Christophe Dorigne Thomson

“Lebih mirip adikku hahaha,” katanya. Saya membuatmu lebih muda ya..

Saya memanggilnya “Christ“, walau sebetulnya lebih mudah bila saya menulis “Kris”. Tapi menulis dengan huruf lengkap itu unik juga rasanya. Saya kenal dari tulisannya di Kompasiana, tentang bule yang dirental. Tulisan yang membuat saya mengerutkan kening, lalu tertawa. Lalu saya membaca hampir semua tulisannya di blognya. Tulisan satir tentang hubungan “bule” dan orang Indonesia. Menjadi menarik, karena yang menulis si bule itu sendiri.

Lalu diskusi berlanjut ke banyak hal, termasuk novelnya: Jakarta. Dia menulis tentang Indonesia tentang petualangannya, walau tersamar, tapi tampak si tokoh tak jauh dari dirinya. Satu hal yang saya salut padanya, dia berbahasa Indonesia dengan tata bahasa yang bagus, dan aksennya pun nyaris tak kentara jika dia bule. Bahkan mengaku dua ratus persen bule, hasil ‘penjumlahan’ dari ayahnya orang Prancis dan ibunya Inggris.

Satu hal yang saya iri padanya, kemampuannya dalam multilanguage. Tak seperti stereotip orang Prancis yang konon tidak mau belajar bahasa lain selain bahasanya. Christ mempelajari semua bahasa, di setiap negara atau daerah yang ia tinggali. Termasuk Bahasa Sunda. Sekarang, tampaknya ia sedang mempelajari bahasa Mandarin. Bener, Christ?
Mengutip kata Subcomandate Marcos, bahasa adalah cara berpikir. Dengan mempelajari banyak bahasa, sama halnya dengan mendalami cara berpikir suatu bangsa. Itulah yang  saya sebut Christ sebagai “petualang”, selain dia memang sering bepergian.

Juga makanan Indonesia. Pernah suatu kali, kami mencari tempat makan. Ada banyak menu Eropa yang mestinya lebih pas dilidahnya. Ia memilih pecel. Hal lucu yang saya ingat, ketika penjaga stan makanan itu lenyap. Ternyata malah main HP. Dengan lempeng, Christ bertanya:”Lagi sibuk ya, Mas?” Penjualnya pun senyum malu.

Hanya “kemenangan” kemudian berbalik, ketika ternyata pecel itu pedas sekali. Saya, yang sebetulnya suka pedas, tetap terbakar juga lidah. Muka Christ langsung merah seperti dilumuri cabai rawit. “Wah, kok tadi nggak bilang kalau sangat pedas,” komentar Christ pada penjualnya. Penjualnya senyum, masih main HP.

Christ memang jenaka. Termasuk hobinya dengan teh dan suka panda. Ya, boneka panda! You look so sweet, ah… Dan bisa sangat serius ketika membahas soal ekonomi, Indonesia, dan hukuman mati. Itu obrolan terakhir kami, bulan lalu. Ketika dia membahas serius tentang satu hal, melihat wajahnya, saya kok malah jadi ketawa. Sorry Christ, bukan maksud apa-apa, tapi “keusilan” pemikiranmu itu sebetulnya yang lekat di benakku.

Christ alumni sekolah bisnis, ESSEC Bussiness School di Prancis. Christ juga anggota termuda Dewan Internasional The Arts Arena dari American University of Paris, organisasi yang mengumpulkan Hadiah Nobel Roald Hoffmann. Itu prestasinya. Tapi yang menarik bagi saya, Christ adalah sahabat yang menyenangkan, kawan diskusi yang menarik. Sekali lagi soal stereotip, bahwa orang Prancis konon sombong. Tapi saya rasa Christ tidak begitu (eh, tapi kenapa di instagram tidak ada satupun yang di-follow, apa itu kategori sombong juga ya. Eh, ngga penting juga, Christ…sungguh.

Feeling saya semula, dia unik, Ternyata, dia pernah menjadi ketua “pemberontak”. Mengetuai KTT Generasi Baru yang diselenggarakan di parlemen Prancis selama pemilihan Presiden Prancis tahun 2007. Mengorganisasikan pemuda di Perancis untuk mendukung presiden yang lahir dari golongan muda. “Kalau Prancis dan juga Eropa dipimpin oleh generasi tua, maka akan stag. Selesailah Eropa,” katanya.

Lalu kenapa kamu memilih Indonesia? Saya kok mikir, kamu bagian dari economic hitman. Christ tertawa saat itu. “Ya, saya baca John Perkin. Tapi saya bukan economic hit man,” katanya. Dia jatuh cinta dengan Indonesia sejak pertama mengenalnya, awal tahun 2ooo. Ia ikut misi kesenian di Jogjakarta. Sejak itu, dia menemukan sebuah negeri yang menurut dia memberi harapan. Terutama generasi mudanya. Kreatif, Itu yang membuatnya jatuh cinta.

Kini Christ sedang menunggu buku keduanya , yang rencananya terbit pertengahan Juni mendatang oleh Bentang atau Mizan ya. Proud of you, Christ! Teruslah “usil”, teruslah berpetualang. Saya suka membaca catatanmu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s