Kavling Langit (2): Tanah Yang Melahirkan Para Penjelajah

Kamu pernah bercerita tentang tanahmu, Tanah Biru. Tanah yang bersetubuh dengan laut, sifatnya “nyaru” seperti sifat keperkasaan laut. Keperkasaan tanahmu yang begitu memikat, menarik orang-orang-orang bermata biru untuk bertandang. ‘Saya tidak tahu cara menggambarkan dengan pasti. Kamu akan tahu saat berkunjung’. Tanah yang kebiruan. Biru lazuardi. Pernah kautunjukkan sebuah peta di layar smartphone-mu, sebuah tanjung yang mengapung di kebiruan laut. Dilelapkan oleh kemasyuran para pembuat … Continue reading Kavling Langit (2): Tanah Yang Melahirkan Para Penjelajah

Kavling Langit (1)

Aku bukan orang laut dan tak begitu suka dengan laut. Tapi kali ini, aku menemukan laut yang bercerita, laut yang beraroma hasrat. Laut yang kemudian menelan kisahmu. Benarkah laut yang melahirkanmu bisa setega itu untuk melenyapkanmu?Aku dan orang-orang yang menyayangimu mencari jawab.  Aku, yang bukan orang laut, kemudian menjelajah laut tanpa bisa membaca peta gelombang. Demi menemukanmu. Paling tidak, mencari kejelasan tentang dirimu. Mungkin aku … Continue reading Kavling Langit (1)

Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011

Harum bunga melati menyelimuti beranda itu. Senyap. Sekali lagi, lelaki itu menatap wajah lelap di depannya. Wajah perempuannya yang ditemuinya ketika bangun pagi. Mungkin sudah lebih dari 30 atau 40 perjalanan matahari. Dia tidak ingat persis. Dia tidak memerhatikan detail, sebagaimana perempuan itu mampu mengingat berapa helaian rambut yang jatuh di dahi lelakinya. Setiap harinya. Setiap paginya. Mengiringi suara lesung beradu alu. Thuk… thuk…thuk…thuk… Menghentak … Continue reading Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011

Monokrom

Ceritakan padaku tentang warna, katamu padaku. Maka aku pun bercerita tentang rose. The rose is without an explanation: she blooms,because she blooms . Bukan merah, kuning, atau jingga. Tapi warna sedih, warna bahagia, atau warna jatuh cinta. Engkau tak membutuhkan mata yang sempurna untuk mengenalinya. Jika kesempurnaan itu adalah bisa membaca warna di pensil warna. Tapi bagiku, kesempurnaan melihat warna jika bisa menerjemahkan yang tak … Continue reading Monokrom

Dinding Merah Dengan Lukisan Bunga Putih

Tiba – tiba saya menemukan dinding merah itu lagi. Tidak sengaja. Di sebuah pameran lukisan, jauh dari kota kita. Saya tidak menyangka, ada sepotong dinding yang sama persis dengan dinding kamarmu yang pernah menjadi ruang kita. Dinding merah yang kita bikin berdua dengan sisa cat gapura 17 Agustus. Sebenarnya itu kegiatan yang tak masuk akal bagi saya waktu itu. Kamu masih ingat bukan ? Saya … Continue reading Dinding Merah Dengan Lukisan Bunga Putih

Anak-Anak Hujan

Anak – anak hujan itu berlarian adu cepat, berloncatan di antara pucuk pohon sebelum mereka luruh menghantam bumi. Usia mereka hanya beberapa detik bagi waktu manusia. Hanya saja, sesaat adalah abadi * bagi anak-anak hujan yang terlahir dari rahim mendung lantas melintasi separuh angkasa. Menyapa semua rasa yang masih bisa merasa, membisikkan kasih sayang purba bagi hati yang masih bisa merindu. Rindukah dirimu ? “Aku … Continue reading Anak-Anak Hujan

Sadawaning Rel Malang – Jakarta (kababar ing Jayabaya, Februari 2005)

dening: Titik Kartitiani Satria ! Sapa se sing ga kenal dheweke. Ing kalangan aktivis, politikus apa maneh wartawan, kabeh mesthi kenal. Penampilane prasaja, nanging supel. Kahanan dadi sumringah yen ketekan dheweke. Ana ae sing diomongke lan kabeh mesthi isa gawe guyu. Mulane, yen lagi liputan nang lembaga pemerintah utawa DPRD, sing kerep kudu nunggu nganti wektu sing ga isa ditentokake, Satria mesthi diarep – arep. … Continue reading Sadawaning Rel Malang – Jakarta (kababar ing Jayabaya, Februari 2005)

Sayap – Sayap Senyap (dimuat di Pikiran Rakyat, 6 Januari 2013)

Oleh : Titik Kartitiani Angin Jakarta menggoyang daun jambu di depan rumah sederhana, salah satu petak di antara jutaan petak yang berebut ruang. Saya melihat siluet lelaki itu, matanya menerawang melintasi teralis jendela, melewati waktu. Saya mengenalnya. Sangat. Terutama sepasang matanya yang tak pernah menua, tak tunduk pada rupa rambut yang sudah bertaburan benang sari bunga jambu. Mata yang bulat, hitamnya pekat, putihnya bening, kedipnya … Continue reading Sayap – Sayap Senyap (dimuat di Pikiran Rakyat, 6 Januari 2013)

Nada Karat Tembaga

Aku dengar nafas angin terhisap pelan, seperti berbulir – bulir udara menjelmakan wujudnya. Mereka menari dalam bilah diafragma lantas meluncur gemulai dalam serutan notasi. Setubuh nafas mengalir di rahim flute warna tembaga. Pagi pun lahir dengan konser yang sedemikian megah. Udara menjelma tahta di bibir itu. Wajah kelabu itu ada di balik tirai gerimis yang kepagian. Lekat dan dekat. Ada bilur usia melipat kulit mukanya. … Continue reading Nada Karat Tembaga

Potret Sungai di Sebuah Jendela

Senja di Kereta Yogyakarta-Jakarta, Oktober 2013
Senja di Kereta Yogyakarta-Jakarta, Oktober 2013

Aku suka datang ke kafe ini menjelang tengah malam. Lalu mencari tempat duduk paling ujung, dekat jendela yang menghadap ke tubuh sungai.

Dari sini, aku bisa melihat katedral dan masjid terbesar di kotaku berdampingan dengan damai. Dibelah sungai yang nampak berkilau memantulkan lampu merkuri yang tersisa satu dua. Malam memang lihai menyembunyikan keburukan menjadi keromantisan. Sungai yang bau menjadi lebih indah jika dilihat di malam hari. Permukaannya licin dan seksi. Continue reading “Potret Sungai di Sebuah Jendela”