Semesta “Liar” Jeihan

Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depan. Kita tidak punya penglihatan soal itu. Itulah kenapa lukisan Jeihan bermata bolong. Pun, saat kita tidak tahu apa yang tumbuh kemudian jika taman kita biarkan mengurus dirinya. Liar yang menawarkan ketidakterdugaan.

jeihan1 Jeihan Sukmantoro, pelukis di Bandung, yang terkenal dengan lukisan wajah dengan mata bolong, punya pendapat lain tentang taman. Menurutnya, taman itu sebaiknya dibiarkan tumbuh liar. Semakin minim sentuhan manusia, maka tanaman yang ada di sana akan semakin bebas tumbuh. Hal itu memberikan kejutan tak terduga bagi pemiliknya.

“Lihat, itu tumbuh sendiri. Saya tidak menanamnya,” kata Jeihan, saat menujukkan serumpun tumbuhan pakis yang tumbuh di retakan pagar tembok. Juga pohon mangga yang menyisip di antara rimbun taman itu. Benihnya berasal dari mangga yang ia makan, kemudian ditanam. Tumbuhlah mangga itu. Seperti juga beberapa tanaman lain yang menyusun taman itu.

Bila dilihat, taman di kediaman Jeihan ini taman tropis. Ditata mengikuti sisa ruang yang ada. Tanamannya pun tanaman tropis yang biasa kita dapati. Menjadi berbeda, ketika pemilik memberi perhatian kepada setiap tanamannya. Bukan untuk dipangkas rapi, tapi dirawat dengan tekun.

Rumah bertingkat itu merupakan persinggahan impian Jeihan. Perjalanan panjang seorang pelukis, bahkan dari yang tak bisa membaca hingga ia menjadi dosen Seni Rupa IPB. Tapi ada impian yang lebih dalam bagi Jeihan, selain rumahnya yang ia sebuat sebagai ‘masa kini’-nya. Yaitu ‘rumah masa depan’ di hutan yang dibangunnya.
buku

Tanah Agar Bumi Bernapas
“Kebun itu adalah masa lalu dan masa depan saya,” kata Jeihan menjelaskan tentang tanah seluas 2 hektar di belakang studionya. Tanah itu ditumbuhi dengan bambu, masjid, dan pendapa untuk pertemuan. Juga ada nisan sebagai ‘rumah masa depan’ bagi Jeihan.

Masa lalu digambarkan sebagai bangunan tradisional yang tetap dibiarkan di tanah itu. Sedangkan masa depan, sebuah makam yang dibangun Jeihan untuk dirinya kelak. Selebihnya, sebuah hutan asri tempat masyarakat belajar melukis di sana.

“Bambu ini awalnya liar, tumbuh sendiri. Lalu banyak diambil masyarakat. Habis. Lalu saya tanami lagi,” ujar Jeihan. Ia menanam bambu agar tanah terbebas dari erosi. Juga, daun bambu memberikan udara yang segar bagi lingkungan. Agar ‘bumi’ bisa bernapas dengan lega.
jeihan2

Catatan: dimuat di HOME GARDEN, April 2O14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s