Artefak Kebahagiaan di Taman Hiburan Rakyat Surabaya

Keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya, kata Orhan Pamuk. Barangkali tak ada kata untuk membekukan kebahagiaan ketika menyaksikan sebuah panggung yang pernah menghibur, panggung wayang orang Pringgodani.

“Kamu tidak ada rencana kemana?” tanya seorang kawan usai menghadiri acara. Pertemuan ini di luar rencana. Saya sudah menyusun rencana untuk jalan menyusuri Kota Surabaya dan memotret apa saja yang saya temui di sepanjang jalan. Kami (saya dan Mas Sadikin ) pernah melakukan ini ketika di Jakarta. Kami menyebutnya “street photography” dalam arti harfiah. Menyusuri lorong-lorong Jakarta dan memotret “jalan”. Kadang kami melakukannya sendiri. Itu asyik.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” katanya. Kejutan darinya kadang di luar ekspektasi emmm, hanya dari banyak kejutan, kebanyakan memang menyenangkan bagi saya. Dia memahami, bagaimana saya tertarik hal-hal yang sebetulnya aneh juga.
“Kita ke THR,” katanya setelah memasuki pusat perbelanjaan yang catnya terkelupas, terasa lembap, dan namanya kontras dengan kondisi bangunan. Saya tak membahas pusat perbelanjaan itu, karena saya memang bukan anak mall.

Patung dada Gombloh di THR Surabaya

THR, kata itu memberi imajinasi “proletar”. Meski saya juga proletar sih. Saya sudah merasa gimana gitu dengan ajakan ke THR ini sementara ini tahun 2017. Bukan apa-apa, ingatan saya tentang THR adalah Piknik 72-nya NAIF. Begitulah.
“Apa kita akan terhibur ketika ke THR, karena kita rakyat?” Kawan saya tidak menjawab. Semoga tidak kesal dengan pertanyaan saya yang sering mengesalkan.

Begitulah, THR Surabaya, sama seperti bayangan saya, sebuah artefak kebahagian yang lepas dari pusaran zaman. Sebuah kota selalu membutuhkan sudut yang gemulai untuk rehat. THR di beberapa kota dibangun untuk itu. Bahkan lebih jauh lagi, THR ini merupakan monumen yang tersisa dari Politik Etis Belanda untuk memberi tempat warga jajahan menikmati kebahagiaan. Tempat memamerrkan karya lokal pada acara Pasar Tahunan (Jaarmarkt Soerabaia). Kemudian, THR Surabaya dibangun oleh pemerintah pada 19 Mei 1961 seluas 1,6 hekter lebih, menjadi pusat hiburan yang memang menghibur era tahun 1960-1970-an.

Hanya, seperti halnya THR yang lain, THR itu seperti membeku dari waktu, sementara kebahagian manusia tumbuh dan berubah wajah. Ketika saya memasuki gerbang, aroma terabaikan tercium. Patung dada Gombloh yang memandang ke arah pusat perbelanjaan itu tampak murung dan kesepian. Seekor ayam jago menghampirinya. Mereka tidak terdengar bercakap.
“Kenapa Gombloh, aku tidak tahu. Kenapa bukan Cak Durasim atau tokoh kesenian khas Surabaya lainnya,” kata kawan itu.

“Aku akan mengajakmu, nonton ludruk,” kata seorang laki-laki kepada perempuannya yang disambut dengan mata berbinar, merah merona. Mungkin itu ajakan era tahun 1970-an bukti jadian. Panggung ludruk seperti membeku dalam ingatan.

Pandangan saya terpaku pada loket yang ditumbuhi bunga widuri di atapnya. Kacanya buram. Angka Rp 1.000,- Senin-Jumat, RP 2.000,- Sabtu/Minggu sobek dan digerakkan angin. Angka itu tidak berlaku kin, kita bisa bebas masuk.
Di depan loket, saya membayangkan, sekeluarga atau sepasang kekasih bergandengan tangan, “membeli” tiket kebahagiaan yang murah di THR. Mereka bisa duduk-duduk, nonton ludruk dan wayang orang, ngobrol apa saja, saling menatap, tertawa. Siapa yang membutuhkan kini?

Kami bertemu dengan Ning Uci, salah satu pemain ludruk yang tinggal di dalam Gedung Ludruk “Irama Budaya”. Ia mengatakan, besok Sabtu (nanti malam) ia “nandak” (menari), salah satu sesi pementasan ludruk. Tiap Sabtu, jika tidak hujan, mereka masih pentas di gedung itu. “Joke Berek”, lakon nanti malam. Kata kawan, lakon itu tentang Sawunggaling. Saya belum pernah nonton ludruk, kecuali mendengar lawakan Kartolo.

Lakon Joko Berek ditulis di sebuah papan di depan gedung yang tampak lelah. Lukisan seorang penari remong menghiasi dinding. Lukisan dengan proporsi yang tak wajar untuk tubuh, tulisan yang tak rapi, para kritikus akan menyebutnya “kirch”, karya asal jadi seperti patung harimau Cisewu. Saya tak melihat seperti itu. Itu ciri khas mereka dan menunjukkan, tak ada perkembangan.

Panggung itu kosong karena tak ada pentas. Dihiasi sebatang pohon palem yang canggung dan rambatan syngonium tanpa proporsi, hanya sekadar ada tanaman. Masih untuk, tanaman hidup, bukan bunga plastik.

Kursi empuk dengan besi berkarat itu senyap. Gamelan tak bergerak dengan mic menggantung. Mic dan gamelan tentu pertemuan dari lampai dan kekinian. Pada masa kejayaan ludruk, bisa jadi tak perlu mic. Karena udara masih senyap, bunyi lebih nyaring terdengar, dan panggung itu adalah pusat hiburan. Rakyat melontarkan ratusan tawa di kursi ini, pastinya saat itu, ratusan penonton datang setiap pentas. Kini, menurut Ning Uci, tak sampai 20 orang, bisa jadi hanya beberapa orang yang menonton.

Zaman bergerak, kebahagiaan pun punya seribu wajah. Hanya wajah kebahagiaan yang “pro rakyat” tanpa harus merogoh kocek yang dalam, semakin jarang didapatkan. Ketika mic bisa bekerja sama dengan gendang, kenapa THR tak bisa hadir untuk mengisi kebahagiaan kekinian? THR sudah menjadi artefak, menunggu pihak yang punya kekuatan lebih untuk memberi narasi pada zaman yang tertelan oleh keiuhan dan hitung-hitungan.

Terima kasih untuk kawan yang mengajak saya menyusuri bagian senyap kotamu. Kautahu, saya suka melihat wind chimne yang digantung di bawah beringin. Wind chimne dari kaleng rokok itu, indah dan tak meneriakkan angin. Ia menari bersama angin…

Advertisements