Bapang Itu, dan Saya Jatuh Cinta Padanya

bapang
Bapang itu mewakili karakter bad boy, pembuat onar tapi selalu dirindukan.

Bapang itu revolusioner. Ia mewakili watak ugal-ugalan, pemberontak, pemberani, dan pembuat masalah.  Ia semacam bad boy, meski mengesalkan tapi dirindukan. Seorang trouble maker bila dia gagah dan pemberani, bukankah layak dijatuhi cinta? Dari keberanian dan pemberontakan, dari sanalah perubahan berasal.

Purnama meninggalkan wajah bulan 3 hari lalu, tapi ia masih terang menggantung di langit timur. Ia belum lama menampakkan diri ketika di ruang ganti Padepokan Asmoro Bangun, Dusun Kedungmonggo, Pakisaji, Malang, Jawa Timur, sibuk dengan persiapan pentas. Topeng-topeng tergeletak di atas papan. Busana berkilauan itu menunggu dikenakan. Mereka berusia belasan tahun, generasi yang dibesarkan oleh Cartoon Network dan gadget. Sama seperti remaja lain di berbagai belahan Indonesia. Punya akun media sosial dan suka selfie. Mereka juga suka menari, aktivitas yang membawa mereka membelesak ke “kekunoan” kakek nenek mereka. Barangkali begitu.

6
Di belakang panggung, mereka juga remaja kekinian yang suka selfie

Di beberapa tempat, pagelaran tari dan seni tradisional punya panggung karena uluran pemerintah, kepedulian pihak pemodal yang masih menginginkan lembar sejarah ini terbaca mewarnai tanah ini. Pentas adalah ritual, bukan kebutuhan. Gemerlap panggung tari tidak lagi menjadi sandaran hiburan, teladan, syiar, sebagaimana zaman lampau.

Tetapi di Kedungmonggo, kesenian tradisional ini masih berdaulat, tumbuh di habitatnya. Memang tak tumbuh begitu saja seperti masa lampau. Ada yang menyirami sehingga tunas rapuh yang tergerus gemerlap budaya kekinian ini masih tangguh dan kukuh berdiri, walau hanya di ceruk senyap. Mas Handoyo dan Mbak Saini, suami istri yang saya kenal, menumbuhkan tunas  rapuh ini, di antara sedikit penari topeng malangan yang tersisa dan masih setia merawat kesenian Panji. Kisah tentang Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun yang saya dengar sejak kecil.

5
Menunggu dikenakan

Mas Handoyo meraut topeng setiap hari, mengajak dan mengajari anak-anak menari setiap Minggu siang dengan gratis, dan mementaskan mereka di panggung setiap malam Senin Legi setiap bulannya. Kadang di pentas anak (pentas yang dimainkan anak-anak), tak peduli anak-anak itu bisa menari atau tidak, mereka tetap pentas. Mengenakan busana gemerlap dan menari di atas panggung. Indah atau tidaknya tariannya, toh ini bukan kompetisi. Kegembiraan yang kemudian menumbuhkan  cintalah yang coba disemai Mas Handoyo dan Mbak Saini. Ada atau tidak adanya penonton, mereka tetap menari. Menari, menari, dan menari.

Minggu, 24 Juli 2016, adalah malam kesekian kalinya ketika akhirnya saya bisa menyaksikan gebyag (pentas) secara langsung. Seorang kawan mengabari, bahwa masih ada pentas rutin di Kedungmonggo, saya ingin melihatnya. Sejak mengumpulkan data untuk National Geographic Traveler (dimuat pada Mei 2016), berkali-kali saya melingkari malam Senin Legi untuk datang. Tapi selalu saja gagal.

Malam itu, kisahnya berjudul “Rabine Bapang” (Menikahnya Bapang). Ah, Bapang! Tokoh berhidung panjang itulah yang pertama kali memikat saya. Padanya, saya jatuh cinta dengan pahatan dan karakter ini. Justru bukan kemegahan Panji Asmoro Bangun maupun lekuk cantik Sekartaji. Bapang Jaya Sentika, warna mukanya merah, kumis nunggeng, dengan hiasan cula ( di bagian dahi) berbentuk bunga matahari, dan matanya dondongan (belok). Karakter hidung panjang ini yang menjadikan dia beda. Bapang itu revolusioner, itu yang terlintas dalam benak saya. Kenyataannya memang demikian. Ia mewakili watak ugal-ugalan, pemberontak, pemberani, dan pembuat masalah.  Ia semacam bad boy, meski mengesalkan tapi dirindukan. Seorang trouble maker bila dia pemberani dan gagah, bukankah layak dijatuhi cinta? Dari keberanian dan pemberontakan, dari sanalah perubahan berasal.

Tarian Bapang adalah tarian rancak, berotot, dan lincah. Kegagahan terlihat dari geraknya. Soal kisahnya ketika ia berhasil mempersunting sang putri, itu bukanlah tujuan. Saya terpesona dengan keseluruhan dari pentas malam itu. Kisah di belakang panggung, penonton, dan antusiasme penonton anak-anak yang ikut menari, sesungguhnya mereka punya idola (yang tentu saja berbeda dengan idola para “likers” Awkarin eh)…sesungguhnya, pertunjukan yang masih berdaulat di habitatnya itu jauh lebih indah dari foto buram, yang susah payah saya jepret karena minimnya cahaya. Kisah di belakang panggung seperti kisah kegigihan Mas Handoyo, Mbak Saini, dan penari-penari yang masih merawat panggung itu untuk tetap menari.

Terima kasih menerima saya dengan segala keramahan dan keindahan.

2
Ketika Bapang merayu
1
Sang Dewi yang malu-malu tapi mau, mengundang prahara itu
9
Panggung itu masih berdaulat di habitatnya
10
Anak-anak itu akan punya memori yang indah, tentang harmoni dan keindahan tarian panggung
11
Kemegahan Kerajaan Jenggala dengan Panji Asmara Bangun (paling depan berwarna hijau) ketika terusik oleh kedatang Bapang
13
Seperti layaknya kisah dongeng, mereka pun bahagia selamanya. Demikian kisah “Rabine Bapang” berakhir. Tak perlu sinis bagi yang menganut mashab cinta tak harus memiliki
7
Cinta itu selalu punya sejarah. Barangkali demikian. Saya seusia bocah yang mengenakan tutup kepala itu, yang diajak menonton malam itu, ketika diajak nenek saya melihat ledhek (penari keliling). Saya masih ingat, mata-mata yang kagum  yang meletakkan sejenak penat mereka, tertumpu pada kemegahan sang penari dengan baju gemerlap itu. Saya masih ingat, aroma dupa, tembakau, dan juga balsem penghangat malam. Saya masih ingat aroma kegembiraan itu. “Saya ingin menjadi penari seperti dia,” kata saya kecil pada nenek saya, semoga tenang di sisi-Nya. Penari itu kadang tak pulang dengan uang, tapi dengan hasil bumi yang diberikan sebagai upah, telah menghibur penduduk desa, dari desa ke desa, dari malam ke malam. Itulah kenapa saya selalu suka gamelan dan tarian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s