Membaca Catatan Batu Bata di Trowulan

Semua candi berbahan batu bata yang tak lapuk oleh zaman. Arsitektur berbentuk persegi, dengan permainan garis dari susunan batu bata ini tak seperti candi yang terkenal dengan reliefnya. Meski demikian, kita bisa membacanya sebagai kisah masa Majapahit berjaya.

Teks: Prasto Wardoyo/Foto: Titik Kartitiani

rz
Candi Brahu

Situs Trowulan, demikian peninggalan kejayaan Majapahit ini disebut. Situs perkotaan masa klasik di Indonesia yang luasnya 11kmx9km di Kecamatan Trowulan dan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Juga Kecamatan Mojoagung dan Mojowarna, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ada ratusan ribu peninggalan Majapahit terserak di kaki jajaran 3 gunung, Gunung Penanggungan, Gunung Anjasmara, dan Gunung Welirang. Meraba Majapahit dari kekinian melalui bangunan batu bata yang terserak, terkadang tak utuh adalah petualangan tersendiri. Seperti novel yang tak pernah selesai, seperti itu pula sebuah peradaban membangun dirinya.

Membuka Gerbang Masa Silam

Menapak sisa-sisa Majapahit tak lengkap bila belum singgah di Gapura Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Nama Jatipasar digunakan oleh Raffles untuk menamai gapura ini sebagaimana tercantum dalam buku karnya, History of Java (1815). Sementara nama Gapura Wringin Lawang diambil dari catatan Knebel pada tahun 1907.  Gapura setinggi 15,5m dengan panjang 13m dan lebar 11,5m ini diyakini merupakan pintu masuk dari Kerajaan Majapahit. Sisa kerajaannya sendiri belum ditemukan karena diduga terbuat dari bahan yang mudah terbakar, sehingga tak bersisa. Wringin Lawang merupakan gapura yang tersusun dari batu bata, kecuali anak tangganya terbuat dari batu. Dari hasil penggalian arkeologis di sebelah utara dan selatan gapura terdapat struktur bata yang mungkin merupakan bagian dari sebuah tembok berkeliling.

Seorang pengunjung memotret Candi Brahu, candi Buddha yang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sore itu. Mendung menggelap rupanya menyulitkan untuk mengambil gambar. Berkali-kali kamera telepon genggamnya mencoba menangkap view candi dari jarak yang memungkinkan candi terekam utuh. Tak ada yang istimewa dari peristiwa itu, ketika seorang pengunjung memotret. Tetapi menjadi istimewa, ketika kita mencoba hadir untuk mengingat masa silam. Menurut analisa jejak karbon yang dilakuan oleh BATAN,  Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410-1646. Dahulu ketika menjadi pusat kerajaan Majapahit, candi itu tentu menjadi kawasan sakral. Orang-orang berbusana Jawa lama mengelilinginya. Saat itu, peralatan tercanggih tentu hanya peralatan berbahan logam dan tembikar.

Sampai suatu ketika, zaman menguburnya kendati candi itu tetap berdiri seperti ketika para pendiri mendirikannya. Sampai suatu ketika, candi itu kembali tegak di permukaan tanah hingga “bertemu” dengan telepon genggam dalam perjalanan abad kemudian. Andai candi itu bisa merekam dan kita bisa membacanya, akan banyak yang diceritakan dari setiap guratan batu bata yang menyusunnya. Sebagaimana berdasarkan pengamatan gaya bangunan dan profil hiasan di atap candi yang diduga berbentuk stupa, maka candi ini bersifat Budhis, berbeda dengan candi lain di sekitarnya dan berumur lebih tua.

Candi Brahu, berdasarkan Prasasti Alsantan yang ditemukan tak jauh dari candi,  berasal dari kata “waharu atau warahu” yang diperuntukkan untuk meletakkan abu jenazah. Candi dengan tinggi  25,7m dan lebar 20,7m ini terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda.

Arsitektur Cantik Sang Ratu

Bajangratu, demikian candi yang diduga berasal dari abad ke-13 hingga ke-14 itu dinamai. Sebuah bangunan pintu gerbang tipe paduraksa, yaitu gapura yang memiliki atap. Fungsi gapura ini diduga merupakan pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya wafatnya Raja Jayanegara. Berbeda dengan candi-candi lain di kawasan Mojokerto, Candi Bajang Ratu mempunyai banyak detail. Relief yang dipahat di bagian mahkota candi menjadikan candi ramping ini mengesankan feminin. Relief tersebut bercerita tentang Sri Tanjung dan Sayap Garuda yang mempunyai arti lambang pelepasan Jayanegara kembali ke dunia Wisnu. Berdiri di atas tanah setinggi 16,5m di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Atap candi ini terdapat hiasan berupa kepala Kala diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu (monocle syclop). Relief ini berfungsi sebagai pelindung atau penolak marahabaya.

Candi Tikus, Refleksi Peradaban di Permukaan Air

Melihat Candi Tikus bukan sekadar candi yang berdiri di atas tanah, komplek bangunan ini justru berupa cekungan di bawah tanah di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Menikmati pemandangan di permukaan air yang memantulkan refleksi bangunan setinggi setinggi  5,20m berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,5×22,m. Bentuk kompleks candi yang demikian disebabkan dulunya memang berupa pemandian. Keberadaan air itu masih bisa kita saksikan hingga sekarang. Membayangkan pada masa itu, tentu airnya tidak berwarna hijau. Pada dinding bagian bawah serta batur candi terdapat jaladwara (pancuran) yang seharusnya berjumlah 49 buah, kini tinggal 19 buah. Sisanya tersimpan di Museum Trowulan. Bentuk pancuran ada dua macam yaitu bunga lotus dan makara. Seluruh pancuran ini dulu mendapatkan pasokan air dari saluran yang ada di bagian selatan candi, tepatnya di belakang candi induk. Sedangkan saluran pembuangan terletak di lantai dasar.

Di atas tubuh candi terdapat menara semu, masing-masing berjumlah 5 buah. Di atas tubuh candi terdapat 4 buah menara di setiap sudutnya. Puncak menara ini sudah hilang, sehingga tidak diketahui jelas bentuk aslinya, tetapi yang jelas menara-menara ini melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat makro kosmos.

Melihat kejayaan Majapahit dengan peninggalannya, kita menyadari negeri ini adalah bangsa besar yang dibangun oleh para pendiri berabad-abad lamanya. Keberagaman dan peradaban tinggi yang bisa kita “baca” dari peninggalannya. Memang, sejarah adalah masa lalu, tetapi bisa menjadi cermin dalam kekinian dan masa yang akan datang, seperti apa negeri ini akan dibangun.

Catatan: 
Artikel ini dimuat di Majalah TRAVELONGUE, Maret 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s