Untuk 27 September

Mengingat suatu September, duduk di trek 2054 mdpl. Kabut merambat pelan, memeluk Jobolarangan. Erat. Ketika seekor elang jawa soaring, sayap diam tak mengepak. Ia meniti kabut. Ia sendirian. Ia lepas, bebas, menjadi pengendara angin. Moment itu sangat sebentar, tetapi hingga kini lekat sekali dalam ingatan. Kala itu, kami sedang survei untuk diksar XIV (saya masuk Diksar XIII). Saya jalan dengan Hery Wijayanto (yang dikenal dengan … Continue reading Untuk 27 September

Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011

Harum bunga melati menyelimuti beranda itu. Senyap. Sekali lagi, lelaki itu menatap wajah lelap di depannya. Wajah perempuannya yang ditemuinya ketika bangun pagi. Mungkin sudah lebih dari 30 atau 40 perjalanan matahari. Dia tidak ingat persis. Dia tidak memerhatikan detail, sebagaimana perempuan itu mampu mengingat berapa helaian rambut yang jatuh di dahi lelakinya. Setiap harinya. Setiap paginya. Mengiringi suara lesung beradu alu. Thuk… thuk…thuk…thuk… Menghentak … Continue reading Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011