Batu Angkek-Angkek di Tanah Tempat Tumbuh Legenda

 Nagari Tanjung- Sungayang, Batusangkar. 15.05 WIB

Papan nama menuju Batu Angkek-Angkek
Papan nama menuju Batu Angkek-Angkek

OBJEK WISATA (tourist Objek), BATU ANGKEK2, Tanjung Sungayang.

Huruf cat hitam di atas papan berwarna putih yang mulai mengelupas itu menggembirakan bagi saya. Butuh berkali-kali tanya untuk menemukan lokasi ini. Sebentar lagi saya akan melihat kemisteriusan batu angkek-angkek yang diceritakan Feri malam sebelumnya.

“Batu itu aneh betul. Wujudnya kecil, tapi berat sekali. Saya hanya bisa mengangkat sampai sebetis saja,” kata Feri sungguh-sungguh sambil memperagakan saat ia mengangkat. Belum lama ia mengunjungi batu itu. Batu yang konon bisa menjawab pertanyaan kita. Bisa dikatakan, meramal masa depan kita.

Saya kira, di belahan bumi manapun, mengitip masa depan adalah permainan yang menarik. Apapun caranya. Baik dengan teknologi, maupun dengan sekadar yakin dan percaya.

“Apa pertanyaanmu saat itu?” tanya saya penasaran. Ia menyeruput cinnamon tea, salah satu menu andalan hotel itu. Menyeruput dengan khusyu’, seakan mau mengatakan hal yang penting dalam hidupnya.
“Saya tanya, apakah calon istri saya nanti cantik atau tidak.” Pertanyaan yang mengundang senyum, tapi dikatakan dengan serius. Jadi Feri memang ingin tahu soal itu. Mengingat usianya belum genap 30 tahun, masih single, pertanyaan tersebut memang menjadi sebuah pertanyaan yang serius membutuhkan jawaban.
“Kalau terangkat hanya sebetis, berarti cantiknya hanya sampai betis, dong?” komentar saya bercanda. Feri tertawa sejenak, lalu mengubah raut muka menjadi serius. Perubahan itu bisa saya artikan: boleh kamu bercanda, tapi saya percaya keanehan batu itu. Coba saja kalau tidak percaya. Begitulah alasannya, hingga kemudian saya mengunjungi satu demi satu cerita batu di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.

Papan itu berada di ujung jalan kecil menurun, sekitar 50m dari lokasi batu angkek-angkek. Saya kira batu ini berada di tempat terbuka, sebagai situs sejarah sebagaimana batu di Kuburajo. Ternyata batu angkek-angkek merupakan koleksi pribadi dari Uda Alfi, pewaris dari batu tersebut. Saat saya sampai sana, banyak pengunjung yang datang. Mereka melepas alas kaki, untuk masuk ke rumah bagonjong tempat batu itu diletakkan.

Dari luar, ada aturannya. Pertama ber-wudhu terlebih dahulu, kemudian membaca dua kalimat Syahadat dan diikuti beberapa doa lainnya. Saya mengikuti saja apa yang disarankan.

“Kalau beragama non muslim, berdoa saja sesuai dengan kepercayaannya. Sekali lagi, kita di sini bukan meminta berkah kepada batu. Tapi batu hanya sarana. Kita tetap minta kepada Allah,” kata Uda Alfi. Mungkin benar, doa-doa itu dipanjatkan dengan khusyuk kepada Sang Pencipta. Hanya saja, berhasil tidaknya mengangkat batu itu seakan cara yang kasad mata untuk bisa bertanya langsung pada Yang Maha Mengabulkan, dengan cara instan, tanpa menunggu sampai kejadian itu benar-benar terjadi. Paling tidak, itu yang saya rasakan ketika melihat satu per satu pengunjung yang datang.

Uda Alfi bercerita soal riwayat batu itu. Riwayat yang sudah ia ceritakan kepada ribuan pengunjung mengingat batu tersebut ditemkan ratusan tahun silam (tidak ada angka tahun pastinya). Batu itu ditemukan di kota tertua di Minangkabau yaitu Pariangan saat Orang Minang ingin membuat pemukiman. Menurut adat Minangkabau, pertama kali harus mendirikan Tunggak Tuo. Sebuah tiang yang tidak boleh diganti, bahkan ketika bagian bangunan lain diganti.

Nah, saat menggali tanah untuk mendirikan tunggak tuo tersebut, dua buah batu ditemukan saling berhadapan dalam posisi telungkup seperti kerapas kura-kura. Satu batu bisa diambil, yang kini kita jumpai sebagai batu angkek-angkek.
“Satunya lagi moksa,” kata Uda Alfi
“Moksa?” tanya saya untuk minta penjelasan lebih lanjut. Uda Ali hanya angkat bahu. Moksa artinya lenyap. Tidak ada ada penjelasan lebih lanjut. Tidak pula ada cerita bagaimana ia lenyap. Dengan sinar menyala seperti di film-film silat atau tiba-tiba tidak ada. Tidak ada yang tahu pasti.

Saya melihat sekali lagi ke arah batu yang diletakkan di atas permadani itu.
“Tidak ada yang tahu pasti berapa beratnya. Ada yang bilang 20kg, ada yang bilang 50kg, tidak pernah ada yang pasti,”tambah Uda Alfi, menambah penasaran.

Batu angkek-angkek, berbentuk seperti mangkuk tembaga
Batu angkek-angkek, berbentuk seperti mangkuk tembaga

Sebelum giliran saya, ada satu keluarga yang datang dari Padang. Sama dengan arah saya datang. Suami istri dengan dua anak. Satu anak mungkin usia 12 tahun, laki-laki. Adiknya perempuan, usianya sekitar 8 tahun.

Si ayah mencoba terlebih dahulu. Sesuai dengan tata cara yang berlaku. Ia bersimpuh di depan batu itu, memanjatkan doa sesuai yang tertulis di dinding, dan mengucapkan permintaannya. Semua dilakukan dalam hati. Dalam mata yang terpejam. Kemudian jemarinya mencengkeram, otot tangannya menegang, urat leher menebal, dan wajah cemas seperti akan berperang, peluh bercucuran di kening dan hap….batu itu terangkat! Ia tahan hingga ke dada, didekapnya sesaat, kemudian dilepaskan dengan takzim. Kelegaan nan lugas terpancar dari senyumnya. Apapun pertanyaan yang disampaikan di depan batu itu, jawabannya adalah menggembirakan baginya. Ia mengangkat sekali lagi, sekadar untuk meyakinkan. Ia tidak berhasil mengangkat setinggi tadi. Batu itu tampak menjadi lebih berat.

Giliran berikutnya si ibu. Sama seperti si bapak, doa khusyuk dipanjatkan. Hanya saja, si ibu tak berhasil mengangkat. Ia berusaha sekali lagi, dan sekali lagi, tetap saja tidak terangkat. Saya tidak melihat ekspresi si ibu, hanya upaya suaminya untuk menyemangati istrinya tampak sebagai upaya untuk mewujudkan sebuah keinginan. Sama halnya saat ia menyemangati si bungsu, perempuan kecil dengan tangan tampak kecil dibanding batu itu, yang tidak bisa menggeser satu inci-pun. Kelegaan si Bapak terpancar ketika si anak laki-lakinya berhasil mengangkat dengan ringan. Sama keberhasilannya dengan ayahnya “Alhamdulillah,” ucap sekeluarga itu. Lega.

Giliran saya. Sesungguhnya saya tidak menyiapkan apa-apa, keinginan yang besar yang membuat saya bertanya-tanya. Mengangkat batu ini hanya ingin lebih tahu, lebih dekat dengan masyarakat di sini. Batu yang ada di depan saya berbentuk seperti mangkuk padat, tepatnya bola yang dibelah, dengan diameter sekitar 40cm. Berwarna tembaga, kehitaman di beberapa bagian. Aromanya pun sama dengan tembaga.

Saya bersimpuh, seperti yang disarankan. Saat saya coba mengangkat, sangat berat sekali. Seakan menyimpan masa yang sangat padat. Batu itu tak bergeser dan seperti mengejek. Ah, masak sih saya kalah dengan nenek-nenek yang berhasil mengangkat batu itu sebelum saya. Jadi ini bukan soal keinginan, tapi soal menguji kekuatan tangan saya.
“Coba lagi, jangan menyerah,” kata juru kunci dan pengunjung yang lain menyemangati.
“Berdoa, ucapkan keinginan adik dengan sungguh-sungguh,” saran si juru kunci. Melihat mereka menyemangati saya, dan ingin saya berhasil, saya terpancing juga untuk berhasil mengangkatnya. Sekuat tenaga. Saya ingin melihat kelegaan di wajah-wajah itu. Dan hap…batu itu terangkat! Mereka lega.

Sama seperti Feri, terangkat sampai sebetis saja.
“Jadi apa pertanyaanmu?” tanya Feri di seberang sana. Yang saya telepon saat saya berhasil mengangkatnya.
“Apapun, yang jelas cowok saya nanti tidak akan ganteng hanya sebatas betis,” jawab saya. Feri terbahak di seberang sana.

Saya senang, melihat sebuah keyakinan tanpa syarat, yang bersanding dengan agama samawi yang diyakini sekeluarga tadi, agama mayoritas di kota ini. Kadang saya hanya berpikir, banyak bahasa Semesta yang tidak perlu diterjemahkan. Ada banyak bahasa, yang justru menjadi berbeda makna ketika diterjemahkan. Biarkan keyakinan itu bertahta di tempatnya, dan saya menyimpannya sebagai sebuah catatan yang akan saya maknai sendiri.

Sama halnya ketika saya kemudian menyimpan catatan akan ‘kesaktian’ Datuk Parpatiah Nan Sabatang di situs Batu Batikam. Tempat yang akan saya kunjungi selanjutnya.

Catatan:
Tulisan ini bagian dari buku ‘Minangkabau Rendezvouz’ yang sedang saya tulis bersama dengan  Sadikin Gani. Kisah perjalanan yang terinspirasi dari keunikan desain Hotel D’Oxville, Padang, Sumatera Barat. Buku ini masih dalam proses pembuatan, semoga menemukan ‘rumah’ yang tepat.

Advertisements

One thought on “Batu Angkek-Angkek di Tanah Tempat Tumbuh Legenda

  1. Selalu terhanyut baca tulisan Mbak Titik. Dan saya yang orang Padang baru tahu batu angkek-angkek ini dari tulisan Mbak Titik. Hahaha..menyedihkan juga daya eksplorasi saya yah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s