Anak-Anak Hujan

kopi dan hujanAnak – anak hujan itu berlarian adu cepat, berloncatan di antara pucuk pohon sebelum mereka luruh menghantam bumi. Usia mereka hanya beberapa detik bagi waktu manusia. Hanya saja, sesaat adalah abadi * bagi anak-anak hujan yang terlahir dari rahim mendung lantas melintasi separuh angkasa. Menyapa semua rasa yang masih bisa merasa, membisikkan kasih sayang purba bagi hati yang masih bisa merindu. Rindukah dirimu ?

“Aku hanya pergi sebentar, mumpung belum hujan,” kata lelaki itu. Si perempuan mengangguk, menatap khawatir bahwa hujan akan menggigilkan tubuh kerempeng lelakinya. Mendung menggelap, angin mulai bertiup menggerakkan pepohonan. Ah, tapi toh hanya sebentar. Dia akan kembali, walau nanti kehujanan. Kopi akan menghangatkannya.

Benar juga, hujan datang tak berapa lama setelah punggung lelakinya lenyap di tikungan. Perempuan itu menutup pintu, membiarkan jendela tetap terbuka. Agar dia tahu, jika lelakinya pulang. Sesaat dia menyesal, kenapa tidak membawa sertakan payung. Ah, tapi dasar lelaki. Gengsi kalau pakai payung. Katanya akan membunuh kelelakiannya. Entah teori dari mana.

Jendela itu masih terbuka, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan kemudian. Hujan sudah berhenti, tapi lelaki itu belum (atau tidak) kembali. Bahkan saat secangkir kopi membatu usai diseduh dan tak pernah terminum. Perempuan itu masih menunggu, bahwa lelakinya akan muncul dari tikungan. Datang dengan wajah yang ia rindukan. Dengan cinta yang dahulu pernah menjadi bahasa yang sama baginya.

“Dia hanya pergi sebentar, mumpung belum hujan,” ulang perempuan itu mirip seperti mendendangkan penyembuhan bagi dirinya. Kidung pelelap bagi semesta mungil yang mulai berdetak dalam dirinya. Dalam tubuh perempuannya. Dalam keibuannya.  Semesta mungil yang tengah membangun dirinya. Menantang keteguhan cinta atau cibiran tetangga. Cinta pada nurani yang semakin lemah berbisik di antara pedang tetangga yang begitu nyaring terhunus.

***

Di jendela yang dulu menghadap hujan, dia mengejang. Menahan mual yang tiada tara, menelan pahit kerinduan. Berpasang – pasang mata lewat di tikungan, tapi tak satupun mata yang ditunggu. Mata yang menjadi penawar racun patah hati. Mata yang menyelimuti setiap kenangan akan perjumpaan, pada lelakinya yang pamit hanya sebentar. Yang ada hanyalah mata yang menuduh, mata yang menghakimi, mata yang mensucikan diri seakan dia adalah Sang Maha Suci. Mata yang kemudian menjadikan dia mengaduh akan keperempuannya.

“Mengapa harus perempuan yang mengandung buih ? Apakah Kau ciptakan perempuan sebagai pengemban derita remah peradaban sementara Engkau sendiri memilih menjadi laki-laki yang tak pernah merasakan ini semua. Rasa malu yang hanya disematkan untuk perempuan. Apakah Engkau benar laki-laki ? Jawablah …” Ia menangis. Ia berteriak. Ia meremas semesta mungil yang tak lagi mungil.

“Ambillah yang Kauciptakan sebelum dosa melumurinya. Tempatkan mereka di sisi-Mu daripada menjadi hitam dalam dekapku. Aku bukan ibu bagi mereka. Apalah artinya ibu tanpa ada kata ‘bapak’ ? Apa ? Apa?!”

Jawaban masuk melalu kisi jendela, dibawa angin musim hujan yang menjadi lebap oleh air mata. Semesta mungil yang seharusnya hangat dalam dekapan sang ibu, direlakan untuk kembali kepada Yang Maha Hidup. Mata para tetangga kembali hingar oleh ketidaktahuan. Dosa menjadi tak tampak bila semua mengamini. Perempuan itu kembali menjadi perempuan yang jatuh cinta pada hujan. Menunggu lelakinya kembali muncul dari tikungan. Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga musim berganti dan kembali hujan.

***

Jendela yang masih terbuka, membawa pulang kerinduan yang tak pernah terjawab. Perempuan itu masih menunggu, seperti setahun yang lalu. Pun saat musim hujan kembali merontokkan ranting – ranting kemarau, pucuk trembesi menghijau mengundang kupu – kupu kuning bertelur. Ia mendengar senandung alpha yang sangat ia kenal. Nada-nada yang awalnya seakan hanya gesekan air hujan dengan udara yang dilaluinya. Hanya denting tak penting. Matanya menghangat dan basah. Hati terajam, seperti dendam yang menghantam. Ia rindu pada keperempuannya. Ia rindu mendekap semesta mungilnya yang seharusnya kini tumbuh dewasa. Kulit tanpa dosa seharum wangi surga. Kembalikan padaku, wahai Sang Maha Pengembali.

Kelek-kelek biyung sira ana ngendi

Enggal tulungana

Awakku kecemplung warih

Gelagepan, wus meh pejah**

Maskumbang, Ibu. Senandung anak laki – laki yang menjadi dewasa. Maskumbang, Ibu, setahun telah berlalu. Aku masih tak beranjak dari rahimmu. Dalam hidup atau mati, aku tetap anakmu, Ibu.

***

“Perempuan itu melahirkan anak-anak hujan, lihatlah !” seru orang – orang kampung. Dari jendela yang terbuka, berlarian anak – anak berwarna perak. Bahkan saat matahari masih menyala, tanpa mendung, kampung itu basah seperti kehujanan. Saat sinar matahari menyentuh kulit yang masih berbau ketuban, pelangi melengkung membentuk lorong di sepanjang gerbang desa. Merahnya tak merah, jingga membentang tak terhingga. Warna pelangi terindah yang pernah dibayangkan manusia. Orang – orang berlarian, ada yang panik, anak yang menonton, ada yang mengabadikan dengan kamera untuk di-upload di Facebook.

Anak – anak hujan itu lahir tanpa bapak. Tak ada yang meributkan, karena anak-anak hujan pun tak bisa memilih, mereka lahir dengan orang tua macam apa. Orang – orang hanya tahu, anak – anak hujan adalah keceriaan peradaban yang tersisa. Anak – anak yang masih bisa bermain lepas di bumi yang luas. Anak – anak yang tak dibebani masa depan proyeksi orang tua. Mereka berlari, menari, menyanyi, lepas. Barangkali, itulah tawa terakhir dari anak – anak yang tak punya beban. Karena kemudian, anak – anak tertawa sebagaimana orang dewasa tertawa. Saat itulah, anak – anak hujan sudah malas mengunjungi bumi. Hilang di tikungan, seperti lelakinya yang berjanji hanya pergi sebentar.

Di bawah kanopi hujan yang menaungi mimpimu, aroma katamu yang kurindu, saat kaukatakan : maukah kau berbagi cangkir kopi denganku ?

Catatan :

*) sesaat adalah abadi, diambil dari sajak Hatiku Selembar Daun (Sapardi Djoko Damono)

**) Tembang Macapat, Maskumbang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s