Hikayat Pohon Ganja : PISAU BERMATA DUA TANAMAN GANJA

Kampanye gencar anti penyalahgunaan narkoba yang dideklarasikan pemerintah, semenjak tahun 1970-an agaknya sukses untuk menjadikan ganja (Cannabis sativa) sebagai barang yang harus dihindari bahkan ditakuti.

ganja intisariKetika mendengar kata “ganja”, yang terbayang dalam benak kita ada bahan terlarang yang secepatnya dihindari jika tidak ingin berurusan dengan polisi, atau jika tidak ingin terjebak dalam lingkaran penyalahgunaan narkoba.

Larangan ini bermula ketika tahun 1954 , komite ahli WHO memberi masukan kepada Commision on Drugs Liable to Produce Addiction bahwa hasil olahan tanaman ganja tidak memiliki kegunaan sama sekali. Masukan WHO tersebut diafirmasi ulang dan dijadikan landasan pelarangan ganja pada Konvensi Tunggal PBB tentang tentang Narkotika (UN Single Convention on Narcotic Drugs) tahun 1961. Konvensi ini menghasilkan penyatuan berbagai perjanjian internasional mengenai narkotika yang disepakati sebelumnya.

Konvensi PBB ini bersama amandemennya pada tahun 1972 menambah Perjanjian Anti – Narkotika PBB (UN Anti-Drugs Treaties) tahun 1971 dan 1978 yang menjadi dasar dari berbagai implementasi sistem antinarkotika di negara – negara seluruh dunia saat ini, termasuk Indonesia.  Aturan ini merupakan genderang resmi untuk perang melawan narkoba termasuk ganja.

Di Indonesi dan juga mungkin di dunia, sejarah ganja adalah sejarah ketakutan manusia. Dan juga disinyalir ada kepentingan bisnis yang kuat bahkan melibatkan korporasi minyak dunia. Ketakutan dan kepentingan bisnis yang kuat inilah yang disinyalir sukses menebar antipati dan mengubur sejarah ganja yang pernah peradaban manusia. Melupakan manfaat yang pernah menyelamatkan nyawa manusia yang menderita penyakit berat. Menutup ilmu pengetahuan untuk mempelajari secara ilmiah tentang segala kemungkinan. Barangkali ini adalah cara termudah untuk menghadapi dilema antara berkah dan musibah, yakni menakut – nakuti daripada mempelajari manfaat yang tidak disalahgunakan. Buku ini ingin menguraikan kembali hal – hal yang terlupakan dan menjadi rahasia ilmu pengetahuan mengenai manfaat tanaman ini. Bukan maksud untuk melawan aturan atau sekadar memberikan kontroversi. Hanya saja ingin membuka pengetahuan yang selebar – lebarnya sehingga orang tahu secara obyektif kapan harus memanfaatkan dan kapan harus menghidari. Inilah yang ingin dipaparkan oleh penulisnya dari LGN (Lingkar Ganja Nasional) .

Dua mata pisau

Tiada ciptaan Tuhan yang sia – sia, itu judul sambutan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat untuk buku Hikayat Pohon Ganja, 12000 tahun menyuburkan peradaban manusia. Bagi Komaruddin, Allah menciptakan tidak mungkin tanpa tujuan yang baik bagi manusia mengingat manusia adalah pundak kreasi-Nya. Hanya saja, sikap manusia terhadap bumi mesti santun dan penuh kasih.  Manusia tidak mungkin menang dan pasti akan kehilangan kehidupan surgawi ketika sombong dan melawan ‘ibu pertiwi’. Kearifan kuno mengajarkan keserasian antara habit,  habitus dan habitat. Ketika manusia sebagai habitus mengambil sikap ekploitatif dan konfrontatif terhadap habitat alamnya, kedamaian dan kesejahteraan kian menjauh. Kita pasti kalah. Jadi ketamakan manusialah yang akhirnya balik mencelakakan sebagai konsekuensi logis dari hukum alam sebagaimana keberadaan ganja.

Ganja baru resmi dicatat dalam kerajaan tanaman  dengan nama ilmiah Cannabis  sativa oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753. Perihal spesies dan jenis, hingga kini masih banyak terjadi perdebatan. Ada yang mengatakan ganja sebagai spesies tunggal yakni Cannabis sativa saja. Sementara varian  morfologi lain hanya sebagai  varietas yakni C. indica dan C. redealis Tapi ahli lainnya menyebut ganja terdiri dari beberapa spesies.  Semisal periode tahun 1893 – 1990 index kewensis (daftar nama ilmiah bagi biji – bijian yang dikeluarkan oleh Royal Botanical Garden di Inggris ) terdapat jenis – jenis yaitu C. chinensis, C. erratica, C. foetens, C. lupulus, C. macrosperma, C. americana, C. generalis, C. gigantea, C. intersita dan C. kafiristanica.

Kesepakatan terbaru dikeluarkan oleh Schultes dan para ilmuwan dari University of Mississipi yang mengumumkan dukungan terhadap ahli Rusia bahwa Cannabisa sativa , C. indica dan C. ruderalis adalah spesies tersendiri. Pembagian spesies ini menjadi penting terkait dengan undang – undang federal dan undang – undang negara bagian Amerika Serikat yang dengan spesifik mendifinisikan bahwa marijuana sebagai spesies dari C. sativa yang dilarang kepemilikannya.

Menurut buku ini, pernyataan ini juga perlu dipertanyakan. Karena sejak tahun 1754 (saat Lamark memberi nama C. indica) sudah diketahui secara luas di dunia botani bahwa C. indica mengandung zat psiokoatif yang jauh lebih tinggi daripada spesies C. sativa yang banyak tumbuh di Amerika. Dari sinilah muncul dugaan bahwa sebenarnya pemerintah Amerika (dan ilmuwan terkait) sedang berusaha menutupi informasi akan keunggulan serat dan biji dari varietas atau subspesies C. sativa lainnya dari publik Amerika dan menggolongkannya sebagai narkotik.

Tanaman ganja berkembang biak dengan biji di mana bunganya dioecious yakni bunga jantan dan bunga betina berada di tanaman yang berbeda. Walaupun semua tanaman ganja bisa menghasilkan bunga, tapi hanya tanaman betina saja yang bisa menghasilkan biji. Akar ganja berbentuk serabut dan menghujam ke tanah sampai panjang mencapai sepersepuluh panjang batangnya. Akar serabut dari ganja dikenal luas bermanfaat menggemburkan tanah.

Batang ganja bervarieasi antara 1 – 9 m tergantung dari varietas dan iklim mikro yang mendukung pertumbuhan optimalnya. Bagian dalam batang ini terdari dari serat selulosa pendek seperti pada pohon kayu. Sedangkan kulit batang bersifat hidrofobik (menolak air) sehingga sulit membusuk serta jauh lebih kuat dari serat kapas, rami dan abaca. Sebuah pengetahuan dan tentunya bisa menjadi potensi yang bisa diambil manfaatnya.

Bagian lain yang penting dari tanaman ganja, terutama bagi yang menikmati efek memabukkan adalah trikoma atau bulu – bulu halus yang tumbuh di seluruh permukaan tanaman ganja yang bersentuhan dengan udara,  terutama di bagian daun dan bunganya. Trikoma menghasilkan berbagai macam zat kimia dalam bentuk resin (getah) yang salah satunya bernama delta – 9 – Tetrahydrocacannabinol atau THC.

Bagi tanaman getah / resin ini diduga untuk melindungi kekeringan debngan memerangkap uap air dari udara sekitar. Karenanya, ganja yang tumbuh di kawasan tropis menghasilkan THC lebih banyak daripada yang tumbuh di  kawasan subtropis. Bagaimana manusia menemukan efek memabukkan dari THC, masih menjadi misteri.

Dari pemahaman akan proses mabuk, bahwa kandungan zat psikoaktif pada tanaman perlu perlu memiliki pasangan reseptor (penerima) pada otak atau sistem saraf makhluk hidup yang mengonsumsi agar senyawa tersebut bisa bekerja. Pada manusia, dua jenis reseptor di otak untuk molekul dari taman ganja sudah ditemykan pada tahun 1988 dan diberi nama Reseptor Cannabinol ( CB 1 dan CB2). Reseptor CB1 terdapat pada otak danb tulang belakang manusia, sedangkan reseptor CB2 ditemukan pada sistem saraf di luar otak dan di tulang belakang.

Dari proses tersebut di atas, kita bisa melihat keterkaitan manusia dan alam sebagai lingkaran yang saling bergantung.. Khususnya ganja dengan manusia, kita melihatnya dari sisi kekuatan dan manfaat.  Bahwa di cuaca panas membiakkan beragam penyakit endemik yang menyerang manusia. Sementara itu tanaman ganja memgimbangi dengan memproduksi getah dalam jumlah banyak. Getah ini ternyata berfungsi ganda bagi manusia, fungsi pertama adalah memabukkan, menekan agresi dan memberikan efek euforia (kesenangan). Sementara fungsi kedua adalah membunuh mnikro organisme dari bakteri, virus hingga organisme seperti cacing.

Sebuah survei tahun 1970-an menemukan bahwa 90 % dari 488 kelompok masyarakat kelompok masyarakat di seluruh dunia telah melembagakan proses mengubah kesadaran. Adanya orang pintar, dukun, ahli ramuan, shaman dan berbagai profesi unik lainnya yang dianggap sering berhubungan dengan dunia gaib, biasanya juga berghubungan dengan pengetahuan  akan tanaman yang memabukkan. Golongab profesi ini banyak difasilitasi, dipelihara dan dihormati oleh sebagian kelompok masyarakat. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan ‘mabuk’ untuk mengubah dan memperluas kesadaran manusia (dan juga untuk bersenan – senang merupakan kebudayaan yang umurnya sangat tua.Karena itulah, Siegel-peneliti etnologi menyebutkan bahwa pencarian akan zat – zat memabukkan atau segala cara lain untuk mengubah kesadaran merupakan dorongan keempat pada manusia setelah dorongan  makan, minum dan seks.

Hikayat ganja

Jauh sebelum Carolus Linnaeus mencatat, manusia sudah mengenal ganja dengan berbagai nama. Catatan tertulis pertama yang lengkap tentang tanaman ganja berasal dari lempengan tanah liat yang ditulis dengan huruf paku (cuneiform) oleh bangsa Sumeria seperti A-zal-la (tanaman yang memintal), Sa-mi-ni-is-sa-ti, Har-mu-um, Har-Gud, Gur-gur-Rum (tali tambang) dan Gan-Zi-Gun-Na (pencuri jiwa yant terpintal) merujuk pada satu jenis tanaman yakni ganja. Walau serat ini merupakan penggunaan ganja yang dikenal belakangan. Karena jauh sebelumnyam ganja dikenal sebagai tanaman obat dan untuk upacara spiritual yang berhubungan dengan tingkat kesadaran.  Sebagaimana ditulis bangsa Romawi menulisnya dalam literatur dengan nama kannabis yang merupakan tanaman strategis dengan berbagai kegunaan. Ganja dimanfaatkan sebagai analgesik (penghilang rasa sakit) dalam situasi perang, bahan untuk tali temali, tekstil, minyak untuk penerangan, memasak dan lain – lain. Hingga akhirnya lahir istilah cannapaceus atau canape yang bermakna segala sesuatu yang dibuat dari cannabis.

Ada banyak manfaat cannabis mengiringi peradaban manusia. Penulisan sejarah mengenai ganja sebagai salah satu pengibatan tertua di dunia dilakukan pertama kali di Cina. Karenanya, negeri ini kerap disebut – sebut sebagai asal dari ganja. Walaupun para ahli sepakat, bahwa habitat ganja dari Asia, bukan hanya di China. Kita Pen T’sao Ching, yang berasal dari kumpulan catatan Kaisar Shen Nung pada tahun 2900 SM adalah salah satu kitab pengobatan tertua di dunia yang menyebutkan kegunaan ganja untuk menghilangkan sakit datang bulan, malaria, rematik, gangguan kehamilan, gangguan pencernaan dan penyakit lupa. Menurut kitab ini, Ma-Fen atau bunga dari tanaman ganja betina mengandung jumlah terbanyak dari energi Yin. Karena itulah Ma-Fen diresepkan untuk penyakit yang menyebabkan hilangnya energi Yin, seperti sakit menstruasi, malaria, rheumatik, beri – beri, susah buang air besar dan sering lupa.

Masih dari pengobatan Cina, ganja digunakan sebagai anestesi (penghilang rasa sakit) yang dipopulerkan oleh Hua T’o yang hidup sekitar tahun 220 M. Ahli bedah pertama ini telah melakukan berbagai operasi bedah yang sulit tanpa menimbulkan rasa sakit. Operasi transplantasi organ, pembedahan usus,  bedah rongga perut dan pembedahan dada dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit pada pasien. Menurut catatan, Hua T’o menggunakan ramuan bernama Ma-Yo yang terdiri atas getah ganja (ma) dan minuman anggur (yo).  Kitab Pen  T’sao Ching juga memperingatkan bahwa memakan terlalu banyak biji ganja (Ma Zi) dapat menyebabakan orang melihat makhluk halis dan dbila dilakukan dalam periode lama dapat membuat orang berkomunikasi dengan roh. Manfaat untuk medis dan mengubah kesadaran ini kemudian menyebar ke berbagai negara yang menyimpan sejarahnya masing – masing benua. Mulai Asia (Cina, Mesopotamia, Persia, India, Tibet, Jepang, Semenanjung Arab), Afrika (Mesir), Eruasia (Yunani dan Romawi), Amerika Selatan (Jamaika) dan Eropa (Skandinavia, Inggris Raya, Perancis)

Kejayaan serat ganja di Amerika

Seorang penjelajah Inggris , Sir Walter Raleigh sudah tertarik dengan tanah Amerika sejak tahun 1585, melalui cerita temannya, Thomas Heriot. Katanya Heriot, Amerika penuh dengan tanaman ganja. Namun sebenarnya, ahli botani mempertanyakan kebenaran Heriot. Kemungkinan yang dilihat adalah Acnida cannabium, tanaman penghasil serat yang mirip C. sativa namun kualitasnya di bawah serat ganja. Mungkin Heriot hanya mengambil keuntungan dari kebutuhan Inggris yang besar akan pasokan serat.

Namun demikian, orang Eropa berdatangan ke Amerika. Tidak hanya karena serat, tapi karena isu kekayaan mineral di New World tersebut. Tentu saja yang didapatkan hanya tanah gersan, jangankan logam mulia, untuk bertahan hidup pun susah. Sebuah dokumen 1620 mengatakan bahwa 5 dari 6 orang pendatang meninggal karena kelaparan.

Dalam keadaan yang tragis tersebut, datanglah pertolongan dari penduduk setempat, yakni suku Indian. Mereka mengajari bercocok tanam makanan pokok seperti gandum dan jagung. Dan juga mengajari memupuk dengan bangkai ikan. Para pendatang terselamatkan dan mereka berhasil menguasai budidaya tanaman. Rasa terima kasih kepada suku Indian pun diperingati sebagai Thanksgiving Day. Catatan paling awal mengenai perayaan Thanksgiving berasal dari Berkeley, Virginia tahun 1619 dan Plymouth tahun 1921, di mana para pemukim mengadakan perjamuan dengan suku Indian.

Tahun 1911, perintah resmi kerajaan Inggris untuk bercocok tanam ganja datang dari koloni Amerika. Sir Thomas Dale sebagai gubernur baru yang mengumumkan kepada seluruh penduduk untuk menanam  ganja. Saat itu terjadi dilema, karena tembakau lebih menguntungkan dibandingkan ganja. Kemudian petani mengambil jalan tengah, bahwa sebagian komoditi utama memang tembakau. Hanya masing – masing penduduk diwajibkan menanam 100 batang ganja dan untuk gubernur 500 batang.

Awalnya, ganja kemudian menjadi alat tukar. Dimana 1 pound serat ganja ditukar dengan 2 pound tembakau. Lama kelamaan, tahun 1682, Virginia berhasil mendorong produksi serat ganja dengan menjadikan serat ganja sebagai alat pembayaran pajak yang sah. Saat itulah, kebutuhan serat ganja dari kebutuhan Inggris semakin meningkat. Sementara Amerika belum berhasil memenuhi. Alasannya karena terbatasnya buruh dan tingginya upah. Bahkan presiden Amerika George Washington dan Thomas Jefferson pernah mencoba menanam ganja dan bangkrut.

Saat inilah terjadi politik dagang, di mana Amerika mulai tidak mau mengirimkan bahan mentah serat ganja ke Inggris. Benjamin Franklin, Presiden Amerika pada masa itu memilih mengirimkan barang jadi. Hingga penerapan tanam paksa untuk tanaman ganja. Walaupun demikian, kebutuhan serat masih belum terpenuhi. Apalagi munculnya kebutuhan akan kertas yang semakin meningkat. Kertas muncul menjadi komoditas penyerap suplai serat ganja . Menilik manfaat sebagai bahan baku kertas ini, ganja menjadi lebih potensial dibandingkan dengan serat dari kayu. Ganja hanya butuh waktu 3 bulan dipanen, sedangkan kayu butuh waktu tahunan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Bagus Takwin, S.Psi, M.Hum, Dosen Fakultas Psikiologi UI, bahwa sejarah telah bijak memanfaatkan pohon itu, tentang betapa kita menyianyiakan manfaat itu. Di mana regulasi pemerintah yang mengkriminalisasi ganja secara totaliter. Sains yang lebih fokus kepada hal – hal negatif ketimbang hal positif dari ganja. Hal tersebut menggugah kita untuk merenungi lebih jauh perlakuan kita terhadap tanaman ii. Menggugah kita untuk memahami dunia dengan kekuatan  – kekuatan  manusia, bukan dengan kelemahannya.

Note:
Tulisan ini pernah dimuat di Cukilan Buku INTISARI, 2o13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s