Mahameru, Gie, dan Sebait Sajak Cinta

Gara-gara Adi, adik tingkat saya di Mapala, mengajak untuk membuat buku soal perjalanan PMPA Kompos, saya jadi mengingat banyak kisah. Ini salah satunya. Semoga saya bisa cukup jujur di sini.

Awal September 2000
Beberapa kawan saya sudah lulus, sementara saya malah baru saja diangkat menjadi salah satu ketua bidang di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebenarnya saya sudah malas pada saat itu. Tapi si ketua ini, yang seangkatan saya, yang juga senasib (dalam artian belum menyusun skripsi, tapi mending saya, saya sudah proposal), mengajak untuk menemani dia istilahnya. Baiklah.
Di tahun yang mestinya saya sibuk membuat penelitian, saya terima ajakan untuk naik Semeru. Gunung tertinggi di Jawa itu memang menjadi salah satu bucket list. Gunung terakhir yang saya ‘selesaikan’ setidaknya sebelum saya lulus (pede kalau bakal lulus). Karena setelah lulus, saya tidak akan naik gunung lagi (dan saya salah).

Begitulah, pengumuman ditempel di sekretariat. Pendakian ini akan melintasi 4 gunung: Semeru, Bromo, Arjuno, dan Welirang. Sejak awal saya hanya akan sampai Bromo saja, karena harus balik kampus. Saya mengurus persiapan penelitian.

Awalnya 9 orang yang mendaftar (ini ada di catatan diari saya, huhuhuhu). Lalu saat sehari sebelum berangkat, tinggal kami bertiga. Saya, Fendi Hartiko, dan Widi Hartanto. Permasalahan tidak sampai pada kesanggupan saja, tapi juga masalah dana. Klasik. Alat sudah terkumpul, lengkap, tapi kami butuh uang untuk bekal perjalanan. Jadilah pada saat itu, Mas Yuwono meminjami saya uang (sepertinya Fendi juga). Sekitar Rp 75.000,- kalau tidak salah ingat. Dan Mas Yu, panggilan kami untuknya, hanya mengatakan: Kamu tidak perlu mengembalikan uang itu. Aku hanya pengin minta fotomu tersenyum di puncak gunung itu. Kalimat yang seakan mengada-ada, tapi kemudian akan menjadi mantra ampuh saat saya nyaris menyerah.

12 September 2000. 10.00 AM
Hari ini, kami bertiga sepakat berkumpul di sekretariat pukul 3 sore. Saya sudah menyiapkan alat dan perbekalan. Tinggal packing ke carrier. Yang terjadi, saya muntah-muntah parah. Perut sakit tiada tara. Pinggang rasanya mau lepas. Sebenarnya ini karena menstruasi, hanya tidak pernah separah itu. Hingga pukul 12.00, saya masih terkapar. Makan siang yang saya paksa untuk masuk ke perut, kembali tanpa sempat diisap sari makanannya. Karena itu, Mbak Achuy, kepala suku di kos saya, sudah mengultimatum untuk tidak berangkat.

Di kamar saya, saya ngilu sekali memandang segala persiapan yang sudah saya lakukan hampir dua minggu itu. Betapa besar arti pendakian ini bagi saya. ‘Arti’ yang sekarang saya bisa terbahak bila mengingatnya. Karena si ‘arti’ itu, dari mulai yang rada serius sampai hal remeh temeh: sajak cinta. Uhuk.

Di kamar itu, saat saya berguling-guling karena menahan sakit, saya mencoba untuk tetap fokus dan tidak pingsan. Buku ‘Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan’ itu tergeletak di karpet. Ya, buku foto copy-an dari Mas Gunung (kakak tingkat kami), yang di-copy Yanti (Sri Maryanti), itu yang mengenalkan saya pada Soe Hok Gie. Kemudian saya pun mencari ‘Catatan Seorang Demonstran’ yang juga foto copy-an. Karena pada era tahun 1996-an, buku itu masih belum bebas beredar di kampus saya. Kampus tempat Soeharto memberikan beasiswa rutin kepada ratusan mahasiswa setiap tahunnya. Kadang beasiswa yang ‘tanpa syarat’. Di buku itulah, betapa seksi dan tragisnya Mahameru. Saya ingin melihatnya. Melihat tempat Gie terbaring. Saya ingin melihat, bagaiamana seseorang yang memberi makna beda sebagai mahasiswa kala itu, menghembuskan napas terakhir.

Yang kedua, soal sajak cinta. Ini cukup susah untuk diurai, dan hasilnya cukup memalukan. Nanti akan diceritakan di belakang dan tidak begitu penting (uhuk).
Yang ketiga, bahwa saya beranggapan tak punya kesempatan lagi. Karena saat saya lulus, saya tidak mungkin mendaki gunung lagi. (Sekali lagi, alasan ini salah).

Yang keempat, karena hutang. Kami sudah berhutang walau si pemberi pinjaman tidak mengharap uang itu kembali (dan memang kemudian tidak kami kembalikan). Tapi betapa menyesalnya, ketika saya tidak jadi naik.
Berbagai pertimbangan itulah, entah bagaimana, atau maksa, tepat pukul 3 sore, saya sudah menyandang tas carrier ke sekretariat. Nekad.

14 September 2000. Ngadas-Ranu Pane

1 Itu catatan saya yang ada. Saya punya satu notes kecil untuk mencatat setiap detail perjalanan. Sayang sekali, jilidannya bubar, dan beberapa halaman hilang. Di lembar kecil itu, saya menggambar rute perjalanan yang kami tempuh. Dan kondisi saya, tidak bertambah baik. Pendarahan deras sekali. Hanya saya tidak cerita ini, karena saya satu-satunya perempuan di tim. Dulu saya sangat pemalu (huhuhu), apalagi untuk urusan perempuan macam ini. Bahkan di Tumpang, desa terakhir sebelum kami naik jip ke Ranu Pane, semuanya laki-laki. Saya hanya berdoa, semoga saya kuat.

Sebenarnya, kami tiba di Tumpang pagi hari. Tapi kami harus menunggu rombongan lain agar sewa jip itu lebih murah. Satu mobil Rp 150.000,-. Uang itu bisa menghabiskan 2/3 bekal kami. Makanya kami menunggu. Akhirnya sampai pukul 3 sore, kami menjadi ber-7. Ada 2 orang dari Makasar dan 2 orang dari Surabaya. Total menjadi ber-7. Kami ber-7 ini kemudian menjadi kawan seperjalanan hingga sampai puncak.

Perjalanan itu cukup mengesankan. Karena kami berdiri di jip dimodifikasi, ber-7, melewati jalan sempit dengan jurang menganga. Ngadas adalah desa yang begitu mengesankan bagi saya. Karena mobil itu sempat mogok di situ. Dua jam, kami sampai di Ranu Pane. Menginap di shelter di sana. Hari sudah gelap, jadi saya tidak bisa melihat jelas. Selain itu, kami harus berjalan cukup jauh untuk sampai shelter. Sebenarnya ada shelter yang dekat, tapi konon ada hantunya. Jadi, walau pun kami terlihat gagah, tetap saja nyali ciut dan milih berjalan jauh dan menanjak.

15 September 2000. Ranu Pane-Ranu Kumbolo
Pagi hari, pemandangan yang membuat saya haru. Di depan sebuah shelter kayu, saya melihat Ranu Pane berkilauan. Indah. Dan ingat sebait sajak cinta itu (hayyyahhh). Dan, sakit saya tidak berkurang. Usai sarapan, pukul 9 pagi, kami mulai berjalan ke Ranu Kumbolo.
Hutan, pinus penuh lumut, dan tidak terlihat puncak, adalah perjalanan yang mewarnai ke Ranu Kumbolo. Sampai di sini, saya punya obsesi foto. Ada foto keren kakak tingkat saya (Mas Rinto), sedang mencuci nasting di sana. Itu foto yang akan saya buat nanti dengan modal kamera film dari sekretariat (merknya Pentax atau apa ya). Body-nya besi dan berat.

1.30 PM, kami sampai Ranu Kumbolo. Hanya sebentar, lantas melanjutkan hingga Kalimati. Kami akan camp di Kalimati. Paling tidak, siang itu, melihat danau itu seperti melihat mimpi. Beban semakin berat, karena saya menambahkan bekal 4,5 liter air. Dan, saya tidak semakin sehat. Pendarahan semakin membuat saya lemas.
Perjalanan ini penuh canda tawa, walau tragis. Anak dari Surabaya menyebut sebagai melintasi 7 Bukit Penyesalan. Memang menyesal, dan mulai ingat dunia di bawah sana. Yang lebih hangat, dan kenyang. “Gak maning-maning,” teriak anak Surabaya itu (tidak lagi-lagi).
Yang saya tertawa membaca catatan saya ini, di bagian perjalanan yang demikian sengsara, kok banyak bener puisi yang bisa saya tulis ya. Bahkan saya lupa, bagaimana menulisnya.

05.05 PM, Kalimati.
Kami baru bisa keluar dari Hutan Penyiksaan (setelah Bukit Penyesalan). Ada padang yang luas, di sanalah kami mendirikan tenda. Malam itu, taburan bintang serasa bisa digapai. Kami seperti tidur di langit.

16 September 2000. 01.05 AM
Saya bangun pertama. Alasannya bukan rajin, tapi karena sakit perut itu sebenarnya. Lalu saya masak. Rencana kami memang mau berangkat pukul 01.30 AM. Pendakian di jalur terakhir yang berat, begitu katanya. Yang terjadi, para laki-laki itu susah bangun. Hingga pukul 02.00 AM baru kami berangkat. Satu lagi, saya tidak jadi makan makanan yang sudah saya masak. Karena salah satu dari kami kentut di dalam doome. Aromanya cukup membuat napsu makan saya lenyap (hayooo siapa penjahat itu :D).

04.15 AM. Arcopodo.
Memang sensara sekali pendakian itu. Jalurnya hancur, naik pula. Ada pegangan dari tali baja, tapi sudah hancur. Di kegelapan itulah, saya menemukan petak beton. Tertulis : In Memorian Soe Hok Gie. Kala itu, terletak di kiri track, berupa semen persegi. Di sebuah jalur yang hancur, sebelum Cemoro Tunggal (mungkin ingatan saya salah). Sementara kawan saya mendahuli, beberapa saat saya berhenti di situ. Lama sekali saya lihat baris tulisan itu.
Lantas pendakian pun berlanjut. Saya sempat merasa halusinasi, karena melihat ada satu pohon cemara sendirian di lautan pasir. Ternyata memang ada. Cemoro Tunggal namanya. Sebagai tanda bagi para pendaki menjelang puncak.

Jalur yang tidak bersahabat. Pasir yang selalu longsor bila diinjak. Saya kemudian melepas sepatu lapang saya, dengan susah payah. Lalu membali kaos kaki, dan memasukkan celana ke dalam kaos kaki agar pasir tidak masuk ke sepatu.

Pun itu sudah membuat saya nyaris menyerah. Karena saya semakin lemas. Satu kata dari Fendi yang saya ingat, dan cukup menggelikan hingga kini. “Ingat, kita ke sini pakai uang hutangan, kalau nggak sampai, malu dan sia-sia kita.” Kalimat dari fakir miskin macam ini ternyata cukup ampuh membangkitkan kekuatan. Dan, satu yang rahasia : sebait saja cinta (uhuk)

07.15.45. AM. 3676mdpl.
2Puncak dan Satu Film Yang Terpotong
Demikianlah, kami sampai puncak. Tidak lama kami di puncak. Tak lebih dari 30 menit. Foto-foto, lalu lekas turun. Oh ya, menulis sajak cinta itu. Saya menulis nama seseorang di pasir, lalu memotretnya, dan cepat-cepat menghapusnya. Itulah kenapa saya bersikeras mencuci film itu (setelah sampai di peradaban), karena saya tidak ingin film ini ketahuan. Bodoh, memalukan, tapi ya begitulah.

Singkat cerita, perjalanan pulang lebih menyenangkan. Karena tidak ada beban lagi. Kami sempat menginap di Ranu Pane (dan saya menulis tulisan tidak penting di raincoat). Menikmati Tanjakan Cinta. Jalur Ayak-Ayak. Dan juga hamparan savana yang tanpa batas.

Perjalanan kami lanjutkan ke Bromo. Di Bromo pun keadaan saya tak lebih bagus. Ini lebih lucu lagi. Karena kami menghemat uang, kami jalan mengelilingi lautan pasir itu dari Bantengan hingga shelter tempat kami menginap. Percayalah, berjalan di lautan pasir, pukul 12.00 siang, dengan carrier di punggung, bukan perjalanan yang seksi. Apalagi sebenarnya kami bisa naik jip.

Setiap ada jib lewat, kami sembunyi. Fendi berteriak: Jika Mahameru adalah puncak para dewa, di sini tempat mainnya para dewa. Mereka iseng bikin bukit-bukit yang menurut mereka kecil, tapi besar bagi kami saat mengelilinginya. Kelak kalau aku kaya, aku akan balik ke sini, dan menyewa jip (saya tidak tahu, apakah Fendi sudah kembali).

Pun menuju shelter di Bromo pun, petunjuknya dari Mba Ayu, yang sudah duluan menempuh rute ini. Pesannya: begitu kalian sampai lautan pasir, kalian akan melihat satu lampu. Di situlah kalian akan menginap dengan murah. Kenyataannya, titik lampu itu jauhnya tiada tara.

Sajak Cinta itu…
Di Bromo kami menginap semalam. Esok harinya saya pisah dengan Fendi dan Widi. Mereka akan melanjutkan ke Arjuno dan Welirang. Saya balik ke Solo. Saat mereka jalan, saya sempat mampir ke rumah warga di Tengger. Saya ketemu anak-anak kecil Tengger. Dikasih air dan wortel mentah. Saya makan dengan anak-anak kecil. Sore harinya, baru saya balik ke Solo.

Setelah kembali ke peradaban, saya baru semakin merasa kalau saya sudah lemas. Sakit sudah reda, tapi pendarahan masih berlanjut. Begitulah, saat di bis dari Surabaya-Solo, saya lelap tertidur. Entah tertidur atau pingsan, saya lupa. Yang jelas, saya terbangun sampai Jogja ! Kelewat 60 km!
Dini hari saya terkapar di Terminal Yogyakarta. Begitulah, saya meneleponnya. Seseorang yang namanya saya tulis di Puncak Mahameru. Untuk menjemput saya. Tidak sampai 30 menit, ia datang. Memasukkan saya ke mobil, dan saya tidak ingat lagi.

Dia yang mengenalkan saya pada gunung. Dan persahabatan kami cukup unik. Bila kemudian ada sajak cinta yang diam, lebih baik saya tidak membukanya (hayyyaaah). Karena kemudian beberapa gunung saya lalu bersamanya. Menjadi kisah persahabatan kami, hingga kini, masih selalu lucu.

Yang jelas, saya bangun keesok harinya, sudah sampai di kos saya di Solo. Ada banyak makanan. Dalam diamnya, ia menyiapkan semuanya. Ternyata saya tidak bangun keesokan harinya, tapi lusa. Jadi saya tidur 24 jam dengan baju yang masih sama saya kenakan dari Bromo.

Soal selembar foto itu, saya lupa, apakah saya menyerahkannya atau tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s