Kekinian Sang Panji

Wangi dupa berbaur rancak tetabuhan gamelan menyajikan kemegahan panggung yang terawat di tengah zaman yang berubah. Topeng-topeng itu menyajikan wajah masa silam, simpul pertalian dengan para perakit beradaban tanah Jawa.

Teks: Prasto Wardoyo/ Foto: Titik Kartitiani

topeng a
Pentas topeng malangan di Tumpang

 

Malang tak sekadar hawa sejuk. Atau tenar sebagai kota pendidikan lantaran institusi pendidikan  negeri maupun partikelir yang terserak di berbagai wilayah. Malang juga berarti sejarah. Di kota yang berjarak sekitar 90 km dari Surabaya ini, sejarahnya tak hanya terekam lewat arsitektural bangunan dan lanskap kota era kolonial Belanda, dipertengahan abad 19, tapi bisa lebih tua lagi di era kerajaan yang dimulai dari Raja Gajayana, Awuku Tumapel sampai imperium Singhasari lewat peninggalannya berupa candi dan batu prasasti. Selain itu, terdapat seni budaya yang diyakini memiliki tautan dengan era kerajaan yakni topeng malangan.

Salah satu daerah  yang sampai saat ini meneruskan tradisi pembuatan topeng malang dan gebyak atau pagelaran dramatari adalah dusun Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji. Di dusun yang berjarak sekitar 12 km dari pusat kota Malang ini, berdiri sebuah padepokan bernama Asmorobangun.

Dalam kompleks padepokan yang memiliki luas 1000 meter persegi ini berdiri dua bangunan yakni pendopo  dengan ukuran 15 x 15 meter serta sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan topeng dan perlengkapan tari.

Di teras bangunan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pendopo ini, kita bisa melihat proses pembuatan  topeng malang mulai dari awal sampai jadi. Pengrajin topeng di tempat ini, kebanyakan menggunakan kayu sengon sebagai bahan pembuatan topeng. Selain lebih mudah didapat, kayu sengon lebih gampang diukir dengan pangot karena empuk. Alhasil, pengerjaannya juga lebih cepat ketimbang menggunakan kayu keras seperti salam, sawo atau jati.

rekaman
Handoyo, perajin topeng malangan di Kedungmonggo

 

Handoyo 35 tahun, seorang penerus topeng Kedungmonggo menuturkan, padepokan Asmorobangun memiliki sekitar 70 karakter topeng malang. Termasuk di dalamnya adalah 6 tokoh utama dalam cerita Panji yang kerap dipentaskan dalam dramatari, yakni Raden Inu Kertapati (Panji Asmorobangun), Dewi Sekartaji, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, Klono dan Bapang. Secara umum adalah topeng dengan karakter protagonis, antagonis, berwajah lucu dan hewan. Handoyo juga membuat topeng dalam ukuran kecil sebagai gantungan kunci.

Pada jaman dulu, ungkap Soleh Adi Pramono pemimpin padepokan seni Mangun Dharmo Kecamatan Tumpang, kayu yang akan digunakan untuk membuat topeng tidak boleh sembarang pohon. Ada prosedur yang harus dilakukan. Sebelum ditebang, pohon yang pilih dipaku terlebih dahulu. Apabila paku esok harinya ditemukan terlepas dari batang, berarti pohon masih belum siap digunakan.. Namun jika paku yang di tancapkan tidak terlepas, berarti pohon boleh ditebang.

Namun sekarang para pengrajin topeng malang tak hirau dengan hal-hal seperti ini. Bahkan, topeng bisa juga dibuat dari potongan kayu yang tak sengaja ditemukan di sungai seperti yang dialami Sukani 74 tahun, pembuat topeng malang yang tinggal di Desa Tulusbesar Tumpang. Bahkan bermula dari kayu yang dia ambil dari sungai pada tahun 2008 itu, Sukani berhasil merampungkan pembuatan topeng malang tokoh Klono. Sebelumnya, dia tidak pernah berhasil menyelesaikan sebuah topengpun sejak dia belajar secara otodidak mulai pertengahan tahun 80-an. Semenjak itu, pria sepuh yang menari topeng mulai tahun 1963 sepenuh waktu mengisi hari-harinya dengan membuat topeng malang.

Profil topeng malang yang dibuat oleh Sukani, tak sebanyak yang di buat pengrajin dusun Kedungmonggo. Topeng yang dibuatnya sebagian besar adalah 6 tokoh utama dalam cerita panji. Meski detail berbeda, namun ciri umum dari masing-masing karakter tokoh topeng, seperti warna paras, bentuk mata, alis dan kumis serta bentuk hidung, antara wilayah Tumpang dan  Kedungmonggo, memiliki kesamaan.

Sebagaimana di Tumpang, proses regenerasi di Kedungmonggo berjalan dengan baik. Saat ini, pelibatan anak-anak dalam proses pembuatan topeng masih dalam tahap amplas penghalusan. Namun untuk tari topeng, anak-anak usia sekolah dasar  asal Kedungmonggo dilatih rutin setiap hari minggu pagi seperti diakui  Putra Fajar Novianto 12 tahun yang belajar tari topeng sejak duduk di bangku kelas 3 SD.  Hasilnya adalah mereka cukup cakap saat tampil dalam gebyak atau pentas dramatari topeng malang yang diadakan setiap malam Senin Legi dalam penanggalan Jawa di pendopo padepokan.

Menurut Suroso salah satu penerus topeng Kedungmonggo, pentas atau gebyak topeng malangan dimulai sejak tahun 1985 oleh Karimoen dan Taslan Harsono, kakek dan ayahnya. Digelar setiap malam Senin Legi karena terkait dengan keberadaan dusun Kedungmonggo. Gebyak sempat terhenti tahun 1992 setelah Taslan Harsono meninggal. Namun pada tahun 1995 berhasil dihidupkan kembali.

Meski dukungan dari pemerintah setempat dirasakan masih minim, hal ini tak mematahkan semangat keluarga Karimoen melestarikan topeng malang bahkan setelah Karimoen meninggal dunia tahun 2010 lalu dalam usia 90 tahun lebih. Kepergian mendiang yang ditahbiskan pemerintah pusat sebagai Maestro Topeng Malang pada 2007, malah memberi daya dorong dengan wasiat yang ditinggalkannya. Latihan tari topeng bagi anak-anak dan latihan gamelan yang diberikan secara cuma-cuma adalah upaya regenerasi untuk melestarikan topeng malangan.

Tak jelas mulai kapan seni pertunjukkan topeng mulai dipentaskan di wilayah Malang. Th Pigeaud, Penulis Belanda yang lama mukim di Indonesia, mencatat pada sekitar tahun 1928 sudah terdapat  21 koleksi topeng. Sejumlah nama penari terkenal yang berdiam di Desa Pucangsongo Kawedanan Tumpang juga tertera dalam catatannya bertahun 1938 itu.

Bahkan sementara pihak mengklaim, bahwa topeng malang merupakan tradisi tak terputus sejak jaman Kerajaan Singhasari. Robby Hidajat, seorang peneliti topeng malang mengungkapkan, bahwa tradisi menceritakan melalui gerak sudah ada sejak jaman Majapahit. Robby menduga, munculnya tradisi bercerita lewat gerak ini terkait dengan adanya pergeseran kepercayaan pada masa itu. Dalam versi Hindu Majapahit, dewa utama bukanlah Brahma melainkan Syiwa, Tatkala mencipta, Syiwa tidak menggunakan lisan tapi gerakan.

Robby Hidajat menambahkan, tradisi cerita lewat gerak pada masa itu ada tiga bentuk. Pertama adalah Raket yang mengangkat cerita soal panji. Cerita panji berasal dari Jawa periode klasik era Kerajaan Kadiri yang bertemakan kepahlawanan dan cinta, Tokoh utamanya adalah Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candra kirana). Konon, jenis kesenian yang pemainnya menggunakan topeng ini, yang bertahan di Jawa Timur. Yang kedua disebut gambuh, yang dipercaya masih bertahan di Bali dan terakhir adalah Wayang Wang, yang oleh sementara pihak diyakini bertahan di Jawa Tengah hingga kini.

Dulu, perkumpulan topeng malang jumlahnya konon sempat menembus angka 200 dengan sebaran di berbagai wilayah Malang Raya. Hal ini pernah disampaikan oleh Karimoen kepada Soleh Adi Pramono. Seiring berjalannya waktu, perkumpulan, penari dan pembuat topeng malang jumlahnya menurun drastis. Padepokan seni Mangun Dharmo adalah salah satu yang bertahan dari gerusan jaman. Berbeda dari topeng malang wilayah Malang Barat-Selatan sebagaimana Kedungmonggo, gerakan tari topeng di Tumpang yang masuk wilayah Malang Timur gerakan tariannya terasa lebih halus. Bisa jadi, gerakan di Kedungmonggo lebih trengginas karena pengaruh darah Madura yang mengalir dalam diri Karimoen.

Padepokan Asmorobangun di Kedungmonggo dengan gebyak malam Senin Legi plus produksi topeng malangannya  atau padepokan seni Mangun Dharmo di Tumpang yang tak henti merekronstruksi seni tradisi adalah enklav budaya eksotis yang layak disambangi. Sebuah eksotisme yang memperkaya dan menautkan kekinian dengan gemilang masa lalu

Catatan:  artikel ini pernah dimuat di Majalah TRAVELONGUE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s