Banteng Jawa : Konservasi itu Menghidupi

Banteng jawa di Taman Safari II, Prigen, Jatim. Foto: Titik Kartitiani
Banteng jawa di Taman Safari II, Prigen, Jatim.
Foto: Titik Kartitiani

Pernahkan kita bayangkan, keberadaan satwa liar nun jauh di hutan adalah harapan keberlanjutan hidup warga metropolitan, yang tinggal ribuan kilometer jauhnya ? Banteng liar di hutan Jawa Timur membantu menghadirkan daging sapi legit di meja makan.

Siang itu, 5 Desember 2005, ketenangan Desa Kabat, Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, terusik. Seekor banteng jawa (Bos javanicus) masuk ke perkampungan penduduk. Keterkejutan di kedua belah pihak, yakni warga dan banteng menjadikan suasana kacau. Akibatnya banteng mengamuk dan warga berusaha untuk membela diri. Berakhir dengan evakuasi banteng tersebut ke TSI II (Taman Safari II) di Prigen, Jawa Timur. Tak tercatat adanya korban yang serius, kecuali banteng yang tertekan dan warga yang tak lagi merasa aman.

Masih di Banyuwangi, banteng jawa kembali tersesat ke Desa Kesilir, Kecamatan Silir Agung pada Bulan September 2006. Peristiwa kedua ini menimbulkan korban luka. Barangkali, luka serupa bisa saja terjadi karena kecelakaan lalu lintas atau sebab lain yang lebih wajar. Namun amuk banteng, menjadikan warga siap siaga untuk melawan. Perlawanan warga di perbatasan hutan habitat asli satwa liar ini tak jarang menimbulkan korban. Apalagi ketika sekawanan banteng, 20 ekor jumlahnya, masuk ke perkebunan kakao, kopi dan karet di kawasan Banyuwangi.

Banteng bukan lagi menjadi lambang kegagahan dan satwa liar yang harusnya dilindungi. Bagi warga dan petani di lokasi setempat berprinsip membunuh atau dibunuh. Sejak itu, perburuan semakin marak. Populasi banteng jawa pun terjun bebas. Menurut pendataan yang dilakukan petugas Taman Nasional Baluran pada tahun 2009, populasi banteng jawa tak lebih hanya tinggal 20 ekor. Bandingkan dengan populasi tahun 1980 yang mencapai ratusan ekor.  Sedangkan di Alas Purwo, menurut pendataan yang dilakukan Sandy Novianto, peneliti dan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), populasi banteng jawa tinggal 27 ekor saja. Kedua lokasi tersebut adalah habitat asli dari banteng Jawa selain juga di Meru Betiri.

Leluhur sapi bali

Melihat ribuan banteng jawa yang sedang minum air di telaga adalah magnet bagi wisatawan dan petualang untuk datang ke Taman Nasional Alas Purwo Baluran di Jawa Timur dan Meru Betiri. Sedangkan keberadaan ribuan banteng yang sedang minum pun terakhir kali disaksikan sekitar tahun 1980-an. Kini sudah susah menemukan fenomena itu. Penyebab turunnya populasi banteng jawa yaitu perburuan, menyusutnya habitat dalam hal ini menyempitnya hutan dan perubahan iklim. Tekanan terhadap habitat banteng jawa yang menyebabkan ketersediaan makan di hutan berkurang. Makanan yang disukai banteng berupa rumput, pucuk daun muda, buah – buahan dan bambu. Ketika makanan semakin menipis, mau tak mau banteng pun masuk perkampungan dan perkebunan. Itulah yang mengawli konflik dengan warga.

Secara fisik, banteng jawa tingginya antara 1,55 m – 1,65 m dengan berat 600 – 800 kg. Ukuran tubuh ini bisa menjadi pembeda jenis kelamin. Yang jantan lebih besar dibandingkan dengan yang betina. Warna juga bisa menjadi pembeda jenis kelamin. Banteng jantan berwarna hitam kebiruan atau coklat gelap sedangkan betina berwarna coklat terang dengan garis punggung berwarna lebih gelap.

Di bagian kepala, banteng betina punya tanduk pendek. Tanduk ini agak melengkung ke arah belakang kepala agak ke atas. Sedangkan tanduk jantan lebih panjang, antara 60-70 cm. Kedua tanduk melengkung membentuk lingkaran di atas kepala dimana kedua ujung tanduk menghadap ke atas. Di bagian mata, banteng jantan punya bintik putih di bagian atas mata. Sedangkan banteng betina tidak punya.

“Kesamaannya, baik jantan dan betina seperti mengenakan kaos kaki panjang (stocking),” kata drh. Ivan Chandra, kurator satwa di TSI II. Stocking yang dimaksud berupa bulu warna putih di bagian bawah kakinya hingga mencapai lutut. Warna putih juga ada di bagian belakang paha, berbentuk lingkaran. Ciri – ciri tubuh ini dibawa sampai banteng didomestikasi menjadi sapi bali.

Inbreeding yang merugikan

“Sapi bali dan banteng, susah dibedakan dari ciri – ciri fisik. Kalau saya lihat, banteng yang dijinakkan ya jadi sapi bali,” kata Kadek Kesuma Atmaja, dokter hewan di TSI II. Kalimat senada juga diungkapkan oleh Hoogerwerf (1970) bahwasannya banteng adalah tetua sapi bali (Bos javanicus f. domestica) yang pada awalnya dibudidayakan baik di Jawa, Madura maupun di Bali. Kendati demikian, belum ada catatan yang pasti sejak kapan banteng dibudidayakan.

Seperti makalah yang disampaikan dalam Owaka (Orientasi Wartawan Konservasi) di Prigen, Juli silam, Ivan menuturkan bahwa sapi bali kemungkinan masih spesies asli dari banteng yang dijinakkan berabad – abad silam. Cirinya warna bulu merah bata, untuk sapi jantan akan menjadi hitam jika dewasa. Ada warna putih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas dan kaki bawah mulai dari tarsus dan carpus (seperti stocking). Selain itu, punya gumba dengan bentuknya khas dan ada garis hitam di bagian atas punggung.

Sapi bali ini menjadi harapan penghasil daging di Indonesia karena punya prosentase karkas dan kualitas daging yang tinggi. Dalam hal peningkatan populasi, sapi bali punya angka reproduksinya yang tinggi dan tingkat adapatasi yang sangat baik terhadap kondisi pakan yang jelek. Bahkan toleran terhadap lingkungan yang panas. Keunggulan terakhir ini bisa menjadi harapan keamanan stok pangan menghadapi perubahan iklim.

Selain sapi bali, Indonesia punya sapi lokal unggul yakni sapi madura. Menurut Ivan, sapi madura berasal dari hasil persilangan antara banteng dengan sapi zebu (Bos indicus). Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan sapi bali, kaki pendek dan kuat. Bulu berwarna merah bata agak kekuningan, bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih. Namun garis antara putih dan coklat tidak tegas. Sapi madura juga tahan terhadap iklim panas, lingkungan marginal dan tahan serangan caplak.

Kedua sapi tersebut menjadi andalan untuk mencukupi kebutuhan daging di Indonesia. Masalahnya, kebutuhan semakin meningkat tapi produktivitas semakin menurun. Ada beberapa sebab, salah satunya mutu sapi lokal yang semakin hari semakin kecil ukuran tubuhnya dan tak produktif. “Penurunan kualitas ini disebabkan karena kawin sedarah (inbreeding) dari sapi bali maupun sapi madura,” terang Ivan. Karenanya, diperlukan indukan baru yang tak sedarah. Banteng bisa menjadi harapan untuk meningkatkan performa sapi.

Harapan baru perbaikan genetik

“Banteng dan sapi bali punya kromosom yang sama, karenanya bisa disilangkan,” kata Suparwoko, Kepala Dinas Peternakan Jatim. Selain memperbaiki performa, indukan banteng dalam hal ini sebagai pejantan diharapkan bisa menghasilkan silangan yang tahan virus jembrana. Selama ini, sapi bali dilarang untuk dibawa keluar bali karena dikhawatirkan menyebarkan virus jembrana ke daerah lain.

Sebihnya, Ivan mengatakan bahwa sapi bali yang berat optimalnya hanya 300 kg, bila dikawinkan dengan banteng  maka hasil silangannya bisa mencapai berat 450 kg per ekor. Dalam hal toleransi terhadap lingkungan, banteng tahan dengan lingkungan yang lembab dan musim hujan dan kondisi kering musim kemarau. Diharapkan, silangannya akan mewarisi sifat ini.

Hanya saja, menggunakan banteng jawa sebagai indukan menemui kendala. Secara teknis, banteng jawa tak bisa diintroduksikan ke Bali untuk dikawinkan. “Karena tingkat stresnya tinggi,” kata Tony Sumampau, direktur TSI Cisarua. Walaupun beberapa ekor sudah berhasil beranak di penangkaran. Kini, TSI II punya 22 ekor banteng jawa dan 11 ekor dari hasil evakuasi sejak tahun 2005. Tony mengusulkan dengan kawin suntik sehingga TSI menyanggupi untuk menyumbang sperma banteng.

Tawaran ini disambut baik oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Lawang, Malang. “ Sperma beku bisa tahan sampai 20 tahun, bahkan sampai indukannya sudah tidak ada lagi,” kata drh. Herlianten, kepala BBIB. Inseminasi buatan menjawab banyak kesulitan yang dihadapi indukan banteng yang masih berkarakter liar ini.

Indukan jantan tak perlu dibawa ke tempat inseminasi, cukup spermanya saja. Karenanya bisa mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama. Angka kelahiran bisa ditingkatkna dengan cepatn dan teratur. Secara teknis, menghindari kecelakaan saat perkawinan karena ukuran banteng jantan sangat besar bila dibandingkan dengan sapi betina.

Di atas kertas, banteng jawa menjadi harapan baru untuk swasembada daging. Karenanya, perlu kehendak dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Dari banteng jawa nun jauh di tengah hutan Jawa Timur, bisa mendukung terhidangkan sepiring steak sapi nan lembut made in Indonesia di megahnya kota metropolitan.
Note: Tulisan ini pernah dimuat di FLONA, tahun 2o1o

yang kita punya, semakin kita sayang untuk turut memusnahkannya. Karena mereka adalah sumber kehidupan manusia.

yang kita punya, semakin kita sayang untuk turut memusnahkannya. Karena mereka adalah sumber kehidupan manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s