Tamasya Duka di Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo adalah panggung berita dan kepentingan. Adalah kisah bagaimana profesi jurnalis takluk pada pemilik modal. Sialnya, pemilik modal adalah pihak yang mestinya bertanggung jawab pada tragedi penguburan 13 desa ini. Dia “tega” mencalonkan jadi presiden!

senja
Senja di Lapindo

Padang gersang yang lupa bagaimana hidup pernah melahirkannya
Aku hanya mengenal satu frasa dengan makna tak terhingga
:air mata.

Satu screen foto masuk ke HP saya suatu sore yang kering. Foto senja dengan latar Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Ada kilau air yang membiaskan cahaya keemasan itu. Di pesan itu ditulis bahwa sore itu ia gagal mengambil video wawancara dengan tukang ojek yang akan dijadikan kisahnya untuk kantor berita yang berpusat di Inggris. “Debunya banyak sekali, anginnya kencang,” tulisnya. Lalu ada beberapa screen foto yang diambil dari video yang dikirimkan. Entah mengapa, kali ini saya tertarik untuk ikut dia di kunjungan berikutnya. “Senja di sini bagus,” katanya. Dia tahu saya suka senja. “Datang saja, sebagai wisatawan,” katanya. “Itu bukan air, itu genangan lumpur,” tambah kawan saya ini.

Berwisata ke semburan Lumpur Lapindo, Sidoarjo tidak pernah masuk dalam the bucket list saya. Alasannya, karena rasanya sudah terlalu banyak berita. Bahkan dijadikan nama masakan di beberapa restoran untuk numpang beken: kopi lapindo, es lapindo dll. Candaan yang tidak menarik sebetulnya. Karena saya tetap melihat bahwa semburan lumpur itu duka, tidak layak dijadikan candaan.

Alasan lain, saya tidak berminat untuk berwisata ke tempat bencana, betapapun menariknya tempat itu. Kecuali untuk menulis berita, itu beda cerita. Saya masih tidak bisa terima ketika orang berbondong-bondong datang ke tempat bencana hanya untuk selfie, lalu meng-upload ke media sosial dengan tujuan hanya untuk menunjukkan: gue udah sampai di sini loh, gue update kepedulian. Saya tidak menyalahkan, hanya saya tidak begitu suka dengan tindakan macam ini.

Kunjungan saya saya niatkan untuk menemani kawan saya ini bekerja (walau dia tidak butuh teman). Selain itu, memotret untuk photostory sebuah media (yang ternyata tidak ingin berisiko memuatnya, entah kenapa).

Begitulah, di siang yang terik, bahkan matahari masih kokoh di singgasananya, saya berdiri di tepi semburan Lumpur Lapindo itu. Kawan saya ini berkali-kali mengingatkan untuk mengenakan topi, mengenakan masker karena kita tidak tahu senyawa apa yang mengambang di udara. Bau seperti minyak tanah menyengat sekali. Tetapi peringatannya samar saya dengar, kerena begitu sampai di lokasi, saya terkesima. Banyak pertanyaan dan pernyataan berkutat di kepala, yang akhirnya justru membuat saya diam.

Merasakan angin yang begitu kuat menerpa, hamparan cakrawala yang berbatas pada kepedihan, mengingat bahwa 13 desa terkubur di bawahnya. Saya berdiri, di bawah sana, 19m dalamnya, sebuah rumah pernah berdiri kokoh. Rumah. Ya Home! Bukan House! Tempat untuk berlindung, tempat anak-anak mengerjakan PR dan menyimpan mimpinya di bawah bantal, tempat untuk pulang.

Ziarah Kesedihan
Zaiarah Kesedihan

“Di sana itu dulu pabrik jam, tempat Marsinah bekerja,” kata kawan saya menunjukkan ke sebuah titik, di samping asap putih yang terus mengepul. Sesekali, semburan lumpur setinggi 3m, pecah di jauhan.
“Masih terus keluar?” tanya saya yang tidak membutuhkan jawaban. Karena di depan saya, ada 3 titik yang terus menyembur, terus mengalir, sementra tak jauh dari situ ada Selat Madura, juga rumah penduduk yang masih dihuni. Saya melihat ke arah tanggul yang mencoba tetap tegar, tapi tampak sekali rapuh. Yang artinya, setiap saat, tanggul itu akan kalah.

Kawan saya ini tersenyum melihat saya tidak banyak bicara.
“Kamu bisa bayangkan, aku 2 tahun meliput ini. Setiap hari,” katanya.
“Mati rasa?”
“Tidak juga. Yang aku pikirkan, aku harus mengambil gambar. Aku harus,” katanya. Saya mengingat kisahnya. Lapindo adalah panggung berita dan kepentingan. Adalah kisah bagaimana profesi jurnalis takluk pada pemilik modal. Sialnya, pemilik modal adalah pihak yang mestinya bertanggung jawab pada tragedi penguburan 13 desa ini. Sebut saja TVOne, yang sepanjang catatan pemberitaan, tidak pernah memberitakan Lapindo. Beberapa waktu lalu, memberitakan ketika ganti rugi itu sudah “dibayarkan” (oleh pemerintah).

Kawan saya ini pernah menjadi bagian dari “konspirasi” pemberitaan itu, karena dia yang bertugas mengambil gambar sebagai stringer untuk area Jawa Timur.
“Awalnya aku sangat menikmati. Tapi begitu diambil alih kepemilikan, kamu tahu sendiri, beritanya seperti apa. Jadi kayak humasnya,” kenangnya. Ada kepahitan di matanya. Bagaimana profesi ini begitu rapuh untuk takluk.

Kini ia bekerja sebagai stringer untuk kantor berita luar negeri. Saya melihat, ada keleluasaan dalam menampilkan kisah. Kali ini, tentang kisah salah satu buruh pabrik yang pabriknya tenggelam, lalu menjadi tukang ojek yang mengantar wisatawan bencana ini. Saya melihat, kawan saya ini begitu tekun mengumpulkan remah berita, mendekati narasumber dengan halus, berhari-hari, untuk bisa tampil di depan kamera video dengan natural. Pemandangan yang saya suka ketika melihat seseorang tenggelam dalam dunianya. Tentu, bukan tenggelam dalam lumpur.

Dia masih mengambil gambar ketika saya melihat semburan itu. Melihat bendera merah putih tertancap, berkibar tegak ditiup angin yang begitu penuh energi, menandakan ini masih NKRI. Tiba-tiba saya ingat Pilpres tahun lalu. Bagaimana bisa, pemilik Lapindo ini mencalonkan jadi presiden? Bagaimana bisa? Kemanusiaan macam apa yang akan dikubur lagi?

Menyedihkan ketika upaya keras untuk mengubur kasusnya terjadi di depan mata, untuk menisbikan kenyataan. Menguasai pemberitaan. Berkiprah di birokrasi, kekuatan partai, bahkan sampai mengubah terminologi kata dari Lumpur Lapindo menjadi Lumpur Sidoarjo. Oke, hanya kata. Tapi kata adalah pemikiran. Kata ada cara berpikir. Terminologi ini ada upaya untuk memindahkan beban, dari pengusaha (Lapindo) ke negara (diwakili Sidoarjo sebagai representasi dari wilayah sekaligus bencana alam. Meniadakan trigernya).

Senja menjelang di tanah retak itu. Ketika banyak wisatawan yang berdatangan. Tukang ojek mendapat rezeki. Mengangkut dari pinggir jalan menuju pusat semburan dengan membayar Rp 25.000- per kendaraan. Mereka bisa selfie, foto-foto di antara patung-patung itu, lalu meng-upload ke media sosial. Ada yang salah? Tidak ada. Sah saja melakukan. Hanya mereka datang sesaat, mendokumentasikan, lalu pergi. Lumpur itu masih terus menyembur. Yang kadang semburannya alpha diingat di Jakarta, tempat banyak nasib digantungkan putusannya, 700km lebih dari tempat saya berdiri.

Sama juga saya dan kawan saya ini, yang datang lalu pergi. Satu hal, jika disebut wisata, saya mendapatkan pengalaman sebuah tamasya yang menziarahi kesedihan dan ironi, selembut apapun kekuasaan berupaya menutupnya.

Sekali saya melihat pada semburan itu. Pada malam yang sebentar lagi menyamarkannya. Kelip lampu yang mengelilingi padang lumpur ini, Tampak lelah dan terancam. Lampu-lampu yang bila tanggul ini kalah, mereka tak bisa menyala lagi. Suara belalang yang sore tadi saya lihat sembunyi di rumput yang tak banyak tumbuh. Ya, bahkan ilalang yang terkenal sebagai rumput yang gigih pun tak ada yang tumbuh di lumpur yang sudah 9 tahun lebih memadat. Tidak ada yang tumbuh. Beberapa ekor bangau mencari remah makanan. Semoga mereka tidak segera pusing.

Ah, mungkin saya terlalu melankolis. Atau kesiangan karena duka itu sudah lama sehingga menjadi biasa. Silakan bertamasya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s