Menonton Tobong: Saat Penonton Bisa Mengubah Lakon

Sebuah 'rumah'
Sebuah ‘rumah’

Menonton kethoprak tobong pentas ! Sudah menjadi impian saya sejak saya menuliskannya untuk Majalah Intisari tahun 2010 silam. Hanya saja, jadwal panggung dan keberadaan saya di Jogja tidak pernah cocok. Baru awal November silam, keduanya bisa berjodoh. Saya bisa nonton pentas tersebut.

Jam 9 malam saya baru sampai hotel yg terletak di dekat Malioboro. Kegiatan hari itu sungguh menyita tenaga, apalagi malam sebelumnya saya begadang sampai pagi (kegiatannya : nonton FTV yang bintangnya Luna Maya, dengan Fira- wartawan KR *alasan yang paling ga masuk akal untuk begadang di Wonosari*). Makanya saat melihat kasur, terasa mata sudah lengket. Nyaris saja saya menyerah, kalau tidak Mba Lily Wibisono (pimrednya Intisari) semangat sekali dengan ajakan saya (ga nyangka kalau Mba Lily iseng juga hehehehe).

Begitulah, setelah mandi (secara formalitas) taksi kami meluncur dari hotel ke Kalasan, tempat tobong berdiri. Setelah kebablasan dan nyasar (alasannya sih gelap dan habis hujan, padahal karena memang saya runyam sekali soal peta apalagi malam hari ) akhirnya kami temukan lokasi yang sebenarnya sudah beberapa kali saya kunjungi. Sepanjang jalan, sepi sekali. Rumah – rumah yang kami lalui sudah tertutup rapat pintunya. Begitulah, kalau di desa, kehidupan berakhir pukul 9 malam. Kecuali tempat tertentu. “Kalau di depan ada banyak sepeda motor, artinya ada pentas,” kata penduduk yang saya tanya.

Mereka saat tidak di panggung
Mereka saat tidak di panggung

Di loket, kami bertemu dengan Ibu Nelly Vysma, istrinya Romo Dwi Tartiasa, pimpinan Kethoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya. Beliau nampak kaget, kok tiba – tiba saya nongol di situ. Hehehe, memang begitu. Tiket tersebut hanya Rp 5.000,- saja dan walau pun kami datang telah 1 jam dari jadwal yang harusnya mulai main jam 9 malam, kethoprak baru saja mulai. “Tadi hujan, penontonnya belum ada,” kata Mak Kamek. Begitulah kawan, bisa dikata 80 % dari penghuni tobong saya sudah kenal. Tapi datang sebagai penonton rasanya beda sekali. Saya kunci kamera di tas, saya tidak akan memotret , saya hanya ingin menonton saja. Selebihnya, karena lengan kanan saya mati rasa karena 3 hari full pegang kamera yang ternyata berat.

Seperti datang ke sebuah dunia masa silam yang membangkitkan memori saya tentang masa kecil. Saat nenek saya mendekap saya di malam yang dingin, menonton ledhek (penari keliling). Saat itu saya sangat terpesona dengan busananya yang gemerlap, tembangnya yang indah dan geraknya yang memukau mata kecil saya. Bayangan saya, betapa hebatnya menjadi seorang penari.

Saat penonton mengubah lakon

Saya dan Mba Lily duduk di barisan belakang. Malam itu, kursi separuh penuh. Penontonnya sebagian besar orang tua. Dingin dan hujan tak menyurutkan niat mereka untuk menikmati. Bahkan ada satu penonton yang teramat vokal. Bapak satu ini seakan menyumbang setiap dialog di panggung , kalau perlu bisa mengubah lakon(jadi ingat, seperti penonton pertandingan PSSI tahun silam, di mana penontonnya turun ke lapangan menjadi pemain ke-12 karena gemas).
Awalnya saya mikir, haduh kenapa ya penontonnya berisik. Bandingkan jika nonton teater di TIM, atau kata Mba Lily kalau menonton opera di Broadway di mana tepuk tangan saya dikomando, penonton macam itu dituduh tidak sopan dan menganggu. Karena penontonnya ingin berkontemplasi diam dengan lakon yang dimainkan. Tapi kawan, ternyata kontemplasi bisa jadi bukan diam namun terlarut. Begini ceritanya.
Saya lupa judul lakonnya malam itu, yang jelas bercerita tentang seorang tumenggung yang naik pangkat. Karena sudah kaya, dia berniat memperistri kedua anak angkatnya sekaligus. Si tumenggung itu dimainkan oleh om – om dengan perut yang sudah membola, sementara dua anaknya dimainkan oleh pemain yang cukup berisi badannya.

Tak menyangka, saya dan Mba Lily terlarut juga dalam lakon itu. Ikut teriak – teriak dan ikut merasa jijik dengan kelakukan si om tumenggung tadi. Bahkan Mba Lily spontan sekali ikut teriak ketika si om berusaha menjamah kedua anaknya. Kami berdua bisa ngakak lepas dengan lakon itu dan memang : kami pun ikut menyumbang dialog tanpa kami sadari.

Lakon usai dengan terbunuhnya tumenggung oleh istrinya sendiri yang dibantu oleh roh (mungkin Nyi Roro Kidul). Di tangan saya masih ada dua bungkus kacang goreng yang dibeli Mba Lily dari Mak Kancil, seorang ibu usia di atas 70 tahun yang berjualan di arena tobong.
Mengingat lakon yang baru saja dipentaskan, saya benar – benar tidak bisa mengenali siapa saja pemainnya. Padahal harusnya saya kenal kesehariannya. Mereka para peraga yang tinggal di tobong, di rumah bambu di belakang panggung tersebut. Saya rasakan, betapa panggung bisa mengubah wajah para peraga. Mereka sungguh bisa menjadi gagah bila memainkan ksatria, bisa menjadi bengis ketika menjadi peran antagonis, bisa menjadi bijak ketika menjadi seorang raja. Dan soal tembang, suaranya sungguh memesona. Vokal mereka indah sekali, seperti saya kembali mendengarkan kejayaan serial kethoprak di radio yang jadi kegemaran emak.

Malam itu, saya bisa merasakan betapa panggung adalah separuh nafas dari realitas mereka. Separuh nafas yang lain adalah bagaimana mereka hidup menghadapi siang.

Jogja, November 2012

Catatan: Kisah Tobong ini pernah menjadi artikel di Intisari. Selebihnya, menjadi cerbung di Femina dengan judul Bentang Layar.

Usianya 70 tahun. Beliau menantang saya untuk lari keliling stadion.
Usianya 70 tahun. Beliau menantang saya untuk lari keliling stadion.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s