Sebuah Kebun, Sebuah Kenangan

salah satu jendela di taman Grahito Husodo
salah satu jendela di taman Grahito Husodo

Bukan sekadar sekumpulan tanaman berbunga, batang pohon dan persawahan. Tapi setiap kuntum yang mekar, setiap petak sawah adalah catatan untuk berbagi.

Ini untuk kali ke-3 saya berkunjung ke Sekar Gemati, sebuah kebun yang terletak di Desa Manglid, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Setiap kali berkunjung, rasanya waktu tak pernah cukup untuk menikmatinya dan baterai kamera selalu habis untuk merekam penghuninya. Lanskap, pertanian organik, ragam bunga yang tak biasa dan cerita itu. Setiap kebun punya cerita masing – masing yang tak sama. Sekar Gemati menyimpan kekuatan untuk care dan share. Care yang dalam bahasa Jawa artinya ‘gemati’. Dan share,  berbagi kebahagiaan dengan tetangga. Sedangkan bagi Hedy Yvonne, Sekar Gemati adalah sebagian catatan tentang mendiang suaminya, Graito Husodo.

Setiap bunga punya cerita

Di beranda rumah yang menghadap hamparan pohon dengan aroma bunga guihua (Osmanthus fragrans) tercium samar, Hedy menceritakan kisah kebunnya. “Ini bunga yang terakhir Bapak bawa. Sudah tumbuh bagus di bawah sana, tapi sayang Bapak belum sempat melihat ia berbunga,” kata Hedy sembari menunjukkan foto Warzewiczia, tanaman berbunga merah menyala. Foto bunga itu membawa percakapan kami ke tanggal 19 Juli tahun lalu. Ketika Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, mantan Kapuspen TNI itu pergi untuk selamanya. Graito dikenang bukan hanya karena jabatannya, tapi hal yang dilakukan di luar tugas resminya. Aktifitasnya di berbagai kegiatan sosial, kecintaannya pada buku dan hasrat yang menggebu terhadap science khususnya tentang tanaman. Hal yang juga menjadi kegemaran Hedy sedari kecil.

Strongylodon macrobotrys
Strongylodon macrobotrys

Kenangan menemani suaminya untuk membangun Sekar Gemati rasanya terus tumbuh di setiap pucuk tanaman yang terus menghijaukan tanahnya, bahkan di setiap detail rumah yang dibangun. Rumah tersebut seperti bentuk lain dari tanaman. “Coba lihat, bentuk bunga ada dimana – mana,” ujar Hedy saat mengajak mengelilingi rumahnya. Saya baru memperhatikan pada kunjungan ke-3 itu, bahwa rumah ini bercorak bunga dan tanaman. Mulai dari teralis, kaca patri yang menutup jendela, lampu gantung, karpet, sprei dan banyak benda yang lain. Kalau diperhatikan lebih detil lagi, corak tanaman dan bunga yang menghiasi bukan sekedar bunga stilasi tapi seperti lukisan botani. Morfologinya hampir sempurna sehingga kita bisa tahu bunga apa yang dimaksud. Graito tak sekedar memilih motif tanaman dan bunga, tapi juga morfologinya.

“Saya ingat waktu pesan ini. Pemahatnya ngotot pengin ada butterfly biar jadi indah. Tapi Bapak tetap tidak mau karena tidak alami,” kenang Hedy seraya menunjukkan hiasan dinding berbahan batu paras bali yang diukir dengan bunga Cattleya.

Di dinding yang menghadap ke kolam koi, ada aksesoris puluhan kupu – kupu yang ditempel di dinding. Awalnya saya kira hanya aksesoris biasa untuk mempercantik dinding. “Kupu – kupu itu dipesan khusus oleh Bapak dari pengrajin. Motif dan bentuk sayapnya persis kupu – kupu asli, jadi semua itu ada spesies aslinya. Yang kanan kupu – kupu yang aktif siang hari, yang sebelah kiri kupu – kupu yang aktif di malam hari,” terang Hedy.

Pergantian siang malam bukan hanya mengispirasi peletakan kupu – kupu, namun juga peletakan tanaman di kebunnya. Peletakkan yang benar akan menampilkan keindahan setiap bunga secara optimal. Sebagai contoh, di dekat jendela dan pintu yang membawa udara dari luar masuk ke dalam, Hedy meletakkan koleksi ragam bunga wangi. Rumahpun tak perlu pengharum sintetis. Alam telah memberikannya untuk bunga yang sesungguhnya hadiah untuk serangga yang berjasa menyerbukinya. Hanya, tak ada salahnya manusia ikut menikmati. Karena tumbuhan adalah peracik parfum yang ahli. Ada racikan aroma pandan dalam bunga karuk. Ada pula aroma wangi khas hutan tropis dari bunga magnolia.

Arah pertumbuhan tajuk daun dan bunga juga menjadi pertimbangan dalam peletakkan agar menghasilkan view yang bagus. Ketika membuka jendela kamar tidur di lantai dua, terlihat puluhan kelopak magnolia yang sedang mekar, menghadap ke atas. Susunan daun yang melingkar di setiap pucuknya membingkai tiap kuntum bunga itu. Lama sekali Hedy termenung di sana.

“Bunga ini dulu saya bawa dengan Bapak dari Cibodas. Ternyata cocok dengan kebun ini. Kalau saya lagi bad mood, Bapak selalu tahu ada tempat berburu tanaman yang membuat saya tertawa,” kenangnya sambil tersenyum. Baru saya perhatikan, pin yang sedari tadi dikenakan bergambar suaminya.

Beberapa bunga yang dibawa dari tempat jauh, banyak yang menemukan habitat baru di kebun ini. Dengan cara menghasilkan bunga dan pertumbuhan yang optimal. Ada cemara berdaun biru yang ditanan sedari biji, hingga sudah tumbuh di atas 10 meter. Tanaman ini termasuk tanaman awal yang ditanam saat kebun mulai dibangun. Kira – kira tahun 1990-an.Warna daun biru toska.

Amherstia nobilis
Amherstia nobilis

Ada juga bunga yang menjadi kebanggannya. Konon, bunga yang dijuluki queen of flower (Amherstia nobilis) ini hanya tumbuh dan berbunga di habitat aslinya yakni di Birma. Tapi di sini tetap bisa berbunga walaupun klusternya tak sepanjang di habitat aslinya. Pohon ini bisa berbunga di beberapa tempat di kawasan sejuk Indonesia.

“Kalau ditanya bunga mana yang paling disuka, susah juga menjawabnya. Semua suka…hanya, ya saya paling suka dillenia putih. Bentuknya sangat sederhana, warnanya sangat putih, bersih lalu ada sedikit warna merah di tengahnya,” terangnya. Sayang, saat saya ke sana dillenia yang berwarna putih (Dillenia ovata) asal Philipina ini sedang tidak berbunga. Yang berbunga banyak adalah dillenia yang bunganya kuning atau disebut red young leaves (Dillenia species).

Tak hanya pohon, ragam tanaman merambat yang tak biasa juga menjadi koleksinya. Petrea volubilis, jade vine (Strongylodon macrobotrys) yang bunganya berwarna hijau toska dan tecomante (Tecomanthe) dengan bunga terompet berwarna pink. Khusus dengan bunga ini, Hedy punya cerita. “Suatu hari saya minta tolong tukang kebun untuk membersihkan bunga kertas karena sudah terlalu tinggi. Si tukang kebunnya semangat menjawab iya. Eh, begitu saya pulang, yang dibersihkan itu tecomante yang bunganya lagi bagus – bagusnya. Rupanya tecomante itu menurut tukang kebun dikiranya bougainvillea yang dinamai bunga kertas. Sejak itu, saya belajar nama tanaman dengan nama ilmiahnya. Kalau nama ilmiah kan enggak pernah salah,” tandasnya.

Sama halnya dengan Graito, ragam buku dipelajari. Tak heran jika ia fasih menyebut ragam nama latin beserta asal usulnya. Di perpustakaannya, ragam buku flora dikoleksi yang dibeli dari berbagai negara. Yang paling diingat Hedy perihal buku, Graito menenteng sendiri buku ‘Flora’ yang beratnya lebih dari 3 kg dari mulai dibeli hingga turun pesawat. Buku itu masih tersimpan di perpustakaan yang menjadi bagian dari rumah dan kebun yang menghadap hamparan sawah.

Saya kerjakan yang Mampu, Sisanya Biar Tuhan yang Mengurusnya

“Kebahagiaan kami sama, sama – sama bahagia kalau melihat orang lain bahagia karena keberadaan kita,” ujar Hedy. Mereka ingin keberadaan Sekar Gemati tak hanya untuk merawat bunga – bunga yang ada, namun juga berbagi kebahagiaan bagi tetangga di sekitarnya. Berbagi ini bukan hanya berbagi materi, tapi juga kesempatan dan akses. Walau kenyataannya tak semudah yang dibayangkan. “Saya dulu berpikir, anak – anak yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang. Tapi ternyata tak hanya itu, lebih pada tidak punya kemauan,” kenangnya. Sebagai contoh, pasangan ini mengupayakan beberapa anak dari pegawai yang turut membangun  kebun untuk mengakses pendidikan. Untuk anak kecil dibangunnya sekolah TK. Sedangkan untuk beberapa anak, diangkat menjadi anak asuhnya dan disekolahkan hingga perguruan tinggi bahkan sampai ke Amerika.

Sejak awal, ide ini sudah menemui kendala. Ada orang tuanya yang memilih anaknya bekerja, walau hanya menjadi buruh. Hasilnya jelas, langsung mendapatkan uang daripada sekolah yang menurut pemikiran sederhana mereka, tidak mendapat apa- apa. Kalau niat membantu, kenapa tak langsung dikasih uang tunai saja ? Beberapa ada yang mau untuk disekolahkan. Hanya saja, dari ke-12 anak yang diangkat jadi anak asuhnya, beberapa saja yang berhasil sampai perguruan tinggi. Beragam alasan dari anak – anak ini untuk drop out. Ada yang tiba – tiba menikah, ada yang memilih bekerja ada juga yang katanya ingin bebas. “Mereka sudah seperti anak kandung saya. Karenanya, kegagalan mereka sempat membuat saya tertekan, bahkan sampai berulang kali masuk RS. Sampai akhirnya saya sadar, tugas saya memang hanya sampai di sini. Saya kerjakan yang mampu, sisanya biar Tuhan yang mengurusnya,” kata ibu dua anak ini.

Tak berapa lama, seorang remaja datang sembari menunjukkan segenggam beras dengan semangat. Butiran beras yang bernas dan utuh ada di telapak tangan Cecep S. Darma, salah satu anak angkatnya yang telah menamatkan pendidikan di Amerika. “O,ya, kami juga merintis pertanian organik khususnya beras. Ayo kita lihat,” ajak Hedy.

Di separuh pandangan mata, sawah itu terhampar. Daun – daun padi berwarna keemasan dengan malai yang mulai menunduk. Sesekali terlihat pohon cemara balon berdaun kuning menyembul di pematang. Di sudut lain ada bunga marigold (Tagetes erecta) dan cosmos (Cosmos bipinnatus) yang mewarnai sawah. Malah ada ornamen taman berupa bekas bath up yang digunakan untuk menanam teratai, diletakkan di pinggir pematang. “Ini dia, sawah bagian dari lanskap taman,” tegasnya. Tanaman hias seperti marigold menghasilkan senyawa yang mengusir hama. Karenanya bisa mengurangi bahkan meniadakan penggunaan pestisida terutama pestisida sintetis.

Padi di sini, dirawat dengan telaten oleh petani dan mikroorganisme alam. Tanpa sentuhan pupuk dan pestisida buatan pabrik. Makanannya berasal dari kambing yang dipelihara oleh penduduk sekitar. “Semakin saya mempelajari tanaman, semakin saya sadar pentingnya hidup sehat. Coba Anda tanyakan kepada petani sayur yang bertanam dengan pestisida. Mau tidak mereka mengonsumsi sayur produknya sendiri ?” tantang Hedy.

Pertanian organik yang dibangun ini bertujuan untuk menambah income penduduk sekitar melalui penjualan pupuk kandang. Rata – rata semua penduduk di sini punya kambing. Karenanya, dari kotoran kambing yang dihasilkan dibeli oleh Sekar Gemati untuk memupuk padi. Hasilnya, padi yang lebih enak dan sehat. Peminatnya pun lumayan bahkan setiap kali panen sudah ada yang memesan. Melihat peluang ini, Hedy memimpikan petani di sekitar juga bisa bercocok tanam organik selagi sumber air di Manglid masih bersih. Padi organik akan lebih menguntungkan baik dari finansial maupun untuk lingkungan. Begitulah, kebun Sekar Gemati ini menyimpan banyak impian dan banyak kisah. Bukan hanya sekadar kumpulan bunga dan pohon.

(Catatan ini pernah dimuat di Majalah GARDEN, edisi 45, 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s