Pejalan

Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Harusnya saya tidur awal malam ini. Hanya tiba-tiba sebuah pertanyaan itu terngiang. Sebuah pertanyaan biasa ketika saya sharing tentang … Continue reading Pejalan

Suatu Ketika tentang Kabut

Kita hanya duduk saja, dalam kesunyian musim Menunggu kabut yang menuai janji Ia datang mengendap tanpa derap Menyusup di celah bukit, Tubuh cemara yang menggigil oleh ketidaktahuan Bukankah ia kabut yang akrab? Ada apa di balik tubuh kabut? Kamu bertanya Kujawab, ada cahaya yang menautkan kita Bukankah setiap sel diciptakan untuk menjadi pemburu cahaya? Beradu langkah untuk mendapatkan yang paling terang Tapi tahukah, Sayang? Perburuan … Continue reading Suatu Ketika tentang Kabut

Duduk di Kim Teng

Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940) Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus ke sana. Tak jauh dari situ, Jl. Karet namanya, itu pecinan tua di Pekanbaru,” katanya. … Continue reading Duduk di Kim Teng

Balinese Indigenous Wisdom Against Food Paradox

by Titik Kartitiani Ngaben. Thousands of people came, hundreds of tonds of rice during the ceremony cooked, hundreds of pounds of fruits served, dozens of pigs, all food abundance is accompanied by readings this ceremony. Is there any wasted food?     For Balinese, ceremonies such as breathing. Starting to wake up and till to bed again, there’s always the ceremony. Some of them are … Continue reading Balinese Indigenous Wisdom Against Food Paradox

Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata … Continue reading Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

oleh Cok Sawitri Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya. Titik Kartitiani, nama ini jika ditulis dapat berbeda makna dengan ketika diucapkan. Begitu pula ketika membaca judul “Perempuan Menjahit Hujan”—kumpulan cerpen dengan isi 16 Cerpen, diterbitkan dengan … Continue reading Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

Nun jauh di pulau-pulau yang hanya menyisakan koordinat, matahari (sel surya) menjadi sumber energi untuk memberi nada dari radio dan televisi yang menyala. Untuk mengubah gulita menjadi cahaya di pulau yang mengapung di perairan Indonesia. Ketika mengunjungi pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia wilayah kerja Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerap kali kita terasa ada di luar NKRI. Hanya suar dan bendera merah … Continue reading Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

Sekeranjang Mimpi Menuju Danau Suci (National Geographic Traveler Indonesia, Juni 2017)

Kameswara, Raja Kediri (1180-1190) melakukan perjalanan suci ke Gunung Semeru dan danau suci Ranu Kumbolo untuk bersemadi. Demikian prasasti Ranu Kumbolo menuliskan. Di danau suci itu saya menemukan anggrek endemik yang mengisi keranjang mimpi. Bunga kecil warna oranye itu menyembul di celah batang cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Batangnya berlekuk kelabu sebagaimana JB. Comber mengabadikan dalam sampul Orchids of Java (1990). Sejak tahun 1999, ketika saya … Continue reading Sekeranjang Mimpi Menuju Danau Suci (National Geographic Traveler Indonesia, Juni 2017)

SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Mata saya berkaca-kaca adalah ketika Mas Seno dan Pak Dakhidae bercerita betapa dekat mereka dengan buku sejak kecil, khususnya buku sastra. Sementara imajinasi saya dipenuhi oleh Majalah Trubus angganan dari kantor bapak. Saya melahap bagaimana budidaya rosella, knaf, dan jute sejak belia alih-alih cerita Old Shatterhand. Realistis, hijau, dan sangat agraris. “Kita kok seperti ronin ya. Menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan saya gigih menawarkan inbox,” … Continue reading SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Wonocolo, Tanah Beraroma Minyak Mentah (Traveloungue, Agustus 2016)

Teks: Prasto Wardoyo/Foto: Titik Kartitiani Dijuluki Little Texas, hanya karena sama-sama sebagai ladang minyak. Tetapi Wonocolo beda. Rig yang menjulang tak terbuat dari menara besi sebagaimana di Texas, tapi dari kayu jati. Tak ada pompa angguk, minyak dipanen dengan sentuhan langsung dari tangan para penambang. Tak ada mesin canggih di sini. Di Jalan conblock yang berkelok itu, hilir mudir rengkek (sepeda motor yang memuat jerigen) … Continue reading Wonocolo, Tanah Beraroma Minyak Mentah (Traveloungue, Agustus 2016)