Tihi Tihi, Sebuah Kampung yang Mengapung dalam Ruang Imaji

Ada satu spot dengan kode Peta Kerja 7 di data Pulau-Pulau Gezeeter. Tertera : Tihitihi Island.

Perempuan ini sedang merajut jaring untuk menikat rumput laut.
Perempuan ini sedang merajut jaring untuk mengikat rumput laut.

Berkali-kali kami berniat mencoret nama ini. Karena mesti ditempuh 12 jam perjalanan darat dari pulau terakhir yang kami kunjungi . Selain itu, pulau ini begitu samar di peta. Bila dibandingkan dengan daratan Kalimantan, seperti Pluto yang dibandingkan dengan matahari. Hanya saja, karena samar, karena tak jelas ini membuat kami tertarik. Apalagi namanya susah dieja.

“Ya seperti namamu, susah. Ukurannya pun sama persis denganmu,” kata Bang Ule sambil nyengir. Sebetulnya kami tak yakin juga, apa yang akan kami dapat dari ketidakjelasan itu.

Begitulah, kami akhirnya sampai di pulau itu sembari menghabiskan puluhan lembar “Ring of Fire” Lawrence Blair di speedboat. Karena memang jauh. Ternyata, ejaan yang betul, atau setidaknya lebih banyak ditulis di papan nama: Tihi Tihi . Tapi ada papan juga yang menulis: Tihik-Tihik. Sebuah kampung terapung yang hanya dihuni tak lebih dari dua puluh KK. Uniknya, rumah ini menempel di pulau. Tidak seperti kebanyakan pulau lain, walau rumahnya terapung, tapi ada sebagian yang menempati daratan. Tapi Tihi Tihi tidak, justru daratan dibiarkan kosong. Mungkin, orang-orang ini sudah lupa cara hidup di darat.

Kampung super kecil ini beraroma rumput laut. Amis yang bagi saya tak familiar. Karena semuanya memang bertanam rumput laut. Saya tak ingin membicarakan kemiskinan di sini. Karena hampir semua kampung terapung kondisinya “sederhana”. Tapi Tihi Tihi terasa unik karena saya melihat mudahnya sebuah kampung terbentuk. Mereka rata-rata dari Mamuju, menjadi nelayan, kemudian merasa cocok mendarat di Tihi Tihi, jadilah mereka tinggal. Begitu saja. Dan belum lama. Mungkin baru 15 tahun lalu. Namanya pun berasal dari nama binatang, jenis bulu babi, yang dalam bahasa Banjar disebut: Tihi Tihi.

Di sini saya membayangkan mereka seperti  seed dispersal. Biji kelapa terapung di laut, nyangkut di akar mangrove, lalu tumbuh. Begitulah. Mamuju-Tihi Tihi lumayan jauh bila ditempung dengan ketinting, lalu menetap dengan kehidupan “yang begitu saja”. Saya jadi membayangkan, seperti apakah di tanah asalnya.

Memandang laut lepas dari ujung dermaga, saya merasa terdampar jauh sekali. Tapi jarak itu mendadak menjadi dekat, ketika tetua di sana menyambut saya dengan Bahasa Sunda. Dia berasal dari Cianjur, beberapa tahun di Bontang sebagai buruh tambang, lalu menikah dan tinggal di Tihi Tihi. Dia bercerita dengan bahagia, dengan bangga, bahwa Tihi Tihi adalah promised land-nya.

“Kapan terakhir pulang ke Cianjur?” tanya saya. Dia tersenyum, tidak ingat. Ada kerinduan tersirat. Dari pintu sebelah, terdengar lagu yang saya kenal. Lagu yang biasanya dinyanyikan Anto, pengamen sl Kebumen yang biasa menyanyi di bis 34 terakhir, Blok M-Cimone. Saya ingat bagaimana Anto menyanyi, dengan memejamkan mata, dan begitu menghayati sebuah kerinduan pada entah siapa, atau apa.

“...Syahara kasihku, kaumenyinari ruang hidupku. Syahdunya bersamamu, mengenang di hatiku…jalinan rasa rindu memburu di hatiku…ohh Syahara…engkaulah gadis pujaan…siramilah rasa rindu. Andai engkau dapat mengerti, betapa kumenyayangi…”*

Tiba-tiba saya merasa sudah exit di Tol Karawaci, dua ribu-an kilometer dari saya berdiri.

 Sangkurilang, 13 Mei ‘15

*Syahara. Ternyata lagu Malaysia, dinyanyikan oleh Thomas Ary. Kerap dinyanyikan sebagai dangdut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s