Pejalan

Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Harusnya saya tidur awal malam ini. Hanya tiba-tiba sebuah pertanyaan itu terngiang. Sebuah pertanyaan biasa ketika saya sharing tentang … Continue reading Pejalan

Duduk di Kim Teng

Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940) Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus ke sana. Tak jauh dari situ, Jl. Karet namanya, itu pecinan tua di Pekanbaru,” katanya. … Continue reading Duduk di Kim Teng

Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu trekking, dan meringkasi mimpi. Kain flanel, celana lapangan, gelang prusik di tangan kanan (yang ternyata … Continue reading Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Mata saya berkaca-kaca adalah ketika Mas Seno dan Pak Dakhidae bercerita betapa dekat mereka dengan buku sejak kecil, khususnya buku sastra. Sementara imajinasi saya dipenuhi oleh Majalah Trubus angganan dari kantor bapak. Saya melahap bagaimana budidaya rosella, knaf, dan jute sejak belia alih-alih cerita Old Shatterhand. Realistis, hijau, dan sangat agraris. “Kita kok seperti ronin ya. Menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan saya gigih menawarkan inbox,” … Continue reading SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

Untuk 27 September

Mengingat suatu September, duduk di trek 2054 mdpl. Kabut merambat pelan, memeluk Jobolarangan. Erat. Ketika seekor elang jawa soaring, sayap diam tak mengepak. Ia meniti kabut. Ia sendirian. Ia lepas, bebas, menjadi pengendara angin. Moment itu sangat sebentar, tetapi hingga kini lekat sekali dalam ingatan. Kala itu, kami sedang survei untuk diksar XIV (saya masuk Diksar XIII). Saya jalan dengan Hery Wijayanto (yang dikenal dengan … Continue reading Untuk 27 September

GUBERNUR DKI dan ANAK-ANAK

Lapangan Banteng, 8 Juni 2013 Tahun 2003, saya meliput pembukaan pameran Flona di Lapangan Banteng untuk pertama kali.Saya bisa leluasa motret karena tidak banyak wartawan yang meliput event ini. Kala itu mata saya menghangat gara-gara gubernur dan anak-anak. Dari pagi, anak-anak TK sudah siap, mementaskan drama tentang menanam pohon. Akhir kisahnya, salah satu anak akan menyerahkan pohon ke Pak Gubernur. Begitu skenarionya. Yang terjadi, saat … Continue reading GUBERNUR DKI dan ANAK-ANAK

Mahameru, Gie, dan Sebait Sajak Cinta

Gara-gara Adi, adik tingkat saya di Mapala, mengajak untuk membuat buku soal perjalanan PMPA Kompos, saya jadi mengingat banyak kisah. Ini salah satunya. Semoga saya bisa cukup jujur di sini. Awal September 2000 Beberapa kawan saya sudah lulus, sementara saya malah baru saja diangkat menjadi salah satu ketua bidang di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebenarnya saya sudah malas pada saat itu. Tapi si ketua ini, … Continue reading Mahameru, Gie, dan Sebait Sajak Cinta

Menonton Tobong: Saat Penonton Bisa Mengubah Lakon

Menonton kethoprak tobong pentas ! Sudah menjadi impian saya sejak saya menuliskannya untuk Majalah Intisari tahun 2010 silam. Hanya saja, jadwal panggung dan keberadaan saya di Jogja tidak pernah cocok. Baru awal November silam, keduanya bisa berjodoh. Saya bisa nonton pentas tersebut. Jam 9 malam saya baru sampai hotel yg terletak di dekat Malioboro. Kegiatan hari itu sungguh menyita tenaga, apalagi malam sebelumnya saya begadang … Continue reading Menonton Tobong: Saat Penonton Bisa Mengubah Lakon

Batu Angkek-Angkek di Tanah Tempat Tumbuh Legenda

 Nagari Tanjung- Sungayang, Batusangkar. 15.05 WIB OBJEK WISATA (tourist Objek), BATU ANGKEK2, Tanjung Sungayang. Huruf cat hitam di atas papan berwarna putih yang mulai mengelupas itu menggembirakan bagi saya. Butuh berkali-kali tanya untuk menemukan lokasi ini. Sebentar lagi saya akan melihat kemisteriusan batu angkek-angkek yang diceritakan Feri malam sebelumnya. “Batu itu aneh betul. Wujudnya kecil, tapi berat sekali. Saya hanya bisa mengangkat sampai sebetis saja,” … Continue reading Batu Angkek-Angkek di Tanah Tempat Tumbuh Legenda

Toraja, Setiap Inci Tanahnya Bernapas

Kemarin sore saya buka email dari Mbak Dinny Jusuf, founder Toraja Melo. Katanya singkat: Hello Titik, Danny sedang mengukir tanah lagi! Tengokin ya setahun lagi. Salam dari kampung di atas awan! Hah, kampung di atas awan! Itu rumah Mbak Dinny di Batutomonga, Toraja. Terbayang kembali, hangat kopi toraja yang kami (saya, Risang Yuwono, Anda, Fahmi, dan David Valentino) nikmati senja itu. Sebuah teras yang terletak … Continue reading Toraja, Setiap Inci Tanahnya Bernapas