Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

merbabu
Pemasangan papan peringatan di Merbabu, pendakian pelantikan Diksar XIII, 1998

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata masih ada yang memakai), saya kenal benda-benda itu.

Di atas tempat duduk, saya melihat tas carrier tertata rapi. Dari melihat packing-nya, mereka tak asal (minimal tidak ada tas plastik yang ditenteng atau penggorengan yang digantung eh). Dari pembicaraannya, mereka dari Semeru.

Ya, gunung itu. April silam saya menyambanginya. Berbeda dengan pendaki yang di kereta ini, yang tampak “terdidik” untuk hidup di alam bebas, 400-an pendaki yang naik pada tanggal bersamaan dengan saya hari itu tak semua memiliki persiapan yang memadahi. Sejak film 5 CM, pendaki Semeru semakin banyak dan kerap mengabaikan perlengkapan meski sudah dirazia di pos Ranupani. Hanya, 400 pendaki per hari, berapa relawan yang sanggup membongkar tas satu demi satu? Catatannya di sini. 

Pukul 04.00 WIB kereta itu sampai Tugu. Ketika turun, saya melihat pendaki perempuan (ada 4 orang) menyandang carrier-nya yang ukurannya minimal 90lt dengan ukuran tubuh tak lebih besar dari saya. Bukan soal tampak gagah atau bagus difoto, hanya perempuan itu memang membawa bekal sesuai standar dan tidak menggantungkan orang lain. Saya salut. Hal itulah yang diajarkan ketika saya mengikuti diklat pecinta alam, 1996.

Alasan yang Tidak Mutu Itu…

1933956_150477232807_7055313_n
Penutupan Diksar XIII di Sekipan, Pegunungan Lawu Selatan, Oktober 1996

Saya masuk di PMPA (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam) Kompos, Faperta UNS melalui Diksar XIII, tahun 1996, ketika masih menjadi mahasiswa baru.  Sebetulnya memang bukan hal baru, sebab saya naik gunung sejak SMA meski tidak bergabung dengan pecinta alam SMA secara resmi (anggota penggembira, tapi ikut mendiklat, cobak!). Mungkin angkatan 1996 masih ingat ketika Kompos perkenalan pada mahasiswa baru, satu-satunya perempuan yang melayang repelling dari atap (saat itu) Lab. Peternakan. Sebetulnya bukan karena unjuk keberanian, tetapi karena memang saya pernah melakukan dan ingin mengabarkan, “melayang” itu asyik. Ada kehangatan ketika webbing (webbing ya, bukan sit harness_itu mewah! Webbing yang menjadikan paha berbilur dan njarem) melilit di tubuh dan tergantung di carrabiner. Kehangatan rawan itu.

Hanya ada satu alasan, yang sungguh tidak mutu, yang melatari saya mendaftar diklat (yang kemudian prosesnya panjang, dilantik tahun 1998, 2 tahun !). Semoga saya cukup jujur di sini. Jadi pada Desember 1995 saya naik ke Merbabu (untuk ke-3 kalinya), saya mengubur sesuatu di sisi puncaknya. Satu kantong plastik yang isinya sampah lorong psikologi itu (serius ngakak, dan sungguh, jangan ditiru, gunung bukan tempat sampah, termasuk sampah perasaan, catat!), dan saya harus mengambilnya kembali (kemudian lagi-lagi nyampah, dibakar dan dilarung di Bengawan Solo, tapi sudah dalam bentuk abu, biodegradable :D). Kalau tidak ikut Mapala, saya pikir saya tidak punya kesempatan untuk naik gunung lagi. Jadi ya mendaftarlah saya.

Menjadi Pejalan yang Mencatat Kenangan eh Kisah

1933956_150474852807_3914167_n
Dilantik oleh Ketua Kompos, Mas Heru Ismantoro, saat itu saya dapat nomor K-353, angka terkecil artinya skor tertinggi dari diklat hingga pengabdian (sombong ngga penting).

Saat itu, ada 3 tahap pendidikan dasar yang kami ikuti. Pertama lapang kering (teori dalam kelas selama 2 minggu, tiap seore setelah kuliah), lapang basah (diklat di lapang selama 1 minggu juga, kalau tidak nyasar eh), dan masa pengabdian hingga akhirnya pelantikan dan mendapat nomor K.

Yang menarik dari diklat ini dan ternyata mengantarkan saya pada profesi saat, di materi lapang kering dan lapang basah itu tak hanya diajari cara hidup di alam bebas tetapi ada juga meteri jurnalistik. Kami diajari memotret dan mendokumentasikan perjalanan (dan kemudian bukan hanya perjalanan, tetapi juga penelitian). Jadi harapannya, seorang pecinta alam (atau saya lebih suka menyebutnya pejalan) tak hanya gagah sampai ke puncak, tetapi juga bisa mencatat hal lain. Ternyata, bekal ini yang kemudian saya memberikan makna yang berbeda pada setiap perjalanan, hingga kini.

Materi jurnalistik itu akan menghasilkan “reporter” untuk majalah mapala. Kompos saat itu punya majalah “Organik”. Meski terbitnya berdarah-darah, tetapi di sanalah saya belajar menulis bahkan kami sempat membuat laporan panjang (dengan liputan swadaya, bantingan istilah kami) tentang pembukaan pabrik semen di Gombong yang mengancam karst dan sumber air (tahun 1998-an). Atau laporan tentang prediksi dampak pembangunan instalasi nuklir di Muria. Saya belum jadi anggota resmi ketika ikut meliput dan ikut menulis. Di majalah ini, 50% isinya perjalanan (petualangan), 50% tentang lingkungan, dan 1 halaman sampah psikologi (eh puisi ding).

Materi ini ternyata begitu meresap bagi saya (yang kelak kemudian saya menjadi pengurus yang menggawangi Sie Lingkungan Hidup), apalagi pada awal-awal itu, saya diberi buku photo-copy-annya Gie. Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 1983). Buku yang pada saat itu masih jadi buku bawah tanah memberikan saya pandangan lain soal naik gunung. Gie mencatat dan saya ingin sepertinya.

Demikianlah, hari-hari di Kompos ternyata tak seperti bayangan. Bahwa menjadi mapala itu setiap saat menyandang carrier. Kami justru banyak rapat dan rapat. Bahkan kerap kali ada rapat berbingkai, sebab kepanitiannya juga berbingkai. Dalam satu periode, bisa ada 3 kegiatan paralel ditambah donor darah yang rutin dilakukan. Bayangkan, fisik (mesti latihan panjat di tembok Faperta), juga mesti mikir bikin proposal, laporan kegiatan, dihisap darahnya pulak. Bagaimana bisa foto keren di puncak gunung seperti Vertical Limit atau Everest? Boro-boro!

Bahkan kami pernah disindir sebagai “mapala lingkungan”. Memang, Kompos pada era kami (1996-2000-an), banyak kegiatan besar tentang lingkungan. Mulai dari penelitian hingga seminar soal pencemran Bengawan Solo hingga bagaimana kami (bersama Malimpa sebagai inisiator) “melawan” PT Bayer Indonesia dengan menyatukan mapala se-Solo memrotes blaser Aspirin yang didaftarkan di Guiness Books of Record di Lapangan Soemantri Brojonegoro karena membabat edelweiss di Lawu. Blaser itu dibuat dari ribuan kuntum edelweiss. Ketika di banyak hal konon mapala susah bersatu karena ego, tetapi untuk demo ternyata bisa bersatu. Kami tidak tahu bahwa ternyata protes kami berimpak besar.

Idealis? Bah!

Perjalanan waktu saya di Kompos (yang sebetulnya kalau dihitung, lebih besar dibanding waktu kuliah eh) ternyata membentuk sebagian diri saya. Bahkan dalam mengambil keputusan.

Kebetulan profesi saya dekat sekali dengan kegiatan yang dulu saya kerjakan di Kompos. Datang ke alam, memotret, dan menulis. Nilai-nilai yang ditanamkan pendahulu kami di Kompos tanpa sadar memberikan pengaruh dalam hal memilih.

Misalnya, ketika saya menulis tentang flora fauna, saya akan selalu menyisipkan catatan kondisi satwa itu di alam atau lebih baik mereka hidup di alam dll. Meski saya tahu, kalimat ini akan lenyap di meja editor, tetapi saya tetap menuliskan sebagai ikhtiar sekaligus pengingat.

Pun ketika ada tawaran pekerjaan yang impaknya ternyata berlawanan dengan nilai-nilai yang dulu kami sepakati, saya akan berpikir sekian kali untuk menerimanya. Ini bukan soal ingin idealis, hanya soal kenyamanan dengan diri sendiri. Bagi kawan-kawan yang bekerja di bidang yang dulu kita lawan (eh), sungguh bukan maksud saya untuk cerewet. Tentu ada pertimbangan yang sudah diputuskan. Dan saya yakin pada nilai dalam diri kita yang tentu akan selalu berbeda fenotifnya. Saya masih meyakini, nilai itu akan tetap ada. Bahkan perusahaan sawit yang kerap dituduh sebagai penjahat lingkungan, ketika didirikan oleh anggota Wanadri sungguh berbeda kiprahnya.

Ada satu peristiwa yang saya ingat, perkataan salah satu dosen kami ketika kami harus minta izin untuk praktikum susulan karena ikut diklat.

“Anda tanpa ikut diklat tetap bisa menjadi sarjana pertanian, tetapi tanpa praktikum, Anda tidak bisa jadi sarjana pertanian.”
“Tapi kami ingin melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi yang ke-3, pengabdian masyarakat. Diklat itu sarana untuk itu.”
“Anda bisa idealis sekarang ketika masih jadi mahasiswa. Belum terdesak kebutuhan. Coba nanti kalau masuk dunia kerja, apa Anda masih idealis?”

Percakapan yang tak manis itu di salah satu ruang pembantu dekan itu lekat sekali dalam ingatan. Meski saya tidak pernah membenci Pak Dosen itu, karena beliau pada saat itu sedang mengerem “kebandelan” kami. Tentu pada saat itu, kami adalah mahasiswa kemarin sore yang masih menyala dengan segala macam slogan. Segalanya hitam putih, kamu salah, aku benar. Sekali tidak adalah tidak.

Bertahun kemudian, ternyata saya masih berusaha menjalankan apa yang pernah ingin saya jalankan, meski caranya tak harus dengan mengepal tangan. Ada dialog di setiap peristiwa meski tak berarti sebuah kompromi yang bertentangan dengan nilai.

Pun ketika ada masa saya begitu bangga dengan NGO lingkungan yang teriaknya kenceng. Hingga kini pun saya tak menisbikan perjuangan mereka. Tidak sama sekali. Semua soal pilihan dan cara bersuara. Ada yang berteriak dan menghardik, ada yang bernyanyi satir.

Buku-buku lingkungan menjadi penyedot daging (ya sebab saya membelinya dengan mengurangi jatah makan) saya lahap dengan tekun. Mulai dari Kamuflase Hijau, Menggadaikan Bumi, Masa Depan Bumi, Jurnalisme Lingkungan, Silent Spring, dan lain-lain seolah-olah besok pagi sudah kiamat. Tak ada yang salah dengan semua itu. Hanya Tom Dietz melalui bukunya, Hak Atas Sumber Daya Alam mengajari satu hal tentang eko populisme. Intinya pada manusia. Mungkin istilahnya lebih moderat, meski menjadi moderat itu seperi agen ganda, bisa dibenci kedua belah pihak. Hanya pada akhirnya, nilai itu soal laku dan kejujuran pada diri kita, bukan soal menempelkan nilai kita di papan pengumuman.

Begitu ingin membela “masyarakat dusun” yang selalu lugu dan kalah. Bahwa niat kami adalah pengabdian kepada masyarakat. Tiap dua minggu sekali kami berjalan kaki 2KM demi menemui masyarakat desa binaan pelestarian tanaman obat. Konsep itu sederhana, konservasi harus menghidupi, memberi nilai tambah ekonomi, maka dengan sendirinya masyarakat akan menanam.

Perjalanan ternyata memberikan pelajaran yang sungguh berharga. Pertemuan-pertemuan tak menyenangkan dengan NGO dan juga masyarakat desa yang tak selamanya baik itu menjadikan saya lebih skeptis dan tak selekasnya memuji sekaligus mencaci. Lebih “tenang” ketika melihat permasalahan.

Saat itu, latihan kami mendaki gunung, menyusur gua, panjat tebing, rafting, ternyata bukan tujuan tetapi sarana untuk melakukan sesuatu. Kami mengidentifikasi spesies anggrek di Lawu selama 1 bulan, membuat transek dari kaki gunung hingga puncak dengan kemampuan materi Manajemen Lapang dan Rimba Gunung (MPRG).

Di sini cinta pada anggrek, pada hutan, pada alam berawal. Perjalanan mempunya sudut pandang yang berbeda. Tepatnya bukan menjadi pecinta alam, tetapi menjadi pilgrim (peziarah).

Hari ini saya ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk bayi yang lahir di Bandar Dawung, 37 tahun silam. Tumbuhlah dan terus tumbuh di bumi yang makin menua. Kita tak bisa menghentikan kerusakan bumi, tak sehebat itu. Hanya minimal memperlambat dan memperlama kenyamanannya untuk bisa membuat semua makhluk bahagia.

Salam Lestari

K-353

Advertisements

3 thoughts on “Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

  1. hikmah didapet setelah menjalani dan suatu saat dipikirken… racun/vaksin tabah sampai akhir ttep terngiang-ngiang, bicara.y lantang apalagi di saat “down”…

    aq masih gak bisa cerita banyak soal kpetualangan, cuz masih gak kuat dingin.y gunung… yg jelas, aq masih berusaha ttep sesempet.y petakhilan di pepohonan di kampus… mencari sensasi adrenalin atau berharap mendapat berkah ketemu [smacem] anggrek yg dlu pnah ditemui di pohon jati… [smakin deket dg anomali kan thu…] hehehehe…

    apapun sistem pengkaderan.y [entah doktrinasi atau bahkan cuci ota], smua ntu menjadi suatu keberkahan menjalani hari2 ini… semoga keberkahan organisasi bisa menjalar menjadi keberkahan diri dan berimbas ke keberlanjutan lingkungan [tmasuk keberlanjutan manusia yang “manusia”]

    tulisan mb.titik mah dah gak diraguken keren.y… 5 thumbs up [minjem 1 djempol ttangga] 😉

  2. Sepertinya memang masing-masing orang punya alasan “unik” untuk melakukan sesuatu.

    Saya berangkat ke dunia pergunungan tanpa diklat atau ikut komunitas (ngawur), semua entah mengapa terpelajari dari rekan sejawat atau saat ikut suatu kegiatan tertentu. Jadi ketika ditanya dari komunitas mana, saya cuma nyengir saja…
    Sebenarnya ingin sih merasakan darah dihisap juga, punya senior juga junior, saling berbagi ilmu lintas angkatan, sepertinya seru….hhmm….

    Wah, jadi sedikit membayangkan Merbabu waktu di foto yang diunggah, pasti….sepi orang dan masih belum berisik. Ahaha
    Sudah setahun lebih saya gak naik gunung, mencoba rehat sejenak dari hiruk pikuk di gunung, andaikan hendak “nggunung” lagi yang jelas menghindari akhir pekan atau musim liburan sembari menunggu demam “nggunung” mereda.

    Terima kasih telah berbagi kisah yang tidak saya alami dalam artikel ini, salam 🙂

  3. saya bukan siapa-siapa, dan tak jadi siapa-siapa, tapi saya merasa sangat nyaman dan merasa bangga setelah membaca tulisan diatas..
    salam lestari K-493

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s