Toraja, Setiap Inci Tanahnya Bernapas

Kemarin sore saya buka email dari Mbak Dinny Jusuf, founder Toraja Melo. Katanya singkat:
Hello Titik, Danny sedang mengukir tanah lagi! Tengokin ya setahun lagi.
Salam dari kampung di atas awan!

Lanskap sawah di Batutumonga
Lanskap sawah di Batutumonga

Hah, kampung di atas awan! Itu rumah Mbak Dinny di Batutomonga, Toraja. Terbayang kembali, hangat kopi toraja yang kami (saya, Risang Yuwono, Anda, Fahmi, dan David Valentino) nikmati senja itu. Sebuah teras yang terletak di lereng bukit, dan memang awan seperti berjalan di kaki kita. Kopi toraja yang dipetik dari tanah di kaki kami, di antara hamparan padi bertingkat, padi organik yang dibudidayakan petani di Toraja.

Sampai saya bilang, jikalau sudah melihat bagaimana hamparan padi di Toraja, maka keindahan padi di tanah lain lewat deh. Seperti juga ketika sudah melihat laut di Wayag, Raja Ampat, maka lau-laut lain jadi berkurang keindahannya. Tentu subyektif.

Oh ya, Danny yang dimaksud adalah Pak Danny Parura, suami Mbak Dinny. Pengacara yang suka mendesain taman. Saya pernah memotret karyanya. Bukan hanya karena keindahan taman, tapi proses bagaimana konsep taman itu dibangun, menjadikan saya berulang kali harus terpesona dan berusaha untuk tidak berlebihan saat menuliskan untuk Home Garden. Konsep taman yang tak biasa, terinspirasi dari terasering padi Toraja.

Kembali ke Toraja dan teras itu. Perjalanan yang tidak saya duga, saya bisa sampai ke sana. Toraja dalam benak saya selalu identik dengan tongkonan, atap berlekuk, yang saya pun tak pernah memimpikan untuk melihatnya secara langsung.

Sampai malam itu, bis membawa saja perjalanan 8 jam dari Bandara Hasanuddin, Makasar ke Toraja. Perjalanan itu saya tempuh sendirian, karena tim lain sudah duluan. Setelah beberapa jam, hampir tak yakin dengan bis yang ngetem di Terminal Daya (Makassar), dan juga tujuan yang menurut saya tak lengkap alamatnya itu, saya pun melihat tongkonan itu dari kaca jendela bis.

Tongkonan
Tongkonan

Tongkonan pertama yang saya lihat berupa siluet, di antara bulan perak bulat malam itu. Dengan iringan lagu berbahasa Toraja yang saya tidak paham, disetel luar biasa keras di bis itu, mata saya tiba-tiba mengalir. Malam abu-abu itu menyusup sunyi dalam diri saya.

Itu awal dari rasa saya memasuki gerbang Toraja. Perjalanan kemudian, 4 hari, memang tak cukup untuk memahami tanah yang misterius itu. Perjalanan saya untuk mencatat tentang tenun, kopi, padi, dan perempuan, memberi saya banyak makna. Betapa keindahan itu disusun dengan banyak warna piksel. Tentu saja, tak semua piksel itu adalah warna yang manis. Tergantung kita mau mengingat sisi mana.

Di teras itu, Mbak Dinny bercerita panjang lebar tentang tenun toraja. Bahwa selembar benang bukan sekadar anyaman, tapi ada kerja keras, strata, hingga peliknya perjalanan sehelai benang. Sebenarnya cerita ini akan saya tulis untuk http://www.theactualstyle.com. Tapi belum kesampaian  Semoga selekasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s