Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata … Continue reading Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

oleh Cok Sawitri Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya. Titik Kartitiani, nama ini jika ditulis dapat berbeda makna dengan ketika diucapkan. Begitu pula ketika membaca judul “Perempuan Menjahit Hujan”—kumpulan cerpen dengan isi 16 Cerpen, diterbitkan dengan … Continue reading Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

Nun jauh di pulau-pulau yang hanya menyisakan koordinat, matahari (sel surya) menjadi sumber energi untuk memberi nada dari radio dan televisi yang menyala. Untuk mengubah gulita menjadi cahaya di pulau yang mengapung di perairan Indonesia. Ketika mengunjungi pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia wilayah kerja Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerap kali kita terasa ada di luar NKRI. Hanya suar dan bendera merah … Continue reading Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

Sekeranjang Mimpi Menuju Danau Suci (National Geographic Traveler Indonesia, Juni 2017)

Kameswara, Raja Kediri (1180-1190) melakukan perjalanan suci ke Gunung Semeru dan danau suci Ranu Kumbolo untuk bersemadi. Demikian prasasti Ranu Kumbolo menuliskan. Di danau suci itu saya menemukan anggrek endemik yang mengisi keranjang mimpi. Bunga kecil warna oranye itu menyembul di celah batang cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Batangnya berlekuk kelabu sebagaimana JB. Comber mengabadikan dalam sampul Orchids of Java (1990). Sejak tahun 1999, ketika saya … Continue reading Sekeranjang Mimpi Menuju Danau Suci (National Geographic Traveler Indonesia, Juni 2017)

SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Mata saya berkaca-kaca adalah ketika Mas Seno dan Pak Dakhidae bercerita betapa dekat mereka dengan buku sejak kecil, khususnya buku sastra. Sementara imajinasi saya dipenuhi oleh Majalah Trubus angganan dari kantor bapak. Saya melahap bagaimana budidaya rosella, knaf, dan jute sejak belia alih-alih cerita Old Shatterhand. Realistis, hijau, dan sangat agraris. “Kita kok seperti ronin ya. Menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan saya gigih menawarkan inbox,” … Continue reading SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Wonocolo, Tanah Beraroma Minyak Mentah (Traveloungue, Agustus 2016)

Teks: Prasto Wardoyo/Foto: Titik Kartitiani Dijuluki Little Texas, hanya karena sama-sama sebagai ladang minyak. Tetapi Wonocolo beda. Rig yang menjulang tak terbuat dari menara besi sebagaimana di Texas, tapi dari kayu jati. Tak ada pompa angguk, minyak dipanen dengan sentuhan langsung dari tangan para penambang. Tak ada mesin canggih di sini. Di Jalan conblock yang berkelok itu, hilir mudir rengkek (sepeda motor yang memuat jerigen) … Continue reading Wonocolo, Tanah Beraroma Minyak Mentah (Traveloungue, Agustus 2016)

Kavling Langit (2): Tanah Yang Melahirkan Para Penjelajah

Kamu pernah bercerita tentang tanahmu, Tanah Biru. Tanah yang bersetubuh dengan laut, sifatnya “nyaru” seperti sifat keperkasaan laut. Keperkasaan tanahmu yang begitu memikat, menarik orang-orang-orang bermata biru untuk bertandang. ‘Saya tidak tahu cara menggambarkan dengan pasti. Kamu akan tahu saat berkunjung’. Tanah yang kebiruan. Biru lazuardi. Pernah kautunjukkan sebuah peta di layar smartphone-mu, sebuah tanjung yang mengapung di kebiruan laut. Dilelapkan oleh kemasyuran para pembuat … Continue reading Kavling Langit (2): Tanah Yang Melahirkan Para Penjelajah

Kavling Langit (1)

Aku bukan orang laut dan tak begitu suka dengan laut. Tapi kali ini, aku menemukan laut yang bercerita, laut yang beraroma hasrat. Laut yang kemudian menelan kisahmu. Benarkah laut yang melahirkanmu bisa setega itu untuk melenyapkanmu?Aku dan orang-orang yang menyayangimu mencari jawab.  Aku, yang bukan orang laut, kemudian menjelajah laut tanpa bisa membaca peta gelombang. Demi menemukanmu. Paling tidak, mencari kejelasan tentang dirimu. Mungkin aku … Continue reading Kavling Langit (1)

Lekuk Indah Kuningan (Traveloungue, Maret 2016)

Logam itu dilelehkan pada suhu di atas 1000 derajat Celsius, sebelum menjadi cair, dituang memenuhi cetakan. Kemudian lahir patung-patung keemasan dari keterampilan tangan-tangan perajin kuningan. Teks: Prasto Wardoyo/ Foto: Titik Kartitiani Kilau tubuh Ganesha itu belum sempurna ketika seorang perajin menatahnya, merapikan bagian yang masih kasar usai dikeluarkan dari cetakan. Lekuk, garis, dan ukiran dipahat sedemikian rupa hingga menjadi bentuk yang sempurna. Dewa–Dewa Hindu itu … Continue reading Lekuk Indah Kuningan (Traveloungue, Maret 2016)

Menapak Jejak Wallace di Gunung Gede

Di ketinggian 2.958 mdpl, ketika lutut gemetar dan engkel ngilu, saya memotret sarang angin itu  dan berbahagia menemukannya. Wallace berambisi bertemu dengan bunga pujaannya, Primula imperialis, bunga langka dan indah yang tidak ditemukan di bagian dunia lain kecuali di pucuk gunung Pangrango, tulis Wallace. Saya berbaring di antara semak edelweis itu, mengingat catatan yang usianya sudah lebih dari satu setengah abad, catatan Alfred Russel Wallace, naturalis … Continue reading Menapak Jejak Wallace di Gunung Gede