Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011

Ting we, rokok melinting sendiri. Foto: Titik Kartitiani
Ting we, rokok melinting sendiri. Foto: Titik Kartitiani
Harum bunga melati menyelimuti beranda itu. Senyap. Sekali lagi, lelaki itu menatap wajah lelap di depannya. Wajah perempuannya yang ditemuinya ketika bangun pagi. Mungkin sudah lebih dari 30 atau 40 perjalanan matahari. Dia tidak ingat persis. Dia tidak memerhatikan detail, sebagaimana perempuan itu mampu mengingat berapa helaian rambut yang jatuh di dahi lelakinya. Setiap harinya. Setiap paginya. Mengiringi suara lesung beradu alu. Thuk… thuk…thuk…thuk… Menghentak khusyuk seperti dzikir, dzikir semesta.
“Kopinya sudah siap, Pak. Tanpa gula. Tembakaunya sudah saya taruh di *opel*. O ya, *sek* nya sudah habis, tinggal 2 lembar. Nanti saya mampir ke warung,” katanya dengan senyum. Lelaki itu diam tanpa ekspresi. Dengan mata yang setengah terpejam, membuka pintu, menuju kali yang tak jauh dari rumah bambunya untuk memenuhi hasrat pagi. Perutnya mulas, mungkin karena kebanyakan makan sambel tadi malam. Walau menyisakan tragedi, lebam di pipi sang istri dan sakit perut si lelaki, sambel jenggot itu tetap terlezat. Masakan apa yang lezatnya melebihi masakan yang dibikin dengan cinta ? Cinta apa adanya dari perempuan yang kini membungkuk, memindahkan gabah ke tampah. Seperti tarian lebah di luar sana, jemarinya lincah memilah gabah.

Setiap geraknya adalah tarian kasih pada keluarga, yang jelas beda dengan tarian tayub untuk penontonnya. Semua dilakukan dengan diam. Tak butuh penghargaan, apalagi saweran. Sebuah tarian pengabdian ikhlas untuk ketiga cuplis yang kini masih lelap. Untuk suami yang dihadirkan kedua orang tuanya.
Bukan disebut kawin paksa, karena memang sudah begitu. Tidak ada yang tidak begitu pada jaman itu. Jika gadis sudah datang bulan, itu artinya orang tua siap membawakan lelaki untuknya. Bisa jadi tetangga yang dirasa baik oleh kedua orang tuanya, bisa jadi orang asing yang baru ditemui di malam pertama. Soal cinta ? Bisa jadi tumbuh bersama usia. Sebuah rasa yang menjadi biasa dan sudah seharusnya begitu. Yang jelas, ikatan perjodohan itu mampu menghasilkan 3 anak yang sehat dan gemuk – gemuk. Mereka baik – baik saja, seperti keluarga pada umumnya. Kecuali hanya perbedaan – perbedaan kecil, yang kadang menjadi runcing dan meninggalkan lebam di tubuh perempuan itu. Tapi memang sudah seperti itu, seperti juga tetangga.

Selesai dengan gabah yang sudah menjadi beras, putih kekuningan tanda dilapisi kulit ari yang bergizi, tanpa di-bleaching, perempuan itu mandi. Cepat sekali, tak selama bidadari mandi di telaga. Tapi dia menjelma bidadari berselendang lurik yang menggendong bakul berisi sayur mayur, hasil ladang dan kebun di depan rumah. 10 km akan ditempuh subuh itu dengan langkah tanpa alas kaki. Hari ini Selasa Wage, hari pasaran. Kebetulan terong hijau sedang mahal. Mungkin dia bisa membeli kain baru, corak pring sedhapur, seperti impiannya. Ah, tapi mungkin lain kali. Lebih baik membelikan buku tulis baru untuk kedua cuplisnya, dan satu potong seragam merah putih untuk si bungsu. Dibungkusnya angan itu di ujung selendang lurik yang sudah berkerut. Mantap langkah menapaki jalan tak beraspal, dingin kabut menyergap, kebayak biru pudar terlalu tipis untuk menghangatkan, hanya dengan nembang tubuhnya tak tumbang.

Jago kluruk rame kapiyarsi
lawa kalong luru padhelikan
Jrih kawanan ing semune
Bang wetan sulakipun
Mratandani yen bangun enjing…

***
Matahari sudah tak garang lagi, ketika langkah kakinya menapak kembali lurung rumahnya. Masih tersisa guratan sapu tadi pagi, ketika satu demi satu daun bambu mulai menghinggapi. Masih dengan bakul di punggung, perempuan itu meraih beberapa lembar daun bambu yang masih segar. Ia berencana membuatsompil, nasi yang dibungkus dengan daun bambu.
Baru saja ia membuka pintu, cuplis no. 2 sesenggukan. Matanya berair, hidungnya juga berair. Ada biru di kedua pahanya. Perempuan itu menghela napas, meletakkan bakulnya lantas memeluk si cuplis.

“Saya hanya minta uang. Kalau tidak bayar SPP besok pagi, saya akan dipanggil di depan kelas lagi. Saya sudah malu, Simbok dan Bapak juga pasti malu. Kita kan tidak miskin kan ? Kita kan tidak harus mencari surat RT supaya tidak bayar SPP kan, Mbok ?” ratap anaknya, tanpa ditanya. Perempuan itu tersenyum sedikit.
“Kita tidak miskin, hanya tidak punya uang. Lain kali kamu jangan minta uang kepada Bapakmu kalau habis dari sawah. Dia capek, bisa gampang marah,” katanya sambil membuka buntelan di ujung selendang dan mengulurkan sejumlah uang. Lantas memasukkan sisa lembar terakhirnya di balik stagen.
Dia menuju dapur. Dilihatnya suaminya tengah lelap di balai bambu. Masih ingat frase tuduhan kemarin, di kasus yang serupa. Anak dianggap salah, ibunya yang kena marah. Tidak pernah berlaku sebaliknya walau kehadiran anak itu tidak bisa dari kerja mandiri, harus ada suami dan istri, tidak bisa salah satu. Bagaimana seorang istri bisa disalahkan dalam mendidik anaknya, hingga anaknya tidak sopan kepada ayahnya ? Bagaimana mau disebut sopan, minta uang pada orang yang tak punya uang pastilah tak akan bisa disebut sopan. Dalam hatinya hanya bisa berbisik, andai lelakinya bisa sesabar Resi Bhisma. Mungkin hidupnya akan lengkap, tanpa harus kena makian setiap hari. Tapi, bukannya memang sudah begitu ?

Sebelum memasak, istrinya menuju kandang kambing. Meletakkan dedak yang tadi dibelinya dari pasar. Di sana ada ikatan rumput yang masih nongkrong di boncengan sepeda. Mungkin si lelaki kelelahan hingga belum sempat menurunkannya. Diturunkannya rumput itu, ikatan laso dari kulit pohon waru pudar, rumput itu terbuka. Di tengah, ada 3 batang tebu. Makanan kesukaan 3 cuplis itu. Lalu ada bungkusan daun jati yang disimpul dengan lidi yang sudah agak gepeng. Saat dibuka, isinya puluhan kembang turi. Putih bersih seperti pagi. Sayuran kesukaan perempuan itu. Si lelaki tak pernah lupa membawakannya.
***
Senja merah di balik rimbunnya pohon serut. Siluetnya jatuh di lantai beranda. Lantai tanah itu kini punya motif dedaunan. Lelaki menghirup teh panas tanpa gula. Dia pun melanjutkan merajang tembakau. Inchi demi inchi, daun tembakau menjadi serpihan. Itu akan menjadi tembakau terenak yang dibikin sendiri. Harum, pulen dan legam.
“Aku kepikiran menanam tembakau saja di musim tanam besok. Tembakau bagus di ladang, ini buktinya. Hanya di pematang saja bagus. Kalau bisa nanam semua, lakunya lebih banyak dibanding jagung,” kata lelaki itu.

“Terserah Bapak saja,” kata perempuan sembari mipil jangung. Soal keputusan, apapun memang urusan lelaki. Perempuan tidak punya pekerjaan di area pengambilan keputusan. Cukuplah mengatur rumah jangan sampai ada tahi ayam yang belum disapu. Cukuplah memastikan ada masakan di meja makan. Kebijakan rumah tangga adalah sesuatu yang sangat laki – laki, hanya Bapak yang berhak. Termasuk berhak marah. Bukankah amarah sesungguhnya adalah cinta yang tak terucap ? Jangan pernah menunggu cinta itu berujud nyata sebagaimana impian Shinta kepada Rama. Bisa jadi cinta adalah amarah Gandari pada segumpal daging yang keluar dari garbanya. Amarah itu menendang gumpalan daging yang kemudian menjelma 1000 bayi Kurawa. Yang betapapun adalah lambang kejahatan, Gandari akan tetap mencintainya hanya karena dia ibunya.
***
Gandari lebih beruntung dibandingkan lelaki itu. Yang tak sempat mengucapkan cintanya, cinta yang seperti Rama untuk istrinya. Hingga suatu pagi yang menggigit, 30 atau 40 tahun kemudian. Candra musim ke-12, tirta sah saking sasana. Air meninggalkan rumahnya. Saatnya menanam palawija, membajak sawah untuk menanam jagung.

Perempuan masih lelap seakan dimalaskan oleh musim mareng. Dingin enaknya memang tidur. Tak terdengar suara lesung bertalu atau aroma kopi meraup pagi itu.
“Keblug !” maki lelaki itu. Jengkel mendapati istrinya masih lelap, sementara ia butuh kopi. Tak biasanya, perempuan itu bergeming dalam lelapnya. Ketika tubuhnya digoncang, telapak tangan lelaki itu hanya mendapati dingin kulit yang telah ditinggalkan ruhnya. Air bagi jiwanya menginggalkan raganya. Tanpa sakit, tanpa pamit.
Dari mulai tergeletak, hingga dimandikan, hingga malam, hingga pagi esoknya, lelaki itu tak beranjak se-inchi pun dari sisi istrinya. Bahkan saat cucunya dari si bungsu meletakkan tape ketan kesukaannya, lelaki itu bahkan tidak menoleh. Tidak beranjak. Sebagaimana waktu dan ingatannya berhenti bagi lelaki itu.

Hingga tujuh tahun kemudian. Lelaki itu masih duduk di kamar yang sama, masih menatap wajah lelap yang sekaan ada depannya. Lengkap dengan harum melati dan batik sidomukti yang menutupi tubuh bekunya. Wajah lelap yang tak akan pernah bangun lagi. Yang sesungguhnya kini terbaring di bawah pohon kamboja bali 3 warna yang ditanamnya sendiri, khusus untuk rumah abadi yang istri. Ia merindukan perempuannya, dalam kealphaan ingatannya, dalam diamnya, dalam kata cinta yang tak tahu cara mengucapkannya, lebih dari sebelumnya Di luar sana, di luar dimensi waktu lelaki itu..
Si sulung hanya menggeleng dan bergumam : pikun.

Tangerang yang gerimis, Oktober. 09. 2011

Catatan :
Sek : sebutan untuk kertas rokok. Kertasnya rasanya manis, dibungkus dengan kertas minyak warna kuning cap Jaran Kepang
Opel : ikat pinggang yang ada kantongnya
Keblug : bangkong, sebutan untuk orang yang malas bangu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s