Pejalan

Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan.

Ranupani
Ranupani 2015 dalam cat air

Harusnya saya tidur awal malam ini. Hanya tiba-tiba sebuah pertanyaan itu terngiang. Sebuah pertanyaan biasa ketika saya sharing tentang travel journalism atau saya lebih suka mengatakan, menulis catatan perjalanan. Di dua tempat, di waktu yang berbeda, pertanyaannya sama: Apa yang dicari dari sebuah perjalanan dan kapan berhenti?

Saya, pada saat itu, menjawab sangat formal. Bahwa ada banyak hal yang bisa kita tulis. Kita bagikan kepada pembaca yang belum singgah. Saya bercerita tentang bahan tulisan yaitu scene alam, budaya, masyarakat, flora fauna. Tugas saya saat itu memotivasi mereka untuk menulis. Sebuah tujuan yang konkret dan saya rasa terukur. Tetapi apakah saya menjawab dengan jujur? Apa yang saya cari dan kapan berhenti?

Slide ingatan itu berganti-ganti. Entah, mengingat itu semua, rasanya saya mengambang. Perjalanan itu apa? “Saya lebih suka menyebut sebagai peziarah. Pilgrimage,” kata seorang kawan. Bahkan soal definisi apakah diri ini, saya tidak tahu.

Mengingat perjalanan sebulan silam, di sudut Rimbang Baling. Ketika semua alat sudah masuk ke dry bag, sementara tim lain sibuk menutup diri dengan jas hujan, saya membuka jas hujan itu. Ajaib sekali, merasakan hujan turus dengan deras sementara sampan kami dengan mesin hanya 150PK laju. Hujan itu sangat deras yang memutihkan semua. Saya melihat semua menjadi samar, pun batu-batu yang terkadang muncul di tengah sungai. Untuk nahkodanya hapal setiap lekuk tubuh Sungai Subayang ini. Jika tidak, pasti perahu kami kandas sebab batu dan cadas itu samar.

Ketika semua monokrom, saya seperti berada di sebuah tempat baru, tanpa masa lalu dan masa depan yang terkadang menjadikan kekhawatiran. Yang ada hanya sekarang. Merasakan air hujan yang pelan menembus kaus, celana lapangan, sepatu, lalu semua menjadi dingin. Udara yang berdesir di telinga. Semua itu menjadikan saya “hadir” di suatu tempat. Moment yang tak lebih dari 20 menit, hanya saya merasa “berwisata” sejenak. Meski ditutup kekhawatiran seorang kawan, karena saya basah kuyup.

“Saya akan baik-baik saja kalau di hutan. Percayalah,” kata saya menenangkan.

Nusakambangan
Pantai Permisan, Nusakambangan, 2016

Lebih jauh lagi, ingatan itu ketika saya kecil, suka sekali berbaring di atas pasir atau rumput lalu melihat awan. Ibu sampai khawatir, saya “kesambet”. Terkadang bisa menangis dan sedih hanya melihat senja yang keemasan, menyelimuti pohon kelapa. Dulu, desa saya pada masa kecil adalah penghasil nira. Seorang pemanjat nira, bercelana hitam selutut, menggunakan dua bumbung (potongan bambu) yang diikat di pinggang.

Saya suka melihat siluet pemanjat nira itu berlatar senja (setiap sore, nira diambil dan diganti bumbung yang baru). Saya suka mendengarkan bunyi bambu yang beradu ketika pemanjat itu bergerak. Saya kecil suka berlama-lama menikmati itu semua. Moment yang susah saya jelaskan pada kawan sebaya atau pada orang dewasa.

Ketika kuliah, ada ruangan, kami menyebut gedung lama. Sebuah ruang dengan jendela besar menghadap ke arah danau Faperta. Saya suka ketika ada jam kuliah di ruang itu, saya akan memilih dekat jendela. Dari jendela itu, saya bisa melihat flamboyant yang tumbuh di pinggir danau. Jika sedang berbunga, satu demi satu kelopak yang jatuh bisa terlihat dari jendela. Itu pemandangan yang saya suka. Betapa rapuh sebuah keindahan, sebuah kebersamaan.

Seiring waktu, saya bekerja. Ketika menjadi karwayan tetap, saya jarang sekali ke luar kota (ke luar Jakarta). Sebulan belum tentu. Jadi hidup saya saya habiskan di jalanan Jakarta. Melihat jendela bus yang dilumuri hujan, saya bisa tahan menghadapi macet Jakarta. Bahkan kerap kali, saya turun dari bus hanya untuk duduk di bawah tabebuia atau flamboyant di pinggir jalan yang sedang mekar sempurna. Bila tidak sedang buru-buru, saya melakukannya, sendirian.

Ketika kemudian saya menjadi penulis lepas, kesempatan ke luar kota terbuka. Banyak kawan yang memberi kesempatan saya untuk melakukan perjalanan. Akhir-akhir ini tidak sendirian. Satu tim dengan yang memahami hal-hal absurd yang saya pikirkan. Saya tak sendirian. Hanya benarkah kemudian saya tak kesepian? Yang jelas sebuah ketergantungan dan ketakutan akan kesendirian. Sungguh ironi, pejalan takut sendirian?

Tiba-tiba ingat status FB Bang Fidelis Situmorang, tentang kesepian. Saya lupa persisnya. Intinya, orang berpesta, sejenak bahagia, tidak sendirian, lalu pesta dan pertemuan berakhir. Di parkiran, ia kembali sendirian, ia kembali senyap. Di lain hari, berjanji dengan teman yang lain, ngopi, tertawa, lalu kembali lagi ke parkiran, sendirian, dan sepi.

Jadi, kenapa kita harus lari dari sepi? Kenapa tak kita ajak menjadi teman? Kembali ingatan masa kecil itu berkelebat. Ketika saya mendengarkan irama bumbung, melihat siluet pemanjat nira berlatar senja keemasan, saya sendirian. Apakah saya merasa sepi? Tidak.

Bisa jadi, sebuah perjalanan tak pernah akan sama. Ketika ada yang datang, ada yang pergi. Pertemuan sesaat. Seperti indahnya interaksi penumpang di kereta. Mereka bertemu. Menyapa. Sesekali bercerita. Mungkin jika di Orient Express, bercinta.

Bagaimana orang-orang itu bisa berbahagia dengan pertemuan di kereta? Karena tidak dibebani janji untuk bertemu kembali di kelak kemudian hari. Atau teringat pertemuan di masa silam yang membuat kita berharap menghadirkan kembali jika indah. Berharap pada seseorang untuk hadir, tapi toh kita tak bisa mengharap orang berharap seperti harapan kita. Tidak sama sekali. Kesepian hanya milik kita, kedatangan hanya selingan, jadi berhenti berharap maka tak akan kecewa.

Sehingga tidak pernah tinggal pada saat ini, detik ini. Bahkan seorang pejalan juga terjebak pada langkah waktu? Tidakkah lelah?

St. Agustinus menuliskan, dua hal yang menghantui manusia: masa lalu dan masa yang akan datang. Bagaimana keduanya ada kalau masa lalu kini tiada dan masa depan belum mengada? Maka yang “sekarang”, dan seharusnya tak sirna sebagai masa lalu.

Ah, kalimat itu. Bukankah kita ingin waktu berhenti ketika kita berbagi cangkir kopi? Itu mimpi para pejalan. Realitanya, pejalan hidup dari satu meja ke meja berikutnya. Tidak pernah tinggal. Barangkali tidak pernah kembali ke persinggahan sebelumnya.

Jadi kapan akan berhenti? Apakah berhenti itu artinya “pulang”, meletakkan sepatu, dan tas ransel. Lalu duduk di jendela dan tak pernah berkeinginan untuk beranjak?

Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana.

Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Tak ada lagi alasan untuk tinggal, meski perjalanan itu tak lagi punya warna sama. Hanya berbeda tak mesti tak indah, bukan? Keindahan itu ada di hati, saya percaya itu. Berbahagialah.

Nasib melebihi kemulyaan nasib seorang maharaja adalah nasib seorang musafir yang mengakhiri perjalanannya (Ashoka).  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s