Duduk di Kim Teng

Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940)

kim teng
Gelas tebal di Kedai Kopi Kim Teng, Pasar Bawah, Pekanbaru

Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus ke sana. Tak jauh dari situ, Jl. Karet namanya, itu pecinan tua di Pekanbaru,” katanya. Sesungguhnya saya tidak sempat browsing tentang kota ini sebab saya tidak menduga akan punya waktu untuk sejenak menyapa kota.

Demikianlah, paginya, saya berniat untuk kembali ke Pasar Bawah, kawasan tua di Pekanbaru meski sebelumnya saya sudah ke sana hanya untuk membelikan coklat si bocah. Saya memberi tahu Pakdhe Oblo (Dwi Oblo), kawan perjalanan yang memilih mengeram di kamar dan mengedit foto. Demikianlah, saya berjalan sendiri ke kawasan itu.

Pecinan, klenteng, dan kedai kopi selalu menarik bagi saya (meski sampai detik ini, saya masih belum ke Takkie, kedai kopi tua di kawasan Kota, Jakarta). Pagi itu saya berhitung waktu agar tidak ketinggalan pesawat sebab saya pun harus singgah ke Perpustakaan Soeman HS untuk mencari literatur tentang Melayu. Saya tahu, jika sudah di perpustkaan, saya akan lupa waktu, dan sangat mungkin ketinggalan pesawat. Itulah sebabnya, kawan saya, yang 2.084km jauhnya gigih WA untuk mengingatkan soal hal remeh temeh: sudah makan? Boarding jam berapa? Dan itu lebih dari sekali. Baiklah. Jika saya ke Perpus dulu, maka pasti takkan sempat ke Kim Teng. Makanya meski jaraknya Perpus dulu baru Kim Teng, saya balik rutenya, saya ke Kim Teng dulu (walau melamun di kedai kopi itu bisa juga bikin lupa waktu).

Di luar dugaan saya tentang sebuah kedai kopi tua yang sempit, kedai ini mirip food court. Satu bangunan luas, dengan ratusan bangku, dan beragam vendor buka di sini. Bahkan saya kesulitan menemukan nama kedainya kalau tidak Bang Gojek yakin menunjukkan tempatnya.

Kedai, tepatnya lapak Kim Teng berada di pojok keramaian itu, dengan logo berwarna hitam dan kuning bergambar cangkir. Keriuhan kedai di pagi hari menjadikan saya mematung cukup lama, bagaimana caranya pesan apalagi tak ada bangku kosong.

Berbagi Meja

Saya ingat pesan Mbak Uut malam sebelumnya, bahwa saya bisa duduk di mana saja. “Di Kim Teng biasa sharing meja kok, bisa duduk dengan orang yang tak dikenal asal ada kursi kosong.”

Begitulah, akhirnya saya permisi untuk duduk di kursi dengan bangku berbentuk lingkaran dengan dua orang laki-laki (yang ternyata juga tak saling kenal) sudah duduk di sana.

“Nanti Mbaknya akan datang,” begitulah kata salah satu laki-laki yang ternyata dari India ketika saya tanya bagaimana cara pesannya.

Khusus untuk menu kopi, tak ada buku menu. Sementara menu makanan baik di Kim Teng maupun vendor lain menunya ada di meja.

“Kopinya kopi O, Kopi Susu, dan Milo,” kata pelayan. Itu menu kopinya, jadi tak perlu ada catatan menu. Rata-rata orang yang singgah di sini adalah pelanggan yang memenuhi kedai mulai kedai buka pukul 07.30 WIB-12.00 WIB.

Saya memesan kopi susu meski sebetulnya dalam otak saya harusnya kopi hitam tanpa gula. Begitulah ketidaksinkronan bercampur dengan lamunan.

Sambil menunggu, saya duduk mengamati keramaian yang sejujurnya membuat saya tak nyaman, kebingungan dalam riuh. Di sudut seberang saya duduk Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri yang rupanya sedang berkunjung ke Pekanbaru dan singgah di kedai ini. Beberapa orang minta berfoto, tapi tak banyak. Mungkin banyak yang tak mengenalinya dan lebih memilih sibuk dengan cangkir kopi masing-masing.

Masih belum bisa menyesuaikan dengan kesenyapan seminggu sebelumnya di hutan Rimbang Baling. Kemudian mata saya terpaku pada foto laki-laki berseragam veteran, topi kuning yang dipajang di dinding, di antara iklan-iklan yang tak ada hubungannya dengan kopi. Riuh sekali iklan itu memenuhi dinding, mulai iklan kredit hingga iklan perumahan.

Saya tidak memotretnya sebab sempat terbersit pikiran “buruk” bahwa sengaja pemilik kedai ini memasang veteran demi keamanan sebagaimana yang kerap dilakukan banyak pemilik resto. Dan saya jelas salah besar tanpa membaca. Foto di bingkai itu adalah Tan Kim Teng, pendiri kedai kopi ini dan memang beliau pejuang Tionghoa yang berjuang melawan Belanda.

Kopi susu itu terhidang di dalam cangkir tebal khas kedai kopi pecinan. Jika cangkir ini retakannya semakin banyak, tandanya cangkir itu sudah tua dan semakin seksi. Rasanya khas kopi susu di kedai-kedai kopi Singapura lengkap dengan menu roti bakar dan telur setengah matang. Saya pun baru tahu (dan benar-benar saya tidak baca referensi sebelumnya), Kim Teng kelahiran Singapura.

kim teng 2
Pak Harsono (kanan) generasi ke-3 Tan Kim Teng

Berbagi Ingatan

Rasa pahit dengan body tebal khas kopi Sumatera tak jua terusir oleh susu yang dicampurkan (karena saya tidak mengaduknya). Rasa pahit yang membawa ingatan saya ketika membaca referensi soal Kim Teng di Bilik Melayu, salah satu ruang Perpustakaan Soeman HS. Kim Teng, Dari Pejuang Hingga Kedai Kopi, Seutas Biografi, buku yang ditulis dengan bahasa berima khas Melayu membuka pengetahuan saya tentang kedai kopi ini.

Kim Teng lahir di Singapura, Maret 1921 dari pasangan Tang Lung Chiu dan Tan Mei Liang. Tahun 1935, keluarga Kim Teng pindah ke Pekanbaru. Saat itu, Pekanbaru masih berupa hutan bahkan ia menuliskan bahwa harimau masih kerap berseliweran di rumah penduduk. Sebab itu, penduduk membuat rumah panggung.

Kawasan Pasar Bawah, tempat kedai kopi Kim Teng kini berada, adalah pusat keramaian Pekanbaru. Hanya saja, perjalanan panjang Kim Teng untuk mendirikan kedai kopi tidak serta merta berupa kisah harum seharum kopi seduhannya.

Kim Teng muda ikut berjuang melawan Belanda ketika perekonomian Pekanbaru dikuasai Belanda. Sumber utama perekenomian Riau mulai dari karet dikuasai Belanda melalui RRD (Rubber Restrictie Discust) dan juga bauksit dikuasai melalui NIBEM (Nedelandsch Indische Bouxit Exploitatie Maatschaapij) dan masih banyak yang lain. Tekanan ini yang menjadikan semua suku, klan, dan ras bersatu mengusir Belanda.

Ia tergabung dalam Resimen IV Devisi IX Banteng Riau. Pada saat itu, baik warga Tionghoa maupun warga Riau bahu membahu di dalam tubuh kesatuan untuk mengusir penjajah. Dalam kisah Kim Teng, tak ada beda, mereka sama-sama berjuang. Sampai kemudian kemerdekaan diraih pada tahun 1945, perjuangan selesai, dan Kim Teng menjadi pengangguran.

Betul, penangguran miskin yang tinggal di rumah sempit kawasan Pasar Bawah, berdampingan dengan Rumah Candu di pinggir Sungai Siak. Perjalanan Kim Teng membangun kedai kopi karena tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan sebagai veteran. Ia membantu kakaknya yang sudah mempunyai kedai kopi terlebih dahulu. Pun, secara keturunan, Kim teng bukan dari suku yang biasa jualan kopi.

Singkat cerita, kedai Kim Teng berpindah-pindah karena tak punya uang sewa hingga harus berhadapan dengan PP 10/1959 yaitu pemulangan warga Tionghoa ke RRT. Kim Teng lolos dari PP ini dan bisa terus berdagang kopi. Tapi Kim Teng dan juga warga Tionghoa lain berjuang? Ya, itu soal lain yang tak jua menjadikan mereka “diterima” seutuhnya sebagai warga Indonesia.

Kini Kedai Kim Teng dijalankan oleh keturuna ke-3 bernama Harsono, nama Jawa yang disematkan pada pemilik kedai yang menyempatkan menyapa saya di antara kesibukannya meracik ratusan cangkir pagi itu.

“Dari mana?” tanya Pak Harsono ketika melihat saya memotret. Cukup lama saya menjawab soal asal ini. Akhir-akhir ini begitu susah menjawab. Bila menjawab sesuai KTP, maka akan panjang penjelasannya. Sederhana bila menjawab dari Jakarta, hanya entah, di kedai ini, saya tak sampai hati untuk mengatakan bahwa saya datang melalui pesawat dari Jakarta. Ingatan akan pilkada brutal itu menyisip begitu saja ketika terkait dengan Tionghoa.

adanya penjajahan menyebabkan kita tertekan dan senasib sepenanggungan yang mengakibatkan kita lebih menyatukan diri. Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda. “Ayo, Mari kita berjuang melawan penjajah, tunggu apa lagi!” kata Hassan Basri kepada saya dan Tan Teng Hun yang waktu itu sudah menjadi saudagar

Demikian tulis Kim Teng. Mereka meninggalkan kenyamanan sebagai saudagar dan menderita demi sebuah perjuangan dan cintanya pada tanah ini. Tak ada beda. Berbagi seteguk air dan saling melindungi di antara desing peluru. Apakah pada saat itu mereka bertanya, engkau pribumi atau bukan?

“Saya dari Sungai Tapi, Pak. Kawasan Kuantan Sengingi,” jawab saya mengambang. Mengingat kesejukan dan kedamaian aliran sungai di kawasan sepotong hutan yang tersisa, suaka harimau di Rimbang Baling, tempat saya camp terakhir, kemarin malam.

“Oh, saya kira dari Jakarta. Biasanya yang suka motret-motret itu dari Jakarta,” kata Pak Hartono sambil melanjutkan meracik kopi dan saya menghabiskan isi cangkir kopi saya. Cangkir kopi yang sendirian…

Pasar Bawah, Pekanbaru, Riau, 16 Nopember 2017. 09.23 AM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s