Ziarah Negeri Merah

Untuk mereka yang kesepian dan terasing, di rumahnya sendiri. Bagaimana jika keterasingan dan kesendirian adalah kemegahan sebab kita tak harus takluk pada apapun, bahkan pada cinta. Kautahu, Sayangku, penaklukkan pertama bermula dari kata: aku mencintaimu. Dalam diam, saya memandang berdebar pada argo taksi. Angka itu sudah di atas 100 Yuan, saya menunggu jika mendekati angka 150, maka saya putuskan untuk balik. Ini perjalanan nekat. Uang … Continue reading Ziarah Negeri Merah

Saudara dari Sinegal dan Stigma Itu

Namanya “Sinegal”, sebut saja begitu. Sebab ketika saya bertanya namanya, entah mungkin karena logat bahasa saya yang tak dimengerti olehnya, atau memang saya sudah tak punya tenaga sehingga suara saya tak sampai pada desibel yang bisa didengarnya, dia hanya menyebut saya dari Sinegal. Setiap kali bertanya, siapa namamu, dia selalu menjawab dengan Bahasa Indonesia: Kamu cantik sekali. Kalian semua cantik sekali.     Kami bertemu … Continue reading Saudara dari Sinegal dan Stigma Itu

Membicang Isu yang “Tak Seksi”: Jurnalisme Lingkungan

Isu ini tidak “seksi”, tetapi kenapa harus dibicangkan juga? Sebab kita hidup di satu bumi, belum ada Elysium untuk menjadi bumi ke-dua ketika bumi yang kita huni jadi rusak, atau halaman rumah kita tergenang air sebab es di kutub mencair. Berhubungan kah? SK Coffee Lab, Kediri, kembali mengadakan diskusi santai meski yang diobrolkan “berat”, kali ini tentang Jurnalisme Lingkungan. Sebagai pembawa materi Moch. Syifa, jurnalis … Continue reading Membicang Isu yang “Tak Seksi”: Jurnalisme Lingkungan

Rusdi Mathari

Tak ada yang mati hari ini, Ini bukan obituari Tetapi hanyalah sebuah catatan perjalanan Ketika engkau tiba lebih dulu di tempat tujuan Meletakkan rasa sakit yang kausandang di tas punggungmu Dan kegelisahan itu Seperti kawan karib penjaga pusara Tak ada yang mati hari ini, Sebab hadirmu masih akan terus kami baca Sebagai jejak pesona Tentang seseorang yang mencintai apa yang diyakini Keindahan apa yang melebihi … Continue reading Rusdi Mathari

Berdialog dengan Kenangan dalam buku “Perempuan Berkepang Kenangan”

Sastra (dalam hal ini cerpen) tak harus dibebani sebagai muatan. Biarlah ia mempertahankan eksistensinya sebagai ruang antara, antara fakta dan fiksi. Mungkin seperti itu juga kenangan bekerja, entah terbuat dari apa. “Terbuat dari apakah kenangan?” demikian pertanyaan Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerita. Kenangan bisa jadi entitas yang utuh dan sangat personal. Bisa membentuk seseorang sekaligus bisa menghancurkan seseorang di masa kekiniannya. Bagi seorang penulis … Continue reading Berdialog dengan Kenangan dalam buku “Perempuan Berkepang Kenangan”

Tanah Tempat Tumbuh Legenda

Angkap, laki-laki berusia 49 tahun itu menceritakan legenda ikan kutukan Sungai Janiah bukan sebagai dongeng pengantar tidur. Ia ceritakan sebagaimana ia mengisahkan hidupnya, sebuah kenyataan di masa lalu. Kota ini dibangun oleh legenda dan juga benda purbakala, 102km sebelah selatan Kota Padang. Bahkan susah membedakan mana benda purbakala, mana yang hanya legenda. Beribukota di Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar dijuluki sebagai Kota Budaya bagi Sumatera … Continue reading Tanah Tempat Tumbuh Legenda

Pejalan

Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Harusnya saya tidur awal malam ini. Hanya tiba-tiba sebuah pertanyaan itu terngiang. Sebuah pertanyaan biasa ketika saya sharing tentang … Continue reading Pejalan

Duduk di Kim Teng

Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940) Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus ke sana. Tak jauh dari situ, Jl. Karet namanya, itu pecinan tua di Pekanbaru,” katanya. … Continue reading Duduk di Kim Teng

Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata … Continue reading Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Mata saya berkaca-kaca adalah ketika Mas Seno dan Pak Dakhidae bercerita betapa dekat mereka dengan buku sejak kecil, khususnya buku sastra. Sementara imajinasi saya dipenuhi oleh Majalah Trubus angganan dari kantor bapak. Saya melahap bagaimana budidaya rosella, knaf, dan jute sejak belia alih-alih cerita Old Shatterhand. Realistis, hijau, dan sangat agraris. “Kita kok seperti ronin ya. Menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan saya gigih menawarkan inbox,” … Continue reading SGA, Buku, dan Jatuh Cinta