Untuk 27 September

Mengingat suatu September, duduk di trek 2054 mdpl. Kabut merambat pelan, memeluk Jobolarangan. Erat. Ketika seekor elang jawa soaring, sayap diam tak mengepak. Ia meniti kabut. Ia sendirian. Ia lepas, bebas, menjadi pengendara angin.

kompos_r
View di Surya Kencana, Gunung Gede, 2014.

Moment itu sangat sebentar, tetapi hingga kini lekat sekali dalam ingatan. Kala itu, kami sedang survei untuk diksar XIV (saya masuk Diksar XIII). Saya jalan dengan Hery Wijayanto (yang dikenal dengan Azn, tapi saya tetap memanggil di Hery, pakai “Y”). Saya kelelahan dan roboh bersama carrier itu, sesaat sebelum Hery datang menyusul untuk survei jalur survival.

Moment yang sesaat itu menjadi moment yang menjadikan saya selalu ingin dan ingin lagi datang ke gunung. Hanya untuk melihat kabut, hanya untuk meresapi kesenyapan. Ketika hanya terdengar angin di jauhan, gesekan sol sepatu dan ilalang kering, dan sesekali elang yang berteriak nyaring. Seperti kata Henrich Harrer, pendaki Himalaya yang kemudian berkarib dengan Dalai Lama, karena dalam kesenyapan suara akan lebih beragam, cahaya akan lebih berwarna, dan kita lebih fokus.

pelantikan2
Pelantikan Diksar XIII, 13 April 1997

Untuk September,
Kali ini September yang ke-36, ketika engkau berulang tahun, tepatnya 27 September. Sebuah nama yang menurut saya tak keren, PMPA KOMPOS (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam KOMPOS), yang kemudian menjadi lekat karena ada sebagian perjalanan saya bersamamu. Perjalanan yang kemudian membentuk saya menjadi seperti sekarang, di antara tapak-tapak silam. KOMPOS yang terdengar tidak keren itu, adalah semat nama dari pendahulu kami yang tentu saja bermakna. KOMPOS karena kami mahasiswa Fakultas Pertanian, KOMPOS karena menyuburkan.

Ketika nama itu tak keren, karena sesungguhnya menjadi anggota mapala tak kemudian menjadi tujuan menjadi keren. Kalau menjadi keren, sudah selesai dan tumbang di tahap awal. Karena ketika kami berada di dalamnya, sungguh sangat tidak keren.

Kaukira siapa yang akan tampak keren jika rapat dari senja ke senja dan bisa jadi perdebatan itu belum berakhir? Sampai es tes di plastik yang dipesan dari Mbak Manis tergantung dan didatangi semut, kami masih rapat dan tak ada tanda-tanda selesai. Sampai kemudian kami luapkan kepenuhan otak kami, di boulevard Jl. Ir. Sutami. Kami duduk, diam, dan kadang-kadang menangis.

Kaukira siapa yang akan tampak keren ketika hampir setiap hari kami sibuk dengan kegiatan, dari yang menguras fisik, pikiran, bahkan darah kami. Ya, darah! Dalam arti yang sesungguhnya, karena KOMPOS senang sekali donor darah. Kami dan semua anggota KOMPOS tentu terlibat dalam semua kegiatan, bahkan kegiatan itu kerap paralel, jadi jangan heran ketika di masa kami (saya masuk tahun 1996-2001), kepanitian itu bisa berbingkai, seperti cerita Seribu Satu Malam. Dalam panitia ada panitia lagi. Tapi khusus untuk donor darah, saya terkapar. Jadi, pernah ikut donor darah ketika baru turun dari Lawu, diisaplah seperti digigit vampir, 2 ampuls, ketika berdiri, kemudian dunia jadi gelap. Sejak itu, saya tak pernah lagi ikut kegiatan satu ini.

Kaukira siapa yang akan tampak keren, khususnya sebagai perempuan yang gagah jelita karena memanggul carrier? (Eh, tapi ternyata ini salah loh eh). Lupakan yang ini, karena bila kemudian ada kisah cinta antar anggota, itu tak bisa disalahkan bahkan oleh dekrit manapun (kepruk!). Karena kita ada dalam satu wadah hampir 24 jam, dan ketika menemukan kecocokan, itu natural seperti tumbuhnya edelweiss yang bertaut dengan ketinggian di atas 1.800mdpl, begitu kan? Saya tak membahas soal ini, bahwa kemudian cinta itu mentenagai untuk melakukan program kerja dan menyelesaikan janji anggota untuk membesarkan KOMPOS, ya itu akan lebih baik. Tapi jika cinta menjadi korosif, itu salahkan pada reaksi kimia yang tak bertanggung jawab itu. Kalau saya pribadi, tidak pernah ada kisah cinta itu, sungguh eh, karena…sudahlah.

merbabu
Bakti Giri, Merbabu, 1997

Untuk September,
Ketika September itu melahirkanmu, maka lahirlah perjalanan itu yang saya sebut tidak keren itu, ternyata kemudian membentuk kami. Kami belajar berorganisasi, itu sungguh bermanfaat ketika bekerja. Hampir semua keahlian yang diajarkan di mapala itu berguna bagi kerja kami, meski tak semua kerja di alam bebas.

Belajar untuk membuat proposal (yang itu sudah menjadi makanan wajib ketika di KOMPOS), belajar mengorganisasi orang, belajar menulis, belajar membuat target, dan satu hal lagi, seperti slogan KOMPOS, Tabah Sampai Akhir itu menjadikan kami gigih untuk bertahan.Selain itu tentunya belajar hidup di alam.

Ada kawan saya yang juga suka naik gunung, meski tak ikut gabung di mapala, dia kini Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) di salah satu kota mengatakan, bahwa jurnalis yang suka naik gunung (lebih luas berkegiatan di alam bebas) akan lebih tahan banting di lapangan. Lebih gigih mengumpulkan remah fakta dan disusun menjadi berita.

Pun di beberapa instansi yang saya wawancara, saya menemukan sosok-sosok yang saya tulis menjadi figur dan ternyata mereka adalah orang-orang yang suka dengan alam bebas. Kenapa alam? Karena alam adalah narasi yang tak pernah membohongi, ada kejujuran di sana, ada kelugasan di sana.

Untuk September,
Beberapa hari lalu, di pertengahan September pula, seorang kawan menelepon soal kegelisahannya. Kebiasaan instan generasi sekarang. Sekali lagi, ini bukan soal menyombongkan bahwa generasi kami lebih bagus dari sekarang, bukan itu. Ini hanya bincang pengamatan di luar ring, secara menyeluruh tentang kebiasaan instan.

Era internet yang semua serba cepat, pun kebiasaan manusia menjadi pragmatis. Mungkin juga, di kalangan mahasiswa yang kemudian ingin cepat lulus. Sah? Sah saja. Hanya satu hal, di kami di Fakultas Pertanian mengenal jati emas bukan? Meski ukuran kayunya bisa sebesar jati biasa yang butuh puluhan tahun untuk menyusun setiap lapis lingkaran tahun, kualitasnya tetap di bawah jati biasa. Kekerasan dan kerapatan sel tak bisa dibentuk hanya dalam waktu singkat.

Demikianlah, mapala membentuk karakter anggotanya untuk menjadi pekerja keras dan tidak lekas lembek. Kami dididik dengan keras oleh alam, alam yang akan menghukum kalian, demikian teriak kakak pen-diksar sampai muncrat dan berasap kalau di tempat dingin. Tetapi memang demikian adanya. Didikan itulah yang terbawa hingga kami lulus dan bekerja.

Untuk September,
Yang melahirkan KOMPOS. Meski kebaikan macam testimoni itu saya tulis, tetap saja ada yang tak setuju membeberkan realitas bahwa mapala itu mahasiswa paling lama. Benarkah? Di kami, banyak yang lulus cepat (ya tentu bukan saya), dengan IPK di atas 3. Bahkan kini ada Mbak Yani (Haryani Saptaningtyas) yang sekolah hingga sampai jenjang Doktor. Jadi, kemalasan selalu mencari dalih, mapala adalah dalih yang sangat mudah dicomot.

Di KOMPOS, kami mengenal banyak buku. Di bawah pohon biola cantik, kami , saya , Yanti dan Mbak Ayu (Lestari Puji Rahayu) kerap berdiskusi. Mas Gunung yang mengenalkan saya pada Gie dan buku “stensilan” Zaman Peralihan yang di-copy Yanti (Sri Maryanti) untuk saya. Stensilan, karena bentuknya copy-an betapa era itu, Orba begitu kuat mencengkeram otak hingga bacaan. Khusus untuk Yanti adalah my partner in crime. Kami sering “berantem” hingga saling melempar sandal, tapi saya sadari, kami sangat saling menyayangi. Kami berdua kerap jalan menempuh berkilo-kilo meter di tengah terik dan jalan berdebu menuju Desa Godog, karena saat itu KOMPOS punya desa binaan. Saya di Lingkungan Hidup bersama Anggit L Pramu dan Yanti dan dengan sukarela membantu.

Satu hal yang saya ingat, Yanti adalah yang rajin ke kamar saya, membersihkan kamar saya ketika saya tinggal ke Aceh hampir satu bulan. Saya ceritakan dan saya cukup  berbangga ketika saya menjadi menjadi wakil Universitas untuk jadi finalis Lomba Karya Ilmiah Nasional, kala itu saya baru semester 3. Jadi, kebiasaan berpikir dan melakukan metode ilmiah juga kami lakukan di KOMPOS, karena KOMPOS di era kami, punya penelitian Studi Lingkungan Bengawan Solo.

Soal lain lagi, kerap karena kami jalan bareng antara laki-laki dan perempuan, dituduh pergaulan bebas. Betul? Di alam, saya sudah tidak terpikirkan menjadi demikian. Yang ada hanyalah saling membantu menjadi satu tim yang kukuh untuk melakukan perjalanan yang selamat. Satu hal yang saya banggakan, dan kala itu kawan MAPALA STTL Jogja yang berkunjung (Apa kabar Agung Pepsi dan Nida Nahara) sempat terkagum-kagum bahwa kami mapala yang sholat. Di sudut sekretariat dulu ada kotak kecil bertumpuk mukena dan sajadah. So, beribadah itu persetubuhan personal dengan Allah, bukan? Jadi tidak sekadar justifikasi. Mereka tidak tahu, kalau kadang-kadang Mas Edi Poer mengadakan pengajian malam Jumat di sekretariat. Yak, di sekretariat setelah panjat dinding!

Untuk September,
Saya menuliskan ini dari jauh, dari jarak dan waktu yang kadang-kadang saya rindu perjalanan itu. Perjalanan yang tak sekadar gagah berfoto di puncak dan lantas kini disebarkan di media sosial. Perjalanan itu lebih dari sekadar bahwa saya ada di sini dan pamer. Buat apa? Rugi sekali jika setiap perjalanan harus disibukkan dengan mencari apresiasi dari orang lain dan liker.

Gunung tak sekadar petualangan, tetapi juga buku yang tak habis selesai dibaca. Kita mengenal naturalis yang menjelajah mulai dari Henry O’ Forbes, Charles Darwin, Alfred Russel Wallace, Junghun, dan sebut saja semua itu, mereka adalah para penjelajah di hutan dan di gunung. Saya belajar anggrek pun dari KOMPOS dan belajar mencintai tanaman dari KOMPOS sampai kemudian, saya menjadi salah satu rujukan kawan-kawan di Kompas Gramedia jika bertanya dan identifikasi tanaman, sampai kemudian dijuluki manusia setengah bengkoang.

penugasan
Letusan gunung seperti petaka, tapi berkah keseburan. Semikian juga mapala, kerap disalahkan ketika lulus lama, kemalasan selalu buruh dalih, bukan? (Merekam erupsi Bromo, Desember 2015)

Saya hanya ingin berbagi bagaimana saya bisa jatuh cinta dengan hutan dan gunung. Saya selalu mengenang bayi yang lahir di Bandar Dawung, pada bulan September yang basah, 1980. Bayi yang kemudian mengajari saya untuk memaknai kabut, mencintai aroma lumut basah, merindukan hamparan bintang di langit 2054.
Selamat ulang tahun untukmu yang dilahirkan September, PMPA KOMPOS FP UNS

Salam Lestari,
Titik Kartitiani
K-353
(Kini saya emaknya Sausan, dan menjadi kontributor National Geographic Indonesia juga Majalah INTISARI, secara KTP tinggal di Jawa Timur, tapi rumah Indonesia Raya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s