Mei dan Mengenang Kawan Yang Mendahului

Kali ini saya bukan bercerita soal Mei 1998, tapi 9 Mei 2012. Bukan sekadar melankoli, tapi hanya mengingat tentang sebuah profesi yang dicintai.

****

Jl. Panjang, 15 Mei 2012

ImageHampir seminggu ini perasaan saya tidak menentu, terkait dengan musibah pesawat itu. Saya memang bukan keluarganya, hanya seorang kawan yang kebetulan segedung. Sesekali menyapa di lift sekadar menanyakan : deadline ? Pulangnya ke arah mana ? Wah, macet ya Mas dst. Sapaan sangat biasa, basa basi memang, tapi semua itu membuat hari kami ada awal dan akhir di antara tumpukan kata yang harus kami tuliskan.

Begitulah,  pemberitaan di media memang meng-update tiap inci dari perkembangan. Tragedi pun seakan menjadi pundi-pundi. Kata – kata ini memang terlihat kejam, saya berharap ini tidak benar. Masyarakat ingin tahu, media menyediakan bahkan kadang – kadang ‘tanpa ampun’. Ada rasa tidak nyaman ketika hampir 24 jam mendengar nama pesawat itu disebut-sebut beserta kejadian dan juga rumornya. Bahkan ada yang memberitakan hal – hal detail yang terkadang hanya untuk memuaskan konsumen yang ‘haus kejadian luar biasa’, menikmati tragedi sambil makan siang dan berkelakar.

Tidak ketinggalan, kanal – kanal informasi pribadi pun riuh ‘memberitakan’. Saya melihat, semua manusia di sini punya bakat jadi jurnalis. Membanggakan sekaligus menyedihkan ketika mereka hanya mengutamakan ego pribadi tanpa mempedulikan dampak dari apa yang dikatakan : sensasi. Ah, mungkin ini hanya perasaan sensitif dari seorang Pagiyem nan udik ini. Yang masih yakin bahwa jurnalisme pun butuh ‘rasa’. Bukan rasa untuk mengaburkan fakta, tapi rasa untuk memberitakan yang seharusnya diberitakan. Batasan ‘yang seharusnya’ diberitakan pun bisa beragam. Tapi coba tanya pada hati nurani masing – masing, mereka akan menjawabnya dengan jernih.

Seorang kawan pernah menulis di status FB bahwa jangan pernah berharap lebih pada media sosial apapun, terutama facebook. Apalagi mengharap perubahan dari Facebook… Itu lebay namanya.

Saya menulis ini sebenarnya bukan untuk apa – apa, apalagi untuk perubahan. Benar kata kawan itu, lebay namanya. Di sini, saya hanya berbagi kegelisahan tentang sebuah profesi .

Kalau dipikir, orang bisa dipanggil Tuhan bisa di mana saja. Bahkan kasus kecelakaan lalu lintas (darat) korbannya pun lebih banyak (dari segi jumlah) bila dibandingkan dengan korban pesawat, orang naik gunung maupun wartawan yang tewas di medan perang. Memang tidak semestinya membandingkan antara kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan di alam bebas karena pengguna jalan raya tentunya lebih banyak dari orang naik gunung atau profesi ‘menuai resiko’ lainnya. Lantas pertanyaannya, mengapa melakukan itu ? Mencari mati saja. Tentu itu komentar umum.

Komentar lebih nyinyir bila pelaku dari profesi yang menuai resiko adalah perempuan, seorang ibu pula. Rentetan pertanyaannya menjadi panjang. Perempuan pulang malam, kamu keluyuran terus, anakmu kamu taruh mana ? Gleg…sungguh itu pertanyaan yang membuat dada langsung sesak. Antara perih dan pengin balik bertanya, apakah anak adalah kotak tisue yang bisa ditaruh di atas meja ?

Saya teringat percakapan dengan seorang kawan, dia wartawan senior salah satu pendiri AJI, dulu sekali saat saya mulai menapaki kantor. Pertanyaan saya kala itu,apa jurnalis menjadi pilihanmu ? Ya, dia mantab menjawab. Mengapa kamu memilih menjadi jurnalis ? Dia lama sekali menjawab. Sampai akhirnya mengatakan : panggilan hati.

Apa artinya? Kebanggaan dari panggilan hati ini menjadi luas sekali. Bukan sekadar materi, bukan sekadar namanya terkenal (bahkan kadang rela menjadi culas), bukan pula sekadar dianggap hebat. Tapi ‘menjadi manusia’ dalam setiap tugas yang dilakukan. Susah menjelaskan dengan gamblang. Salah satunya, ketika karya kita membuat orang lain menjadi lebih baik, yang tidak bisa bersuara menjadi terdengar suaranya, yang tertutupi dan merugikan menjadi terbuka, itu salah satunya.

Lalu seorang perempuan (dalam hal ini seorang ibu) yang menjadi tukang berita, harus bepergian ke berbagai tempat dan meninggalkan anak untuk sementara waktu. Kautahu, Sukab, ini bukanlah pekerjaan mudah. Bagaimana pun seorang ibu adalah seorang manusia yang selalu ingin dekat dengan anaknya. Dekat dari sisi fisik maupun hati.

Perjalanan ke berbagai tempat, ‘aksi’ menatang yang dilakukan bukan lagi untuk mendongak dan mengatakan inilah aku. Tapi untuk memberikan sesuatu pada yang lebih luas. Mengubah sesuatu menjadi lebih baik, kehidupan yang lebih manusiawi. Itu idealnya. Berharap anaknya akan mengatakan dengan riang : ibuku yang melakukan itu.

Bagi ibu, hanya ingin mengatakan : Nak, ibu pernah ke sini. Di sini indah sekali, tapi tidak ada tempat yang lebih indah selain bersamamu. Mendengar celoteh tentang kelinci – kelincimu yang rakus wortel. Atau pertanyaanmu tentang rasa pelangi apakah sama dengan permen loli. Sesekali mendengar ngototmu membedakan angka 6 dan 9. Semua itu, adalah hal terindah melebihi apapun.

Barangkali ini terlalu cengeng, tapi kenyataannya, di setiap tempat , di setiap langkah, tidak akan pernah lupa bayangan seorang anak. Bahkan sebutan ‘wanita karir’ yang seakan itu menjadi pembeda antara seorang ibu yang menjadi ibu rumah tangga dan seorang perempuan bekerja, tidak ada artinya bagi saya. Jadi bukankah pertanyaan di mana menaruh anak itu terjawab ? Dia tumbuh seperti napas.
Sekian, untuk hari ini. Saya akan melanjutkan tugas.

***
Setiap sore, kami berdoa bersama di kantor. Walau doa-doa pribadi sudah dilantunkan. Untuk kawan yang pergi mendahului, semoga langitmu lebih indah dari foto dan tulisanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s