjadi kupu-kupu yang tercantik, tapi kecantikan tak terbayangkan saat seseorang tetap menjadi dirinya, di mana pun dan dalam keadaan apapun. Dirinya yang bersahaja, yang menebarkan kasih kepada siapa saja.

Dan kasihnya pada lelaki itu, tidak pernah berubah. Ia tetap menyayanginya, saat panas dan hujan. Saat kemudian dunia berpaling dari lelaki itu. Ia datang kepada perempuan itu, menceritakan semua kisah hidupnya yang tak berpihak padanya. Lelaki itu, menangis di hadapannya. Masih seperti berpuluh perjalanan matahari silam, perempuan itu menggenggam tangan lelaki itu. Hanya kini, genggamannya lebih kukuh, lebih percaya diri. Ia katakan: kamu akan baik-baik saja. Seperti dulu.

Apakah perempuan itu menjadi pemenang atas lelaki itu,  jika kisah hidupnya dianggap sebagai pertandingan? Ternyata ia tidak merasa demikian.  Ia merasa menjadi pemenang, menang terhadap dirinya sendiri. Ia bangga, bisa mencintai seseorang, saat panas dan hujan. Ia bisa merasakan, udara menjadi lebih segar, matahari lebih hangat, dan langit jauh lebih biru dari sebelumnya.

Sampai kemudian, datang padanya, sebuah cinta yang jauh lebih tak terduga, lebih indah, dari yang pernah ia bayangkan. Saat seseorang, yang biasa-biasa saja, yang tak punya kisah rumit seperti puisi, memilihnya untuk mencintai, jauh sebelum ia menjadi kupu-kupu. Saat seseorang, menunjukkan, bagaimana caranya ia menjadi kupu-kupu. Perempuan itu, dan ia pun jatuh cinta padanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s